Back To You

Back To You
Chapter 93


__ADS_3

Seperti yang telah Hanna janjikan sebelumnya, siang ini dia dan Rafa kembali bertemu dengan Alita untuk makan siang bersama. Tentu saja Rafa sangat bersemangat untuk kembali bertemu dengan Alita, ia bahkan meminta Hanna untuk bersiap-siap lebih awal.


Dan disinilah mereka bertiga sekarang, di sebuah restoran tak jauh dari hotel mereka yang menyajikan makanan Skotlandia dan Eropa lainnya. Hanna dan Alita tampak asik bercerita sambil menikmati makan siang mereka, sedangkan Rafa lebih banyak diam. Bukan hanya untuk menikmati makan siangnya, tetapi juga keberadaan Alita di depan matanya.


"Seringlah ajak Rafa kesini, nanti aku akan ajak kalian jalan-jalan keliling Glasgow."


"Kalo kak Rafa kayaknya enggak butuh deh, Kak. Soalnya kan dia udah berbulan-bulan muter-muter Glasgow, sampai hafal tuh belokan kanan atau kirinya disini ada berapa."


Rafa hanya tersenyum kaku lalu menundukkan kepalanya. Ia merasa malu kepada Alita karena beberapa bulan ini dirinya seperti orang tanpa beban yang rela bolak-balik Bristol-Glasgow demi mencarinya.


"Yaudah, kamu aja yang kesini sendiri. Nanti kita jalan-jalan berdua." jawab Alita dengan santai.


"Eh, enggak bisa gitu dong. Gue juga harus ikut, mana bisa Hanna sampai disini sendirian? Kalo ntar ilang atau nyasar gimana?"


"Enggak usah lebay kali, Kak." Hanna menimpali perkataan Rafa dengan malas. "Aku kan bisa baca, bisa komunikasi sama orang sini juga. Enggak akan ada itu kata ilang dinegeri orang."


"Udaaaahhhh... baru semalem aku ngomong sama Rafa kalo kalian akur keliatan kayak kakak adik, eh sekarang malah berantem lagi."


"Kak Alita tau sendiri kan siapa yang suka memancing perdebatan?"


Alita hanya menganggukkan kepalanya sambil tertawa untuk menanggapi pertanyaan Hanna. "Jadi, setelah makan siang ini kalian mau langsung balik ke Bristol?"


Rafa mengangguk. "Jadwal kuliah Hanna besok pagi cukup padat, kasian kalo kemaleman sampai di rumah."

__ADS_1


"Baiklah... mungkin kita bisa ketemu lagi lain kali. Dan... mana hapemu, Han?"


Hanna segera menyodorkan ponselnya kepada Alita. Disana, Alita mengetikkan nomer ponselnya yang baru.


"Kalo kamu minta sama Rafa pasti akan berantem dulu, jadi aku udah simpen nomer hapeku yang baru disini. Nah... nanti kita bisa lanjut ngobrol lewat chat."


"Okeeeee...." Hanna segera menekan nomer yang baru saja Alita simpan diponselnya. "Itu nomer aku, Kak. Belum ganti sih, tapi pasti kak Alita enggak hafal nomerku kan? Jadi, jangan lupa simpan nomerku ya? Biar kalo nanti aku chat atau telpon enggak dikacangin aja."


"Hahahhaha... siiiaaappp...."


Seperti biasa, Rafa selalu menyukai interaksi antara Hanna dan Alita. Keduanya memang selalu asik sendiri saat sedang ngobrol berdua, bahkan sampai melupakan keberadaannya.


Apalagi setelah badai yang mendera hubungannya dengan Alita, dan juga menghilangnya Alita beberapa bulan terakhir ini, kini Rafa lebih memilih untuk mengamati Alita dalam diam. Menyimpan setiap senyuman dan wajah ceria Alita dalam ingatan. Sebelum akhirnya mereka harus kembali dipisahkan oleh jarak.


Sepeninggal mereka dari restoran tadi, mobil yang dikendarai Rafa dan Hanna melaju ke sebuah gedung. Bukan gedung apartemen tempat tinggal Alita, melainkan gedung tempat Alita kursus melukis setiap hari Minggu.


Sebenarnya, Rafa merasa kesal karena Alita masih belum mau mengatakan dimana tempat tinggalnya. Tapi Rafa pikir, Alita pastilah membutuhkan waktu untuk kembali menerima kehadirannya. Apalagi dengan acara pertemuan yang tergolong dadakan ini.


Tapi selain hal itu, ternyata ada satu hal lagi yang membuat Rafa menghela nafas berkali-kali sejak di restoran. Sesuatu yang entah kenapa mengganggu pikirannya, dan membuatnya merasa tidak suka.


"Han...." Rafa akhirnya buka suara lebih dulu setelah sejam yang lalu mobil mereka meninggalkan Glasgow.


"Hm?" Hanna yang sejak tadi asik bertukar pesan dengan Eleanor langsung mengalihkan pandangannya dari ponselnya.

__ADS_1


"Cincin lo kemana?"


"Oh...." Hanna memandangi jari manisnya yang kini polosan tanpa ada cincin nikah yang melingkar disana.


"Aku lepas pas mau mandi tadi." Hanna menjawabnya dengan santai, bahkan kini tangannya merogoh ke saku tas bagian dalamnya untuk mengambil cincinnya.


"Kenapa dicopot?" Rafa masih berbicara dengan nada bicara yang cukup ketus. Apalagi ketika Hanna memilih untuk kembali memasukkan cincin itu ke tas daripada memakainya kembali.


"Emang kak Rafa bilang ke kak Alita kalo status kita ini suami istri? Enggak kan?"


Rafa terdiam. Memang benar apa yang Hanna katakan, ia bahkan telah membohongi Alita semalam.


"Kak Rafa emang enggak pake cincin nikah sejak awal, jadi enggak masalah. Tapi kak Alita pasti akan langsung bertanya-tanya kalo ngeliat aku pake cincin itu."


"Terus... kenapa sekarang enggak lo pakai lagi?"


Hanna kembali memandangi jari manisnya, memandangi bekas cincin yang melingkar disana.


"Kayaknya aku juga enggak mau pakai cincin itu lagi? Kalo aku pakai cincin itu, pasti banyak orang yang tau kalo aku udah nikah. Terus ntar enggak ada cowok yang mau deket sama aku, repot juga kan nanti? Hehehehe...."


Hampir saja Rafa menginjak rem-nya, dan mungkin akan menyebabkan kecelakaan karena terseruduk mobil dibelakangnya. Lalu lintas Edinburg cukup ramai siang ini, dan beruntungnya Rafa masih dapat mengontrol dirinya.


"Tapi kan elo emang dalam status nikah, Han."

__ADS_1


"Iya, emang. Lagian kak Rafa juga dari awal enggak mau pakai cincin nikah juga enggak ada yang mempermasalahkan, kenapa sekarang aku dimasalahin kalo enggak mau pakai? Pernikahan ini kan cuma status, kak. Kita enggak dalam hubungan pernikahan yang sesungguhnya kan? Jadi... kayaknya enggak masalah kalo mulai sekarang aku lepas cincin nikahnya."


__ADS_2