
Rena baru saja selesai mandi dan membereskan barang barang bawaannya. Wajahnya tampak lebih segar setelah cukup istirahat.
"Kak Rena, ada telepon" seorang anak penghuni yayasan mengabarkan Rena.
"Siapa ya?" Rena bertanya dalam hati, karena seingatnya sangat jarang sekali ada yang menghubungi lewat telepon yayasan, dan dia tak janjian dengan siapapun.
"Hallo" baru saja Rena mengangkat gagang telepon, suara Zifa yang nyaring sudah mendominasi.
"Kak Rena, tolong kesini dong, mas Varo sakit, panas tinggi sejak dari pemakaman tadi" jelas Zifa.
Rena langsung teringat kalau Varo memang masih dalam masa pemulihan. Dia mengabaikan kesehatannya karena kabar tiba tiba mengenai kondisi mama Lidya yang memburuk. Sejak itu selama beberapa hari bahkan Varo tak berisitirahat yang cukup, pastilah saat ini tubuhnya kembali drop.
"Hallo kak Rena, masih disana?" Rena yang tiba tiba diam membuat Zifa memanggil manggilnya.
"Eh iya Zifa, aku kesana sekarang ya" Rena memutuskan.
"Yes, senyum di bibir Zifa bermekaran.
Setelah pamit kepada anak anak, Rena bergegas ke rumah Varo dengan naik ojek online langganannya.
.
.
.
Sementara itu di rumah Varo, pria itu tengah berbaring dengan selimut tebal menutupi hampir seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Berkali kali Zifa membujuk agar Varo mau ke rumah sakit, namun Varo terus menolak. Dia hanya beralasan kurang istirahat.
Persis saat Rena datang, Varo sedang muntah muntah di kamarnya.
"Kak Rena ayo cepat masuk, kondisi mas Varo memprihatinkan" ucap Zifa hiperbola.
Spontan Rena memijat tengkuk Varo yang sedang memuntahkan isi perutnya. Posisi Varo yang membelakangi pintu membuatnya tak melihat saat Rena masuk, dan tak mengetahui kalau wanita impiannya sedang ada di dekatnya.
Setelah berhasil mengembalikan rada mualnya, sesosok tangan menyodorkan handuk lembut kewajah Varo.
Varo menoleh kearah sosok yang dari tadi membantunya.
"Rena?" Varo terkesima.
"Kak Varo mau ke rumah sakit gak, biar aku bantu antar" Rena bertanya kepada pria itu.
"Kamu kesini?" Varo masih dalam mode terkesima, ucapannya terputus putus.
"Tadi Zifa telepon, katanya kak Varo drop lagi, gak mau makan, Zifa nya bingung, kado minta tolong aku" jawab Rena polos.
Rena kembali mengusap bibir Varo dengan tisu, dia melakukannya secara spontan karena melihat masih ada sisa cairan yang tersisa di sudut bibir itu.
Perbuatan kecil dari Rena ini mampu membuat Varo benar benar tersentuh, rasa cinta yang berusaha mati matian diredamnya kali ini bangkit lagi dan semakin membara.
Varo memegang tangan Rena yang masih ada di wajahnya.
Rena terpaku, ada getaran di hatinya, namun pikiran normal kembali menyadarkannya. Rena segera menarik tangannya yang digenggam Varo.
__ADS_1
"Aku siapkan makan ya, kak Varo harus makan" Rena berdiri dari posisinya yang tadi ada di samping Varo.
Tanpa Rena dan Varo sadari, Zifa telah merekam semua kejadian bernuansa romantis itu. Ini akan menjadi senjata ampuh untuk Niko, agar pria itu sadar betapa kuatnya cinta Rena dan Varo, dan semoga pria itu tak lagi mengganggu hubungan mereka.
"Zifa ada disini?" Rena yang baru saja keluar dari kamar Varo memergoki Zifa di depan pintu.
"Em iya kak, ini barusan aku mau tanya, mas Varo mau makan gak, biar aku siapkan" Zifa mencari alasan, dia salah tingkah karena hampir ketahuan.
"Iya udah mau makan, dimana dapurnya biar aku siapkan, Zifa boleh temani kak Varo dulu?" Rena meminta bantuan Zifa.
"Oke siap, dapurnya disana" Zifa menunjuk kearah ujung lorong.
"Aku masuk ya kak, temani mas Varo" Zifa segera pergi, dia masih grogi karena tadi hampir kepergok Rena.
Tak lama, semangkuk bubur dengan sop sayuran hangat siap diolah Rena dan akan segera disajikan kepada Varo.
Dengan nampan di tangan, Rena berniat membuka pintu kamar Varo, namun ternyata, pintu itu telah terbuka sebagian, percakapan antara kedua orang didalamnya membuat Rena menghentikan langkah.
"Apa mas masih mengharapkan kak Rena?" Zifa bertanya.
"Aku gak pernah berhenti berdoa Rena agar kami bisa bersama lagi, tapi aku sadar diri, apa yang ku lakukan sulit dimaafkan. Dengan Rena begini saja, mau peduli padaku, aku sudah sangat bersyukur" jawab Varo.
"Ya udah kalau gitu move on mas, teman teman aku banyak yang cantik cantik, pasti mereka mau deh dijodohin sama mas Varo" Zifa terus memancing.
Gadis itu telah memantau CCTV lewat ponselnya, dia tau saat ini Rena ada di depan pintu kamar mendengar pembicaraan mereka.
"Gak lah, aku gak akan menikah dengan siapapun, aku cuma mencintai dia" jawab Varo sendu.
__ADS_1
Hati Rena tiba tiba menjadi hangat mendengar ucapan dari Varo, rasa yang dimilikinya dengan rasa yang dimiliki Varo ternyata masih sama. Namun kala teringat Bu Lidya, senyuman Rena meredup, gadis itu masih menyimpan amarah kepada orangtua Varo.