Back To You

Back To You
Chapter 92


__ADS_3

Tanpa mau membuang waktu lagi, Rafa segera melapaskan tangan Hanna yang masih meremas lengannya. Dengan langkah besarnya, Rafa berjalan ke arah Alita. Dan tentu saja membuat Alita dan teman-temannya langsung menghentikan langkahnya.


"Alita!" gumam Rafa dengan lirih sebelum akhirnya memeluk Alita dengan eratnya. Mengabaikan pandangan teman-teman Alita dan pengunjung lainnya, bahkan Hanna yang berdiri tak jauh dari tempat Rafa memeluk Alita.


Alita terkesiap, tidak menyangka jika Rafa akan memeluknya seperti ini. Terlebih lagi, Alita juga tidak menyangka jika Rafa akan berada disini, dan menemukannya.


"Rafa..." Alita mengurai pelukan Rafa.


Keduanya bertatapan dengan canggung, tidak tahu harus bagaimana memulai percakapan sekarang ini. Hingga akhirnya Hanna mendekat, mengalihkan perhatian Alita dan tentu saja mencairkan suasana.


"Kak Alita." seru Hanna sambil berlari kecil ke arah Alita dan keduanya pun langsung berpelukan.


"Akhirnya ketemu juga! Kami udah pusing nyariin kak Alita keliling Glasgow." imbuh Hanna.


"Ah, benarkah?" Alita masih tampak canggung. Apalagi dengan sorot mata Rafa yang sedari tadi menatapnya.


"Kita bisa cerita-cerita nanti. Ayo, sekarang kita harus cepetan masuk karena konsernya udah mau dimulai. Temen-temen kak Alita juga udah nungguin tuh." Hanna kembali bersuara, sembari menggandeng lengan Alita untuk mengajaknya segera masuk ke dalam gedung konser.


Alita menengok ke arah teman-temannya yang berdiri tak jauh darinya. Keempat temannya itu tersenyum ke arahnya, lalu memberi kode untuk segera masuk ke dalam dan menikmati konsernya


......................

__ADS_1


Pertunjukan musik itu berlangsung selama sembilan puluh menit, dan selama sembilan puluh menit itu pula ada tiga orang yang tidak benar-benar menikmati konsernya. Rafa dan Hanna beruntung mendapatkan nomer kursi di deretan depan, jadi Rafa dengan mudahnya meminta dua orang disebelah kursi Alita untuk bertukar duduk dengannya.


Selama konser berlangsung, Rafa tak henti-hentinya menoleh ke arah Alita yang duduk persis di sebelah kirinya. Tidak peduli bagaimana Hanna yang tepat duduk disebelah kanannya merasa diabaikan olehnya sejak bertemu dengan Alita tadi.


Setelah bercakap dengan teman-temannya, Alita memutuskan untuk tidak bergabung dengan teman-temannya yang akan pergi ke sebuah kafe. Tentu dia merasa tidak enak kepada Rafa dan juga Hanna jika dia langsung pergi meninggalkan mereka selepas konser berakhir.


"Kalian... mau langsung pulang atau kita ke kafe depan dulu sebentar?" tanya Alita.


Berbeda dengan Rafa yang tentunya tidak ingin langsung berpisah dengan Alita, Hanna justru tidak demikian. Gadis itu membuat pilihannya sendiri yang membuat Rafa kini menatapnya, setelah dari terabaikan dari pandangannya.


"Kayaknya aku balik ke hotel aja deh ya, kak Rafa sama kak Alita kalo mau ke kafe dulu enggak apa-apa. Aku... ngerasa capek banget, pengen istirahat. Mungkin next time kita bisa ngobrol banyak, kak."


"Elo... berani balik sendirian ke hotel?"


Rafa mengangguk, memang benar apa yang Hanna katakan barusan. Beberapa bulan ini memang memang Hanna selalu kemana-mana tanpa dirinya, karena ia terlalu sibuk untuk mencari keberadaan Alita.


"Atau kita cari kafe deket hotel kalian aja. Ada beberapa kafe kok disana?"


Ide Alita barusan pun langsung ditolak oleh Hanna, yang kemudian membuat Alita mau tidak mau mengijinkan Hanna untuk kembali ke hotel dan beristirahat. Sedangkan dirinya akan menghabiskan sisa waktu di Sabtu malam ini bersama Rafa.


......................

__ADS_1


"Jadi tas dan hape-mu hilang?" Rafa mengulangi kalimat yang baru saja terlontar dari bibir Alita.


Keduanya kini berada di sebuah kafe yang menyajikan makanan Italia, letaknya tak jauh dari gedung konser tadi. Setelah memesan beberapa menu untuk teman ngobrol mereka, barulah Alita bercerita panjang lebar tentang alasannya 'menghilang'.


"Iya. Dan aku pikir mungkin emang ini saatnya untuk memulai hidup baru tanpa bayang-bayang masa lalu. Makanya aku putuskan untuk enggak pakai media sosial lagi dan berganti dengan nomer yang baru."


"Buat ngehindarin aku?" tanya Rafa dengan raut wajah yang tampak kesal dengan alasan Alita barusan.


"Bukan cuma kamu, Theo dan lainnya juga. Aku cuma ingin jadi Alita yang dulu, Fa. Alita yang cuma ngerti hang out kesana-kemari tanpa kepikiran soal patah hati dan hal lainnya."


"Dan akhirnya kamu berhasil?"


Alita menganggukkan kepalanya. "Hm, kayak yang kamu liat sekarang. Aku udah bisa berdamai dengan hati dan diriku sendiri, makanya sekarang aku bisa sesantai ini untuk ketemu dengan kamu."


Rafa tersenyum miris, masih tidak percaya jika ternyata dirinya semenyakitkan itu bagi Alita hingga harus dihindari. Seolah berada didekatnya hanya akan semakin menyiksa Alita, hingga akhirnya mantan kekasihnya ini memilih untuk ikut kakaknya tinggal di Glasgow.


"Jadi, kamu dan Hanna kuliah bareng disini? Atau gimana? Selama menghilang aku bener-bener enggak tau kabar dari siapa pun selain dari keluargaku, bahkan soal William pun aku juga enggak tau gimana keadaannya sekarang."


"Oh, itu...." Rafa menjeda perkataannya, mencoba mencari susunan kata yang akan ia ucapkan untuk menjawab pertanyaan Alita.


"Iya, Hanna dapat beasiswa untuk kuliah di Universitas Bristol. Dan... kebetulan aku juga lanjut kuliah disana, ya... jadi kita kesini bareng untuk kuliah."

__ADS_1


"Aku seneng akhirnya bisa ngeliat kalian akur tanpa sering berantem kayak dulu lagi, kalian beneran udah kayak adik kakak." ucap Alita dengan senyum merekah dibibirnya.


Rafa memaksakan sebuah senyuman untuk terbit diwajahnya, meskipun sebenarnya ia merasa resah sejak pengakuan bohongnya terucap tadi. Sebab ia tahu bahwa kini ia telah salah dalam mengambil langkah lagi.


__ADS_2