
Hampir satu jam berlalu. Rena memisahkan tubuhnya dari pelukan sang suami yang tertidur pulas. Tubuh polos mereka berdua membuat wajah Rena bersemu merah.
"Terimakasih ya Allah, apa yang kutakutkan selama ini tak terjadi. Kak Varo begitu lembut memperlakukan ku, dia sangat menghargai ku" Rena bergumam sendiri mengingat betapa indahnya apa yang baru saja mereka lakukan.
"Sayang mau kemana? disini aja" Varo kembali menarik tubuh Rena kedalam pelukannya.
"Kak, pintu gak dikunci tau, kalo Zifa tiba tiba masuk dan melihat kita gimana?" Rena mencari alasan agar suaminya itu segera melepaskan pelukannya.
"Biarin, aku gak peduli, kamu gak boleh pergi" Varo bersikap sangat manja dan terus mengendus leher jenjang istrinya itu.
"Kak, ini siang bolong lo" Rena gelagapan dengan suaminya yang begitu buas melahapnya.
"Nanti malam lagi ya sayang, janji dulu baru aku lepaskan" Varo terus memaksa Rena, pelukannya semakin kencang.
"Iya kak, sekarang kita bersihkan diri dulu ya, sebentar lagi waktu sholat dimulai" Rena membujuk sang suami yang begitu manja kepadanya.
"Kau membuat ku gila sayang, sangat nikmat, aku kecanduan" Varo berbisik di telinga Rena.
Hampir dua tahun lamanya dia tak menyalurkan hasrat kepada wanita manapun, kali ini bak ledakan gunung berapi, Varo begitu menggebu.
.
.
.
__ADS_1
Sementara Rena dan Varo merajut kerinduan, Alya berkunjung ke tahanan bermaksud ingin menemui Varo. Namun apa yang dilihatnya membuatnya meradang. Alya baru saja mengetahui kalau Varo telah dibebaskan dengan jaminan.
"Kau tak bisa lepas begitu saja Varo, aku akan mendapatkan mu" Alya berteriak histeris.
Segera Alya melajukan mobilnya menuju ke rumah Varo. Dia sangat yakin pria incarannya itu berada di rumah saat ini.
"Varo keluarlah" Alya berteriak histeris di depan gerbang rumah Varo.
Rena dan Varo yang sedang bersantai di ruang TV merasa terganggu.
"Kak, ayo bicara baik baik dengan Alya" Rena hendak menemui wanita gila itu.
"Aku gak yakin bisa berbicara baik baik dengannya. Takutnya ini jebakan lagi buat kita" Varo berusaha menahan keinginan Rena.
"Tapi kak, kalau tidak ditemui, dia akan terus mengganggu, warga sekitar akan ikut terdampak juga" Rena berpikir realistis.
Rena mengangguk setuju dan berjalan di belakang Varo untuk menemui Alya.
"Apa yang kau inginkan?" Varo langsung bersikap tak ramah saat menemui Alya.
"Bertanggungjawab lah kepada ku, aku hamil" Alya menangis histeris.
"Sebaiknya kita bicarakan ini baik baik, masuklah" sikap Varo melunak karena melihat Alya yang begitu kacau.
Alya masuk kedalam rumah Varo dan bersiap dengan drama selanjutnya.
__ADS_1
"Varo, anak ini butuh ayah, tolong aku" Alya menangis menghiba demi mendapatkan simpati Varo.
"Apa kau yakin aku yang menyentuh mu?" Varo masih bersikap tenang dan sabar. Tangannya terus menggenggam tangan istrinya Rena, membuat Alya semakin kepanasan.
"Iya, malam itu kau dan aku menjalin cinta" Alya mulai berhalusinasi.
"Bisa kau jelaskan dengan detail, kapan itu terjadi?" Varo terus memancing. Sebuah rekaman telah disiapkannya. Varo telah mendapatkan penjelasan dari Niko dan Zifa mengenai umur kandungan Alya dan Varo yakin bisa mendapatkan bukti lengkap dengan menjebak Alya saat ini.
Beberapa minggu lalu sayang, saat kau mengantar ku kerumah" Alya melanjutkan halusinasinya.
"Benarkah? kalau begitu bersiaplah dengan api yang kau bakar sendiri Alya" Varo menyunggingkan senyum licik.
"Apa maksudmu?" Alya merasa sesuatu yang tak beres telah terjadi.
"Aku telah melakukan pengecekan di dokter kandungan tempat mu biasa periksa, dokter itu menjelaskan, umur kandungan mu enam belas minggu, itu artinya kau telah hamil anak itu sebelum aku menemui mu di pub itu" Varo menjelaskan dengan begitu tegas kepada Alya.
"Dan semua ucapan mu ini sudah cukup untuk dijadikan bukti kebebasan ku" Varo dengan kejam menunjukkan layar ponselnya yang masih merekam semua percakapan mereka.
Rena hanya menjadi penonton yang baik saat ini. Dia merasakan dejavu, sikap Varo saat ini persis seperti dulu saat mereka masih kuliah. Tengil dan menyebalkan.
"Brengsek, kalian sengaja menjebakku" Alya kembali histeris. Baru saja ia diatas angin, merasa sebentar lagi bisa meyakinkan Varo, tapi kini malah terhempas jatuh ke jurang yang dalam.
"Apa kau lihat pintu keluar itu?, silahkan keluar dari rumah ini baik baik, jangan sampai membuat keributan, proses hukum yang menanti mu sudah banyak, terutama atas kasus pencemaran nama baik dan fitnah, jangan kau tambah lagi dengan perbuatan tidak menyenangkan" ucap Varo tajam kepada Alya.
Varo semakin menambah panas Alya dengan memeluk tubuh wanita saingannya itu. Varo memeluk Rena dengan begitu mesra di hadapan Alya, membuat Alya segera berlari keluar dari rumah itu disertai airmata yang tak henti meleleh.
__ADS_1
"Kak, kejam banget kita memperlakukan Alya" Rena merasa kasihan. Sisi baik wanita itu memang sangat gampang tersentuh.
"Dia yang memulai masalah ini, dia harus menerima konsekuensinya" jawab Varo santai. Segera Varo menutup pintu dan melanjutkan menikmati waktu berharganya bersama istri tercinta.