
Seminggu berlalu dari persiapan pindahan Rena ke kios kecilnya. Setelah meminta izin kepada kedua orangtuanya untuk sementara tak tinggal dirumah, Rena akhirnya memutuskan dia akan tinggal sendiri, mandiri.
Meskipun tak terlalu peduli, pasangan orangtua angkat Rena itu menyetujui alasan Rena, dengan catatan Rena harus tetap menanggung biaya kehidupan mereka setiap hari.
Dan disinilah Rena sekarang. Satu kamar sempit di bagian belakang kios dipermak menjadi ruangan nyaman untuk dia berisitirahat.
"Tinggal di apartemen aja, kan cuma di belakang kios ini, jadi kamu masih bisa bolak balik" rayu Varo.
"Jangan dulu kak, masih banyak yang mau aku susun barang barangnya" tolak Rena halus.
Rena tak mau mengulangi kesalahan yang dulu. Jika dua orang makhluk dengan jenis kelamin berbeda berada dalam satu atap setiap hari, Rena tahu betul apa yang akan terjadi selanjutnya. Setan pasti berada dimana mana.
"Ya sudah sini aku bantu, biar cepat beres" tawar Varo gigih. Dia memang akan terus menggiring Rena masuk lebih dalam kedalam kehidupannya. Membuat Rena ketergantungan dan tak bisa lepas lagi darinya.
Sore menjelang. Kios kecil itu sudah sangat rapi dan tertata apik. Wajah lelah Rena tampak jelas tak bisa disembunyikan.
"Kasihan istriku" Varo mengusap keringat di dahi Rena.
"Capek banget ya, sini duduk dulu, aku pijit sebentar" Varo menuntun Rena duduk di kursi yang ada tak jauh dari mereka.
Varo benar hanya memijit betis dan lengan Rena. Dia sangat prihatin melihat Rena yang kelelahan. Jauh didalam hatinya dia menyimpan rasa sayang teramat besar untuk gadis itu.
"Makasih kak" Rena melingkarkan lengannya ke pinggang Varo dengan manja, kepalanya disandarkan ke dada bidang Varo.
__ADS_1
"Cup" anak rambut Rena menjadi sasaran bibir Varo.
Ciuman bertubi tubi terus diberikan ke rambut indah milik Rena.
"Benar nih gak mau nginap di apartemen ku aja?" Varo kembali memberi penawaran.
"Makasih kak, gak dulu ya, nanti kalo udah sah" tolak Rena.
"Hmm, baiklah" Varo menghargai keteguhan hati Rena menjaga harga dirinya.
.
.
.
Berkat uang pesangon yang diberikan pak Adam, warung kecil milik Rena sudah terisi penuh berbagai barang jualan.
Rena sudah memutuskan akan berjualan sembako, gorengan dan warung kopi. Karena di sekitar kios nya berada saat ini, ada proyek pembangunan gedung yang melibatkan banyak pekerja, pasti mereka akan berpotensi besar menjadi pelanggan utama.
Rena terlelap dengan impian besar di otaknya.
.
__ADS_1
.
.
Sementara Varo, pria itu memutuskan pulang menghadap orangtuanya. Sudah terlalu lama dia mengabaikan sang ibu. Perasaan berdosa menghantuinya.
Varo sudah bertekad menanggung resiko kemarahan sang ibu. Bagaimanapun dia tak bisa terus lari. Sekali lagi dia akan menjelaskan semua tentang Rena kepada ibunya.
Varo melajukan mobilnya keluar dari parkiran apartemen. Persis di ujung jalan didepannya, warung Rena berada. Varo berhenti sejenak untuk memastikan dari luar kondisi baik baik saja.
Lampu bagian tengah kios telah padam, itu artinya kemungkinan Rena sudah tidur. Varo kembali menstarter mobilnya, kembali ke tujuan utama, kerumah besar keluarga Prasetya.
"A..ku tak punya hati 🎶🎶
Untu...k menyakiti dirimu 🎶🎶
Dan a...ku tak punya hati tuk mencintai 🎶🎶
Di..rimu yang selalu
Mencin...tai diri..ku 🎶🎶
Walau...kau tau di ri ku
__ADS_1
Masih bersamanya 🎶🎶
Lantunan lagu dari radio mobil mengiringi perjalanan Varo, seolah olah menyindir pendengarnya.