Back To You

Back To You
Chapter 55


__ADS_3

Berpindah diri merebahkan tubuhnya di sofa, Rafa memandangi ponselnya yang beberapa hari ini sepi tanpa pesan dari Alita. Jika sebelumnya ia selalu bersemangat saat bertukar pesan dengan Alita, kini ia malah bersemangat setiap denting notifikasi ponselnya terdengar. Bahkan saat tidur pun matanya bisa otomatis terbuka, berharap pesan yang masuk berasal dari Alita. Bukan pesan dari operator atau penipuan yang meminta transferan uang darinya.


Rafa memandangi foto-foto digalerinya. Hampir seluruhnya berisi foto-foto kebersamaannya dengan Alita. Rasa rindunya akan Alita sudah sampai pada level maksimal. Bahkan untuk mendengar suara Alita pun ia menyetel ulang semua video yang berisikan Alita. Rafa benar-benar merindukan Alita-nya. Tapi tidak ada yang bisa diperbuatnya selain menunggu sampai Alita siap untuk bertemu dengannya.


"Fa...." panggil Eowyn yang berada diambang pintu kamarnya.


"Apaan? Gue capek ah!"


"Yeeee... belum juga gue ngomong ada apa, udah bilang capek duluan."


"Gue tau, kakak mau minta tolong kan?"


"Iya, tapi enggak bikin capek kok. Tolong tanyain Alita dong, waktu itu dia beli gaun yang buat diacara lamaran Abang dimana? Gue pengen ke butiknya."


Rafa terdiam. Mungkin ini jadi jalan baginya untuk berkomunikasi dengan Alita, atau bahkan mengobati kerinduannya dengan mendengarkan suara Alita. Semoga saja Alita-nya bersedia untuk mengangkat panggilannya nanti.


"Fa! Kenapa lo? Kesambet?" tanya Eowyn yang penasaran dengan Rafa yang tidak nampak seperti biasanya.


"Iya, ntar gue tanyain. Gue mau mandi dulu."


Rafa beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi. Mungkin ia harus mandi terlebih dahulu, karena dia telah memutuskan untuk menghubungi Alita dengan sambungan video call. Jadi ia harus terlihat rapi, tidak kusut seperti sekarang ini.


......................


Rafa kembali mendesah saat panggilan videonya kembali ditolak oleh Alita. Baru empat kali percobaan dan Rafa sudah langsung putus asa. Bisa dibilang ini adalah kemarahan pertama Alita kepadanya, dan langsung sebesar ini marahnya.

__ADS_1


Rafa kembali memandangi foto profil Alita. Foto itu masih belum terganti, memasang kemesraan mereka saat ulang tahun Alita beberapa hari yang lalu. Padahal saat itu Alita nampak sangat bahagia, namun entah mengapa kondisinya langsung berubah drastis dipagi harinya.


Dering ponselnya membuat Rafa terlonjak dari lamunannya. Berharap itu panggilan telepon dari Alita, tapi ternyata bukan.


"Hm. Kenapa?" ucap Rafa saat menjawab panggilan telepon itu.


"Sinis amat, lagi PMS?" cibir penelpon diseberang sana.


"Berisik lo ah! Ada apa? Katanya enggak bakal telpon gue. Kangen ya?" goda Rafa sambil terkekeh.


"Iiiihhh... ogah banget! Aku disuruh Bunda bilang ke kak Rafa, besok kalo habis ngampus disuruh mampir ke rumah dulu. Ada titipan dari Bunda buat Tante Salma."


"Yaelah, bocil! Lo WA gue kan juga bisa, gue lagi nunggu telpon penting ini."


"Disuruhnya Bunda nyampeiinnya cepet, sampai ditungguin Bunda ini disebelah. Yaudah, aku matiin telponnya."


......................


Alita masih menimang pilihannya untuk menelpon Rafa. Dirinya telah siap untuk bertemu dan berbicara dengan Rafa, tapi ada sedikit ketakutan yang melandanya. Alita takut untuk mendengar penjelasan dari Rafa. Alita takut jika pengakuan Rafa akan semakin menyakiti hatinya.


Tapi Alita tidak memiliki pilihan lain, ia harus segera mengakhiri keterdiamannya. Rafa mungkin belum mengetahui penyebab kemarahannya. Hal itu terbukti dengan kata-kata Rafa pada setiap pesan singkat yang dikirimkan Rafa untuknya.


Menarik nafas dalam-dalam, Alita mencoba mengumpulkan kekuatannya untuk menghubungi Rafa. Jemarinya bergetar saat akan menekan tombol untuk menghubungi lelaki yang masih berstatus kekasihnya itu.


"Sayang?"

__ADS_1


Panggilan Rafa saat mengangkat telponnya ternyata langsung memporak-porandakan hati Alita. Suara yang ia rindukan beberapa hari ini, tapi Alita tidak boleh lemah begitu saja. Mencoba mengingat potongan adegan dari video kekasihnya itu, Alita mencoba untuk membuka suaranya.


"Aku ingin ke pantai. Besok siang."


Meskipun sepertinya Rafa kebingungan, tapi lelaki itu tidak bisa berbuat apa-apa selain mengiyakan keinginan Alita.


"Uhm... pantai ya? Oke-oke, sayang. Besok... mau aku jemput jam berapa?" tanya Rafa dengan hati-hati.


"Aku bisa kesana sendiri. Nanti akan aku kirim lokasinya."


Rafa terdiam sejenak, sebelum akhirnya menyuarakan pendapatnya yang terdengar bijaksana itu.


"Kita ke pantai untuk menyelesaikan masalah kita. Hanya ada kita berdua, sayang. Jangan libatkan pak Maman untuk nganterin kamu kesana, karena kalo dia tau kita berantem pasti enggak enak. Dan aku enggak akan kasih ijin ke kamu untuk nyetir sendirian, jaraknya terlalu jauh."


"Aku enggak butuh ijin dari kamu."


"Sayang, please. Sekali ini aja jangan keras kepala. Pokoknya besok aku akan jemput kamu, kamu tinggal kasih tau aja waktunya."


Kini giliran Alita yang terdiam, memikirkan kapan kira-kira waktu yang tepat untuk dijemput Rafa. "Oke, setelah makan siang. Aku tutup tel-"


"Soal kak Eowyn." Rafa langsung menyela dengan cepat sebelum Alita mematikan panggilan teleponnya. "Kak Eowyn tanya dimana butik tempat kamu beli gaun untuk lamaran Abang kemarin."


"Aku akan kirim lewat chat."


Tanpa menunggu jawaban dari Rafa, Alita begitu saja mematikan panggilannya. Ia lantas mengetikkan lokasi butik yang ditanyakan oleh Eowyn.

__ADS_1


Entah kenapa menelpon Rafa kali ini terasa berat. Alita bahkan langsung merebahkan tubuhnya di kasur dan memeluk bantalnya. Air matanya kembali mengalir, membayangkan kemungkinan besok hubungannya dengan Rafa akan berakhir.


__ADS_2