Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Kedudukan Varo terancam


__ADS_3

Hari berlalu. Varo hilang dan muncul dalam hidup Rena. Kadang dia mengunjungi Rena namun lebih banyak menghilang tanpa kabar.


Rena yang tak mempunyai ponsel dan sosial media membuatnya semakin sulit dihubungi.


Rena pun semakin menguatkan diri kalau Varo hanyalah sekedar teman yang berbuat baik kepadanya. Dia menekan perasaannya. Dia tak boleh memiliki rasa berlebihan kepada Varo. Dia harus sadar diri siapa Varo dan siapa dia.


Sebulan sudah berlalu dari insiden pertama.


Drttt.,drttt...


Ponsel Varo bergetar.


Pemuda itu baru saja hendak memakan sarapannya di meja makan.


Varo membuka pesan video yang masuk kedalam ponselnya itu.


"Misi kedua selesai dengan sempurna" bunyi pesan itu.


"Deg" jantung Varo berhenti sejenak. Dia hampir saja melupakan misi ini.


Tak sabar Varo menunggu pesan itu selesai loading. Makanan lezat yang terhidang di atas meja kini tak lagi menggugah seleranya.


Video selesai di download.


"Ya Tuhan" Varo bergetar menyaksikan apa yang ada didalamnya.


Dalam video tersebut, Rena tengah bersimbah darah, dia menjadi korban tabrak lari. Tentu saja orang yang menabrak itu adalah orang suruhan keluarganya.


"Siapa yang memerintahkan untuk membuat semua ini?" Varo langsung menelpon si pengirim video tersebut. Dia tak sanggup menahan emosinya.


"Ibu anda bos, karena kami terus menunggu dan tak ada pergerakan apapun dari anda" lugas si penerima dari seberang telepon.


Varo segera mematikan ponselnya dan berlari kearah kamar sang ibu di lantai dua rumahnya.


"Ma, Varo boleh masuk?" pintu kamar mamanya yang terbuka setengah membuatnya gampang berkomunikasi.


"Masuklah nak" jawab sang ibu dari dalam.


"Ma, apa benar mama yang memerintahkan orang bayaran untuk menabrak Rena?" tanya Varo tak sabar.


"Benar, mama yang suruh, kamu sepertinya mulai melupakan papa, kamu tidak lagi peduli" tangis sang nyonya besar runtuh.


Varo berada dalam kondisi yang sulit. Melihat sang ibu menangis seperti ini tentulah tak mudah baginya.


"Maafkan Varo mah" pria itu akhirnya mengalah.

__ADS_1


"Kalau kamu tak mau membela almarhum papa, biar mama sendiri, kamu tidak perlu repot" tegas mama Varo kembali.


"Ma, jangan berbicara seperti itu. Varo sangat sangat peduli dengan mama dan almarhum papa. Varo juga ingin kebenaran cepat terungkap ma" lirih Varo.


"Kalo begitu, cepat selesaikan, mama ingin keluarga itu segera hancur" ucap sang mama penuh emosi.


Varo memeluk sang ibu bermaksud menenangkan hati wanita yang sangat dihormatinya itu, sementara hatinya sendiri tak tau hendak dibawa kemana, keresahan melanda.


"Varo capek mah, Rena gak pantas mendapatkan ini semua" gumam hati Varo.


.


.


.


Setelah berhasil menenangkan sang mama. Varo melajukan mobilnya membelah jalan raya. Tujuannya kali ini tak pasti. Dia tak ingin ke kantor ataupun ke rumah Rena. Dia ingin sendiri. Berbicara dengan hatinya, menanyakan hatinya, apa yang sebenarnya diinginkan. Mengapa dia begitu galau saat ini setelah melihat Rena terluka.


.


.


.


Setelah lelah berkeliling tak tau arah, Varo akhirnya menyerah. Dia mencari tahu keberadaan Rena dan tempat Rena dirawat saat ini. Varo yakin Rena tak mungkin rawat jalan karena luka di kepalanya cukup mengkhawatirkan.


Varo tak bisa menahan diri, dia segera melangkah masuk ke dalam.


"Rena" Varo memanggil gadis itu yang tengah asyik sendiri mengunyah makanannya.


"Eh kak Varo, tau dari mana aku di..si...ni" kalimat Rena terputus karena Varo tiba tiba memeluknya. Varo memeluk Rena bagaikan seorang kekasih yang lama tak berjumpa. Varo meluapkan segala kerinduannya kepada Rena lewat pelukan.


Rena sekuat tenaga mendorong tubuh Varo yang memeluknya posesif.


"Kak lepasin kak" Protes Rena.


Varo tersadar akan kelakuannya, dia refleks memeluk Rena.


"Em maaf Re, aku gak sengaja" Varo salah tingkah.


"Kak Varo kok tau aku disini?" tanya Rena menginterogasi.


"Aku dapat kabar dari Adam. Kenapa kamu gak menelepon aku saat membutuhkan bantuan Re?" tanya Varo. Posisinya kini sudah berpindah di kursi di samping ranjang Rena.


"Heheh, masalah kecil kok kak, keserempet mobil, aku memang ceroboh banget" Rena menjelaskan.

__ADS_1


"Ya Tuhan, bahkan setelah apa yang menimpa, dia masih tak menyalahkan orang lain, dan tak menunjukkan kesedihan" isi hati Varo protes.


"Apa kamu tau siapa yang menabrak? apa kamu mau menuntut orang itu?" selidik Varo.


"Ngapain cari masalah, gak usahlah kak, mungkin mereka terburu-buru, aku gak ada masalah sama siapapun, jadi pasti orang itu juga gak sengaja" ujar Rena.


Varo menatap Rena dalam, "terbuat dari apa hatimu Rena" gumam Varo penuh rasa kagum.


Varo membantu menyuapi makanan Rena yang masih bersisa setengah.


"Keluarga kamu kemana Re?" tanya Varo.


"Mereka gak tau aku disini kak, jangan kasih tau ya, kasihan mereka kerepotan nanti" ungkap Rena.


"Arghhhh" Varo stres sendiri menghadapi Rena yang terlalu tegar.


Otak Varo berhenti bekerja saat menghadapi Rena. Yang dilakukannya hanya diam tak banyak bicara sambil terus menyuapi gadis itu.


"Assalamualaikum" sebuah suara menyapa saat Rena dan Varo tengah berbincang santai di ruangan rumah sakit.


"Aul, sini sini" Rena tampak bahagia karena sang sahabat muncul.


"Maaf ya Re, aku baru pulang dari rumah Oma diluar kota, buru buru kesini karena dengar kabar kamu tabrakan" Aulia menjelaskan.


"Iya gak apa apa, orang akunya juga gak kenapa kenapa kok" hibur Rena. Mereka berdua kembali berpelukan. Varo hanya mengamati dan sedikit berdiri menjauh, memberi ruang dua orang sahabat itu melepas rindu.


"Hallo kak Varo, apa kabar?" Aulia yang menyadari ada Varo di ruangan itu menyapa dengan sopan.


"Kabar baik Aul" jawab Varo dengan ramah.


"Oiya Re, aku kesini bersama seseorang, pasti kamu senang jumpa dia" Aulia baru teringat dengan seseorang yang sudah menunggu diluar. Tujuannya ke rumah sakit adalah untuk membawa orang itu ketemu dengan Aulia lagi.


"Siapa?" tanya Rena bingung.


"Tunggu ya" Aulia bergegas keluar dan kembali masuk bersama seorang pria yang lumayan tampan. Meski masih jauh dibawah Varo.


"Aldy" Rena setengah histeris melihat sosok laki laki yang berjalan menghampirinya itu.


"Siapa dia, kenapa Rena begitu gembira bertemu dengannya" Varo merasa tak nyaman. Posisinya mulai terancam.


"Hai Rena, aku sedih harus berjumpa dengan mu dalam kondisi seperti ini" ucap pria yang bersama Aulia itu. Aldy namanya.


"Kamu apa kabar Dy?, kapan sampai?" Rena tampak bersemangat menyambut tamunya itu.


"Baru sampai Re, janjian di bandara sama Aul, gak sabar mau ketemu kamu" ujar Aldy.

__ADS_1


"Ehemmmm" Varo memberi kode tak suka.


__ADS_2