Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Pengakuan Halu Alvaro


__ADS_3

"Selamat siang tuan" seseorang dengan logat daerah setempat menyapa Varo yang tengah menikmati kopinya di sudut ruangan restoran.


Ini merupakan sudut favorit pria itu saat berjaga mengawasi para karyawannya. Dengan ditemani segelas kopi dan laptop Alvaro bisa menghabiskan ber jam jam waktunya tanpa disadari.


"Ya, selamat siang" Varo menanggapi.


"Anda sangat luar biasa, saya yang biasanya hanya melihat anda di televisi akhirnya sekarang bisa berjumpa langsung" wanita berpakaian terbuka tersebut terlihat sangat senang bertemu Varo.


"Bisakah saya menemani anda disini?, saya akan sangat bangga memamerkan video anda kepada teman teman saya" wanita itu terus berceloteh dengan riang.


"Sepuluh menit waktu anda, silahkan tanyakan apa saja yang anda inginkan, setelah itu silahkan cari tempat lain untuk anda nikmati" Varo memasang mode cool. Dia sangat tak suka ada wanita bergenit genit menggodanya.


"Hmmm, baik, tak masalah, dapat bicara sedekat ini saja saya sungguh senang luar biasa" wanita itu kembali menjawab ucapan Varo.

__ADS_1


"Tuan, kenapa anda duduk sendirian? apa anda tidak mempunyai pacar atau mungkin istri?" Wanita itu mulai mewawancarai Varo.


"Saya sudah mempunyai istri, anda bisa lihat kan cincin di jari saya" Alvaro menjawab sekenanya.


Pria itu memang selalu memakai cincin yang diberikan oleh Rena saat mereka berpacaran dulu. Cincin itu sebagai simbol cinta mereka, dan untuk saat ini digunakan Varo untuk mencegah wanita lain masuk kedalam kehidupannya. Cincin itu tak pernah dilepasnya dalam keadaan apapun.


"Oh benarkah?, anda sudah menikah benarkah?" wanita genit yang bernama Natalie itu syok. Pujaan hatinya yang selalu muncul menghiasi layar kaca setiap akhir pekan ternyata telah dimiliki orang lain. Selama ini tak pernah ada gosip yang beredar mengenai kehidupan pribadi idolanya itu.


"Iya, saya sudah menikah, dan saya sangat mencintai wanita itu" Varo sengaja menekankan kalimat itu sembari mengarahkan wajahnya kearah kamera yang dipakai oleh Nathalie untuk merekam percakapan mereka.


"Waktu anda habis, sesuai kesepakatan silahkan nikmati hidangan anda di meja lain, tinggalkan saya sendiri" Varo kembali memasang mode cool. Wajah pria itu sempat sumringah saat membicarakan seorang wanita yang dianggapnya istri, namun sekarang kembali murung.


"Oh please tuan, kasih kesempatan sedikit lagi, sebutkan nama wanita itu" Nathalie terus mendesak.

__ADS_1


"Dia adalah cinta dalam hidupku, dia separuh nyawaku, dia sumber kekuatan ku, dan selamanya aku akan mencintainya, Miss R" Varo menjawab dengan puitis pertanyaan terakhir dari Nathalie.


Karena merasa tak nyaman dan Nathalie terus mengganggunya, Alvaro menyerah, dia menutup laptopnya dan bergegas pergi meninggalkan gadis itu sendirian.


Adam, manajer sekaligus asisten kepercayaan Varo menatap heran tak percaya melihat tingkah bosnya. Bagaimana bisa Varo mengacuhkan begitu saja wanita cantik dan sexy seperti Nathalie.


"Dasar bucin, sudah bertahun tahun masih belum move on juga" gumam Adam sendirian.


"Hai nona, bagaimana kalau saya yang temani anda menikmati hidangan anda?" dengan percaya diri Adam mendekati Nathalie.


Gadis itu mendelikkan matanya pertanda tak suka.


"Tidak perlu tuan, lebih baik saya sendiri daripada ditemani oleh anda" Nathalie memberikan jawaban tajam kepada Adam.

__ADS_1


"Dasar perempuan, susah ditebak" Adam menggaruk kepalanya yang tak gatal.


__ADS_2