Back To You

Back To You
Chapter 119


__ADS_3

"Papa... minta maaf atas kejadian beberapa hari yang lalu. Maaf juga karena papa tidak bertanya padamu lebih dulu mengenai... perpisahan kalian."


Sekarang ini, Hanna tengah bertemu dengan kedua mertuanya. Disebuah hotel yang letaknya tidak jauh dari rumah mereka. Hotel yang tiga kamarnya telah dibooking oleh mama Salma jauh-jauh hari karena ingin liburan bersama keluarganya, dan juga merayakan ulang tahun Rafa.


"Mungkin ada baiknya kita ke rumah sakit dulu untuk melakukan pemeriksaan. Rafa bilang kan... kalian sempat berhubungan, jadi... mungkin saja kamu sedang hamil sekarang." imbuh papa Adit yang kali ini nada bicaranya sedikit canggung.


Hanna terkejut lantaran ayah mertuanya ini percaya dengan apa yang dikatakan oleh Rafa. "Itu...."


"Mama akan temani kamu periksa, Han. Kamu enggak perlu takut. Siapa tau kamu memang sudah hamil, dulu mama hamil juga enggak bergejalan mual muntah. Eowyn juga sama, kamu mungkin juga begitu." Mama Salma terlihat begitu bersemangat, mungkin karena sudah membayangkan akan mendapat dua cucu ditahun ini.


"Jika kamu sedang mengandung, papa juga enggak akan bisa memaksamu untuk berpisah dengan Rafa. Mungkin setelah melahirkan nanti, kamu bisa memutuskan bagaimana hubungan kalian ke depannya."


"Bukan begitu, Ma... Pa.... Hanna beneran enggak hamil, Hanna bisa pastikan itu."


"Kamu... udah ngecek?" Tanya mama Salma yang kemudian diangguki oleh Hanna.


Tentu saja Hanna berbohong soal pengecekan, tapi Hanna mengatakan yang sebenarnya jika dirinya memang tidak hamil. Kejadian sore itu bahkan tidak bisa disebut sebagai berhubungan badan, mana bisa dirinya hamil anak Rafa?


"Kalo... mama dan papa enggak percaya, Hanna akan beli testpack sekarang dan membuktikannya."

__ADS_1


"Tidak perlu, Han." Papa Adit langsung menolak, diikuti dengan wajah kecewa mama Salma yang duduk di sebelahnya.


"Kami percaya kepadamu. Apapun rencanamu dan Rafa saat menyetujui untuk melakukan pernikahan ini, papa minta untuk dihentikan sekarang juga. Kalo memang kamu dan Rafa sama-sama memiliki perasaan satu sama lain, dan masih ingin bersama, papa enggak akan maksa kalian untuk berpisah. Kalian bisa memulai semuanya dari awal, dan membina rumah tangga sebagaimana mestinya. Tapi... semuanya papa serahkan kepadamu. Kalo kamu tetap ingin berpisah dari Rafa meskipun dia tidak mau, kalian tetap akan berpisah."


Hanna terdiam beberapa saat. Seharusnya ini adalah pilihan yang mudah, ia juga telah mengatakan kepada Rafa jika sebaiknya mereka berpisah saja. Tapi entah kenapa kini hati Hanna mulai meragu.


"Hanna... mau pisah aja sama kak Rafa." Jawab Hanna sambil menunduk dan jemarinya yang saling bertaut.


"Hanna... kamu enggak perlu menjawabnya sekarang. Mungkin kamu bisa pikirkan terlebih dulu, ini semua memang terlalu cepat dan kamu enggak punya waktu untuk memikirkannya."


"Hanna udah yakin, Ma. Selama Hanna pindah ke apartemen, Hanna udah yakin kalo sebaiknya Hanna dan kak Rafa pisah aja."


"Tapi sejak kecil kan kalian sering barengan, Han. Rafa memang usil, tapi sebenarnya dia anak yang baik. Tolong beri Rafa kesempatan ya? Kamu mau kan?" Mama Salma memohon kepada Hanna dengan mata yang berkaca-kaca.


"Tapi, mas-"


"Kita juga enggak bisa maksain Hanna, Sal. Jangan cuma karena kamu ngebelain Rafa, tapi malah mengorbankan Hanna dan membuatnya semakin menderita hidup bersama Rafa. Kalau mereka berjodoh, nanti juga bakal balik lagi kan?"


Mama Salma menghela nafasnya, mau tidak mau harus menerima keputusan yang telah diambil oleh Hanna. Mama Salma juga tidak ingin hubungannya dengan Widya akan menjadi memburuk hanya karena usahanya untuk menyatukan Rafa dan Hanna lagi.

__ADS_1


"Kalo memang itu keputusanmu, papa akan membantu mengurus perceraian kalian. Untuk kuliahmu disini, kamu enggak usah khawatir. Papa yang akan tanggung semuanya. Dan juga-"


"I-itu... enggak perlu, Pa. Hanna akan pikirkan itu sendiri. Mama dan Papa enggak perlu repot seperti ini."


"Tidak, Han. Kami sudah bicarakan ini semua dengan bunda kamu dan juga Wildan. Kami udah berhasil meyakinkan mereka tentang biaya dan kebutuhan kuliahmu disini. Rayyan yang akan mengurus semuanya, jadi kamu jangan sungkan untuk menghubungi Rayyan dan memberikan rincian biayanya."


"Tapi, Pa-"


"Hanna, apa yang kami lakukan sekarang enggak akan sebanding untuk menebus segala kesalahan yang telah Rafa perbuat. Meskipun kamu juga turut andil dalam persetujuan pernikahan bohongan ini, tapi Rafa memiliki kesalahan yang begitu banyak kepadamu. Cuma ini yang bisa kami lakukan untuk memenuhi janji kepada ayahmu."


Hanna menundukkan kepalanya. Mendengar ayahnya disebut dadanya terasa begitu sesak. Ingin rasanya ia pulang sekarang dan mengunjungi makam ayahnya, untuk menumpahkan segala perasaannya dan juga meminta maaf pada ayahnya.


"Terima kasih banyak, Ma... Pa... Maaf jika selama ini Hanna begitu banyak salah dan merepotkan kalian."


"Enggak, Han. Kamu udah seperti anak kami." Mama Salma berpindah duduk disebelah Hanna, dan keduanya pun saling berpelukan. Bahkan sama-sama tidak bisa membendung air matanya.


"Jika urusan perceraian kalian telah selesai, Widya dan Wildan akan kesini untuk mengunjungimu. Nanti akan Papa kabarin kamu."


Hanna menganggukkan kepalanya, lalu berpamitan untuk pulang. Mungkin juga, ini sebagai salam perpisahan karena ia tak akan lagi menyandang status sebagai menantu papa Adit dan mama Salma.

__ADS_1


"Rafa... ada di kamar depan ini. Mungkin kamu ingin mampir dan kalian bisa mengakhiri hubungan ini dengan baik-baik." Ucap mama Salma dengan lirih saat mengantarkan Hanna hingga pintu kamar mereka.


Hanna menoleh ke arah pintu tempat Rafa kini sedang berada seperti kata mama Salma. Hanna terdiam beberapa saat sembari berpikir, haruskah ia menemui Rafa untuk terakhir kalinya?


__ADS_2