
Dua hari adalah waktu yang lama bagi Rafa dalam ketidakpastian ini. Dihari ketiga, Hanna baru menghubunginya dan mengajaknya bertemu untuk menyelesaikan masalah mereka.
Rafa melirik ke arah jam tangannya, sepertinya memang ini belum waktunya kafe tersebut buka. Hanya terdapat mobil miliknya dan beberapa sepeda motor yang mungkin milik pegawai kafe tersebut. Tidak mungkin ada kendaraan Hanna disana, karena gadis itu tidak bisa menyetir sama sekali.
Dengan langkahnya yang lebar, Rafa memasuki sebuah kafe milik teman Hanna. Salah satu pegawainya langsung menyambut dan menyuruhnya ke lantai atas, karena Hanna telah menunggunya disana.
Degup jantungnya berdebar dengan kencang, berharap-harap cemas dengan akhir penyelesaian masalahnya ini. Ia sudah pernah kehilangan Hanna sekali, dan ia sudah bertekad untuk tidak kehilangan Hanna lagi. Karena ia akan mempertahankan Hanna sekuat tenaga, meskipun Hanna mencoba untuk lepas darinya lagi.
"Han...." Panggil Rafa saat kakinya baru saja menapak di lantai dua kafe.
Hanna yang sedang membantu menyiram tanaman di sudut ruangan pun langsung menengok dan meletakkan alat siramnya.
"Aku udah pesenin minum buat kak Rafa, caramel macchiato kan?" Ucap Hanna yang diangguki oleh Rafa. "Aku juga pesen beberapa cemilan, tapi mungkin agak lama. Karena mereka lagi siap-siap dulu."
"Hm, enggak apa-apa."
Hanna menarik sebuah kursi dan duduk menghadap ke arah jalan raya di depan kafe. Diikuti oleh Rafa yang duduk disebelah Hanna.
"Soal kemarin, aku-"
"Aku yang harusnya jelasin, Han." Rafa menyela kalimat Hanna. "Kamu boleh tanya apapun ke aku, dan aku akan jelasin semuanya. Aku yang salah untuk kejadian ini, dan aku minta maaf. Jujur, aku enggak bermaksud untuk ngebohongin kamu. Aku cuma pengen bantu Alita aja biar Aldric bisa cepet dapet pertolongan, meskipun akhirnya aku malah jadi ngabaiin kamu."
Hanna menganggukkan kepalanya. "Hm, malam setelah kita berantem, kak Alita ngechat aku. Dia bilang kak Rafa bantuin kak Alita bawa Aldric ke rumah sakit. Kak Alita berterima kasih banget karena mereka terpaksa ngerepotin kak Rafa, padahal kita lagi ribet-ribetnya ngurusin acara nikahan."
__ADS_1
"A-Alita ngechat kamu?"
Hanna kembali menganggukkan kepalanya. "Sebenernya, setelah kak Alita kirim pesan itu, aku udah biasa aja. Cuma... aku enggak suka aja dengan cara kak Rafa. Aku udah bilang kan, harusnya kak Rafa ngomong jujur ke aku. Mungkin aku bisa lebih ngertiin, bukan malah kak Rafa bohong dan bilang kalo tiba-tiba ada kerjaan yang urgent. Karena kalo udah begini, aku bukan hanya dibohongi, tapi aku juga ngerasa kalo aku ini enggak dianggep dan bukan jadi prioritas kak Rafa."
"Han, enggak gitu, sayang." Rafa meraih tangan kanan Hanna dan menggenggamnya. "Aku cuma kepikiran Aldric. Zayn pernah sekali kejang begitu, dan aku masih inget jelas gimana paniknya kak Eowyn. Bahkan mama sekalipun yang udah pengalaman ngasuh tiga anak. Aku udah enggak nganggep Alita sebagai cewek yang aku incer dan kudu aku dapetin kayak dulu, Alita udah kayak kak Eowyn buatku. Dia udah bahagia sama Theo, udah ada Aldric juga kan sekarang. Cuuma kamu cewek yang aku incer beberapa tahun ini dan kudu aku milikin. Aku berani sumpah akan hal itu, Han."
Tak kunjung mendapat respon dari Hanna, keduanya hanya saling bertatapan dan mengeratkan genggaman tangan mereka.
"Yakinlah ini cuma ujian sebelum pernikahan, Han. Kita bisa melewati ini semua. Kita hanya perlu saling percaya dan menguatkan, jadi kita bisa lewati semua permasalahan rumah tangga kita nanti. Kamu masih mau kan, buat ngelanjutin pernikahan sama aku?"
"Aku enggak bisa, Kak."
Rafa terdiam beberapa detik. Jantungnya seperti berhenti berdetak beberapa saat, dadanya terasa begitu sesak, bahkan tubuhnya terasa ingin tumbang sekarang juga.
"Yaudah, kalo gitu kasih tau ke semua keluarga kalo acaranya bakal tetep berjalan." Ucap Hanna dengan nada tinggi.
"C-coba ngomong sekali lagi." Pinta Rafa yang posisinya kini telah berdiri dari tempat duduknya. Tangan mereka masih bertaut, bahkan Rafa semakin menguatkan genggaman tangannya.
"Aku... enggak bisa lagi kalo kudu ngelepasin kak Rafa kayak dulu lagi. Aku udah enggak mau lagi bohong sama diri aku sendiri, dan aku cuma mau sama kak Rafa." Hanna menjawab dengan lirih, seolah malu karena ini adalah kali pertama dirinya mengungkapkan perasaannya kepada Rafa.
Rafa segera menarik Hanna ke dalam pelukannya dan memeluknya erat-erat.
"Dari awal tinggal bilang aja sih, pake basa-basi segala. Bikin orang gemeteran aja."
__ADS_1
"Aku sedih tauuuu.... Tiga hari ini kak Rafa bahkan enggak nyoba buat ngehubungin aku, padahal harusnya kan kak Rafa ngerayu aku biar enggak marah lagi dan masalah ini bisa kita selesaiin sama-sama."
Rafa terdiam, lalu melepaskan pelukannya pada Hanna. Dipandanginya wajah Hanna yang matanya tampak berkaca-kaca itu.
"Tapi... kata mama aku harus ngasih kamu waktu buat nenangin diri dulu. Makanya aku enggak kirim-kirim chat ke kamu, karena takut... nanti kamu malah tambah marah sama aku."
"Seenggaknya kak Rafa tetep kirim pesan walaupun enggak aku bales."
"Iya... aku minta maaf ya. Kedepannya kalo kamu ngambek lagi, aku enggak akan kayak gitu lagi." Rafa menghujani puncak kepala Hanna dengan banyak kecupan.
"Habis dari sini mau pergi untuk ambil cincinnya? Kita masih boleh kan jalan-jalan berdua dulu sebelum akhirnya enggak boleh ketemu sampai hari H?"
"Tapi... aku ada jadwal untuk treatment pengantin habis makan siang nanti."
"Aku ikut!"
"Hah? T-tapi...."
"Pokoknya aku ikut. Calon pengantin pria ini, meskipun udah ganteng tapi juga masih butuh treatment kan? Mungkin aku bisa ngerapiin rambut, facial atau pijit gitu."
"Tapi kayaknya masseur-nya cewek semua deh, Kak. Kan... itu khusus buat cewek."
Rafa terdiam sesaat. "Yaudah, pijitnya nunggu kamu sah jadi istri aku aja." Jawabnya sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Hanna.
__ADS_1
"Tapi aku akan tetep nganterin dan jemput kamu, nanti aku tunggu di kafe atau restoran siap saji di deket sana."