Back To You

Back To You
Chapter 64


__ADS_3

Rafa seolah lupa jika ia telah berulang kali putus dengan pacarnya. Tapi memang Alita berbeda dengan mantan-mantan Rafa lainnya. Alita memang tidak ada duanya, dan kini ia seperti menyesali keputusan untuk mengakhiri hubungannya dengan Alita.


Disisi lain, Rafa tidak ingin melepaskan Alita. Sempat terpikir tidak apalah jika Alita dan Theo dekat, yang penting kan yang berstatus sebagai pacar Alita adalah dirinya. Tapi disisi lain ia juga tidak mungkin terus mengikat Alita jika kekasihnya itu tidak bahagia bersamanya.


Kini sudah hampir sebulan pasca putusnya hubungannya dengan Alita. Rafa menjadi sosok pendiam di rumah, ia juga masih bungkam soal berakhirnya hubungannya dengan Alita. Hal itulah yang membuat Rafa jarang ikut berkumpul dengan keluarganya, meski hanya sekedar nonton TV. Sudah cukup sang mama menanyakan perihal Alita disaat makan malam, ia tidak ingin nama Alita kembali disinggung diwaktu-waktu yang lain.


"Fa? Mama masuk ya?"


Malam itu, mama Salma sengaja ke kamar anak bungsunya dengan membawakan susu hangat dan buah potong. Karena perubahan sikap Rafa yang menjadi sangat pendiam sangat menarik perhatiannya dan sang suami.


Rafa yang sedang bermain game sembari bersandar di headboard ranjang pun langsung mengakhiri kegiatannya. Meletakkan ponselnya di nakas bersebelahan dengan nampan makanan yang dibawa oleh mamanya, Rafa begitu saja merebahkan tubuhnya. Menjadikan paha mamanya sebagai bantalan tidurnya.


"Are you okay? Mama makin penasaran sekarang kamu jadi pendiem banget. Mama ngerasa enggak ada Rafa lagi yang tinggal di rumah ini." Mama Salma mengusap kepala anaknya dengan lembut.


Rafa terkekeh. "Mama lebay banget."


"Jadi enggak mau cerita nih sama Mama?"


Rafa menghela nafasnya, sebelum akhirnya menceritakan semuanya pada sang mama. Tidak semuanya sih, karena Rafa tidak menceritakan secara detail kesalahan yang diperbuatnya. Bisa-bisa nanti sang papa turun langsung untuk menghajarnya.


"Lagian kamu ngapain sih masih berhubungan sama mantan? Ya jelas aja kalo Alita marah, Fa. Apalagi kalo kamu enggak bilang sama Alita, ya wajar aja kalo Alita nganggepnya kamu selingkuh."

__ADS_1


Satu tabokan dari tangan mama Salma baru saja mendarat dengan cukup keras di lengan kanannya. Rafa sedikit meringis, tapi ya sudahlah. Mungkin itu yang dinamakan hukuman tambahan.


"Kirain mama kamu ada masalah apa, sampai jadi pendiem kayak gini." mama Salma mengusapkan tangannya pada rambut Rafa, membuat Rafa memilih untuk memejamkan matanya untuk menikmati usapan sang mama.


"Terus... selama ini kamu tiap keluar itu pergi kemana? Mama kira kamu pergi sama Alita."


"Ya kalo weekend sih ngumpul sama William dan anak-anak yang lain."


"Yang hari biasa? Kamu kan juga sering pergi dihari biasa, berapa kali tuh kamu enggak makan malam di rumah."


Rafa membuka matanya saat akan menjawab pertanyaan mamanya. "Oh, itu... Rafa pergi sama Hanna."


"Hanna? Kamu nyusul dia ke rumah neneknya."


"Jadi... kamu lagi ngedeketin Hanna sekarang?" tanya mama Salma dengan ragu-ragu.


"Ngedeketin gimana sih, Ma? Hanna masih kecil juga." Rafa mengubah posisinya menjadi telentang agar bisa menatap mamanya. "Rafa cuma ngajakin dia makan, kadang sama anterin dia ke toko buku atau kemana gitu pas dia enggak ada yang nganter. Mama tau sendiri kan si Wildan sibuk, om Taufik juga habis sakit."


Mama Salma hanya manggut-manggut. "Ya udah sih, jangan galau lagi. Rumah jadi sepi tau, Fa. Mama kan juga kangen kamu godain terus liat ekspresi cemburunya papa kamu itu."


"Mama enggak ngerasain sih perasaan Rafa gimana."

__ADS_1


"Jadi... anak mama yang playboy ini udah tobat nih?"


Rafa tidak berniat menjawab pertanyaan mama Salma barusan. Seharusnya mamanya itu sudah menyadari jika ia sudah tidak se-playboy dulu setelah berpacaran dengan Alita. Tapi malah mamanya baru menyadarinya sekarang.


Ternyata selama dua tahunan ini Rafa tetaplah playboy dimata keluarganya.


"Kalo udah gini, kamu baru nyesel kan? Tapi ya kamu enggak bisa terus-terusan kayak gini, Fa. Sedih boleh, tapi jangan kelamaan. Biar lupa, mending kamu bantuin papa atau abang aja di kantor. Skripsi kan udah selesai, tinggal nunggu ujian. Lumayan kan dapet gaji buat nambah-nambah tabungan kamu. Itu malah lebih bermanfaat daripada kamu di kamaaaaaar mulu kayak gini."


"Iya deh, Rafa nurut sama Mama."


"Yaudah, besok mama bangunin pagi-pagi ya. Terus mama siapin baju kerjanya."


Rafa langsung mendudukkan diri dan menghadap sang mama. "Enggak besok juga, Ma. Besok Rafa udah janji mau jalan sama Hanna. Dia baru selesai ujian, mau ngajakin ke t*mez*ne buat refreshing."


"Ohh... yaudahlah terserah kamu bisanya kapan. Ntar mama bilangin ke papa."


Rafa mencekal tangan sang mama saat mamanya itu akan beranjak dari tempat tidurnya.


"Mama jangan jadi nyuekin Alita ya? Kan ini salahnya Rafa."


"Hahahaha... aneh-aneh aja kamu. Malah harusnya mama yang nyuekin kamu karena ternyata kamu nakal gitu. Gemes mama sama kamu, dari dulu masalahnya ceweeeeekkk mulu."

__ADS_1


Dan lagi, Rafa mendapatkan hukuman tambahan dari mamanya. Kali ini ia harus merelakan telinganya yang dijewer mamanya. Masih mendinglah, daripada orangtuanya tahu permasalahan yang sebenarnya. Bisa jadi bukan tabokan dan jeweran yang ia terima, wajah gantengnya mungkin menjadi sasaran empuk papanya.


__ADS_2