Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Semua masih ku simpan disini


__ADS_3

"Kak Varo kok keluar dari kamar ini? kak Varo nginap disini?" Rena menanyakan pertanyaan yang dari tadi ditahannya.


"Maaf Re, aku khawatir kamu sendirian, aku hanya mau jaga kamu selama Kiara gak ada, ini negeri orang, bahaya kalau kamu sendirian" Varo mencoba jujur.


Rena terenyuh. Varo saat ini yang ditemuinya begitu lembut.


"Taman yang tadi aku sebutkan dimana kak?, aku mau kesana sendiri aja" Rena berusaha mengalihkan perhatian.


"Cukup jauh dari sini, kalau kamu naik taksi, aku khawatir kamu tidak aman" Varo menerangkan.


"Rena, izinkan aku yang antar kamu ya" Varo memberanikan diri.


Rena berpikir realistis, memang gak mungkin dia pergi sendiri di tempat yang dia tak paham sama sekali.


"Em, apa tidak merepotkan? kak Varo gak buka cafenya?" Rena memastikan.


"Hari ini jadwal libur" ucap Varo bohong. Hatinya girang karena Rena meresponnya.


"Ya udah kak, maaf merepotkan" Rena berjalan mendahului Varo.


Varo menyusul langkah Rena, saat ini mereka berjalan beriringan.


"Maaf Re, aku tak membawa mobil, kalau naik skutter listrik ini mau?, kebetulan ada dua nih, titipan temanku" Varo menanyakan pendapat Rena. Saat ini mereka sedang berada di parkiran tempat skutter listrik Varo diparkir.


Rena sedikit ragu, dia tak pernah naik ini sebelumnya, juga tak tau cara menggunakannya bagaimana.


"Yuk cobain dulu, kalau kamu tak nyaman kita naik taksi aja" usul Varo.


"Ayo" Rena bersemangat, ini pengalaman baru lagi buatnya.

__ADS_1


Rena duduk diatas skutter listriknya dan dari belakang Varo mengajarkan Rena caranya mengemudi.


Posisi mereka saat ini sangat dekat, aroma harum tubuh Varo masih sama seperti dulu, mengusik memori Rena.


Gadis itu refleks menghindar. Suatu debaran membuatnya tak nyaman. Rasa itu ternyata masih ada, tak pernah hilang meskipun sudah hampir tiga tahun redup.


"Maaf Re" Varo segera menjauhkan diri dari Rena. Dia tak sadar saat tadi memegang tangan Rena dan memeluk tubuh itu.


"Ayo kak, aku coba dulu ya" Rena berusaha bersikap biasa.


Varo segera mengambil satu lagi skutter di sebelahnya. Bergegas menyusul Rena yang telah melaju meninggalkannya.


.


.


.


Rena terus melajukan skutter dengan senyuman mengembang.


Begitu pula dengan Varo. Impiannya dulu membawa Rena menikmati indahnya pemandangan alam kini sedikit terwujud. Rena ada di sampingnya, mereka berkeliling kota berdua, meski dengan kendaraan terpisah.


"Re, belok kanan" Varo memberi instruksi.


Rena mengangguk, dia mengekori Varo masuk kedalam sebuah kawasan taman kota yang indah.


Varo menghentikan skutter persis di depan sebuah danau kecil yang ada di taman tersebut.


"Sini parkir dulu" Varo menuntun Rena turun dari skutter nya.

__ADS_1


"Aw" Varo menjerit kesakitan karena Rena terlambat menekan rem skutter nya hingga ban kendaraan tersebut melindas kaki Varo.


"Maaf kak Varo, aku gak sengaja" tanpa sadar Rena mendekat dan memijit kaki pria itu.


Varo menggenggam tangan Rena yang sedang memijit kakinya.


"Gak apa apa kok Re, ban kecil itu gak bikin sakit" ucap Varo.


Rena segera mengalihkan pandangannya karena sikap Varo kepadanya begitu manis. Persis seperti dulu saat mereka hidup bersama.


.


.


.


"Kiara dimana ya kak, katanya janjian disini" Rena yang polos masih berpikir kalau Kiara menunggunya di taman.


"Rena mau telepon Kiara?" Varo memberi tanggapan.


"Ini pakailah" Varo memberikan ponselnya kepada Rena untuk dipakai menghubungi Kiara.


Rena menerima ponsel dari Varo dan melihat layar ponsel yang berlatar wajahnya dulu saat memasak di dapur bersama Varo. Wajahnya yang berantakan tertutup tepung akibat keisengan Varo.


"Kak Varo masih simpan foto ini?" Rena spontan bertanya.


"Masih, semua tentang kamu masih kusimpan dengan jelas disini" Varo memegang dadanya menunjukkan dimana hatinya.


Varo sadar ucapannya akan membuat Rena terganggu.

__ADS_1


"Telepon lah Kiara, aku akan tunggu disana" Varo segera berlalu menuju kursi santai di ujung danau.


__ADS_2