
Rafa telah bersiap untuk acara lamaran dadakannya siang ini. Setelah seharian kemarin ia sukses membuat keluarganya dan juga keluarga Hanna menjadi kalang kabut, kini segala persiapannya telah selesai. Mengenakan kemeja batik lengan panjang, Rafa telah bersiap untuk melamar Hanna.
Meskipun ia merasa tidak mencintai Hanna, tetapi moment lamaran ini membuat jantung Rafa berdetak tak karuan. Bahkan semalam ia kembali tidak dapat tidur dengan nyenyak. Meskipun ia yakin dengan keputusan yang telah diambilnya, namun tetap saja ada perasaan yang mengganjal dalam hatinya.
Tok... Tok.....
Suara ketukan di pintu kamarnya membuat Rafa yang tengah mengenakan jam tangan itu menoleh. Rayyan telah berdiri di ambang pintu. Abangnya pun juga telah rapi dengan mengenakan kemeja batik yang bermotif sama dengan istrinya.
"Udah siap?" tanya Rafa sambil berjalan mendekati Rafa yang tengah duduk di pinggiran ranjang.
Rafa mengangguk, degup jantungnya kian berdetak kencang saat abangnya kini telah duduk disampingnya. Rafa merapalkan doa agar abangnya tidak memborbardirnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkannya. Karena bagi Rafa, Rayyan sama menakutkannya dengan papanya.
"Gue baru kali ini liat wajah lo tegang begini." ucap Rayyan sambil terkekeh dan menepuk bahu adik bungsunya itu.
"Kalo kesini cuma ngeledek, mending keluar aja deh, Bang."
"Hahahaha... sorry-sorry. Gue lupa kalo calon pengantin itu biasanya jadi sensian."
"Abby mana?" tanya Rafa mencoba mengalihkan pembicaraan Rayyan yang entah akan menuju ke arah mana, tapi Rafa sudah takut duluan.
__ADS_1
"Di taman belakang, lagi naik ayunan sama Papa."
Rafa hanya menganggukkan kepalanya tanpa berniat menimpali perkataan abangnya.
"Gue tau elo sekarang udah berubah. Lo udah enggak gonta-ganti pacar lagi, lo enggak jahil lagi, dan lo jadi pekerja keras. Itu perubahan yang bagus, itu tandanya lo udah makin dewasa lagi sekarang."
"Umur gue juga nambah mulu, Bang. Repot juga gue ntar kalo diumur segini masih tengil kayak dulu."
"Jujur, gue kaget banget kemarin pas lo bilang mau nikah. Terlebih calon istri yang lo pilih itu Hanna, padahal dari dulu gue udah nyimpen tenaga buat ngehajar elo."
"Gue salah apa lagi, Bang?" Raut wajah Rafa berubah menjadi panik.
"Cih, adik sendiri aja disuudzonin."
"Hahahaha... tapi kan ternyata itu semua enggak kejadian. By the way, lo dadakan mau nikah sama Hanna itu karena lo pengen nemenin dia kuliah di UK kan? Bukan karena Hanna udah...." Rayyan sengaja menggantung kalimatnya, dia lantas memberikan isyarat jika mungkin Hanna sudah hamil terlebih dulu.
"Abang yaaaa... bisa-bisanya mikir kayak gitu!" Rafa dengan sengaja menyikut perut abangnya sebagai pelampiasan kemarahannya. "Gue emang nakal, Bang, suka gonta-ganti cewek. Tapi gue enggak pernah ya sampai nidurin cewek gitu. Apalagi Hanna baru lulus SMA, Bang. Gila aja gue nidurin anak SMA. Abang tanya aja noh Hanna."
"Iya-iya, gue percaya." Rayyan menepuk-nepuk bahu adiknya. "Gue kesini mau ngasih tau kado pernikahan gue buat kalian. Karena gue yakin pernikahan kalian itu enggak lama lagi, jadi gue pikir kadonya bakal gue kasih sekarang aja."
__ADS_1
"Wiihhh... gaya bener udah ngasih kado pernikahan duluan. Padahal gue yang mau nikah aja belum tau nikahnya kapan."
"Kado gue gede, trus juga butuh proses buat berbagai macam halnya."
"Apaan tuh? Awas aja kalo kadonya engga bermutu." Rafa mengancam, namun saat itu juga ia langsung mendapat hadiah sebuah pukulan dilengannya.
"Lo itu yang enggak bermutu!" Rayyan gantian nyolot kepada Rafa. "Gue mau beliin rumah atau apartemen gitu buat tempat kalian tinggal di Bristol, yang deket-deket kampus Hanna. Tapi yang kecil, harga rumah disana mahal. Gue aja enggak punya rumab disana, tapi malah ngebeliin elo. Baik kan gue?"
"Wooo... jelaslah! Udah ganteng, banyak duit, baik bangey pula. Papanya Abby ini emang the best-lah pokoknya."
"Tapi janji sama gue." Kali ini tatapan abangnya berubah menjadi serius, membuat Rafa menahan nafasnya untuk beberapa detik.
"Lo tau kan keluarga kita sama keluarga Hanna itu deket banget karena orangtua Hanna adalah temen deket mama waktu kuliah dulu? Jadi gue minta lo harus bener-bener jagain Hanna dengan baik. Hanna mungkin bakal kesusahan beradaptasi karena nikah muda, tapi lo harus bantu dia. Jangan sekali-kali lo sakitin dia, karena itu bukan hanya ngelukai Hanna dan keluarganya, tapi juga bakal nyakitin mama."
Rafa terdiam, seolah menerawang apa yang akan bagaimana jika perkataan yang baru diucapkan abangnya benar-benar terjadi. Ia bahkan sampai tidak menyadari jika kini abangnya telah melangkah keluar dari kamarnya.
Oke, untuk hal ini memang tidak terpikirkan olehnya. Membayangkan mamanya bakal terluka jika ia menyakiti Hanna langsung membuatnya merasa menyesali keputusan yang telah diambilnya. Tapi dengan membatalkan acara lamaran yang sebentar lagi akan terlaksana tentu akan membuat orangtuanya murka dan malu.
Menarik nafas dalam-dalam, Rafa sedang mencoba menyakinkan dirinya jika semuanya akan baik-baik saja. Ia hanya perlu mencari jalan agar tidak melukai Hanna dan juga mamanya.
__ADS_1
"Maaf, Ma." ucap Rafa dengan lirih.