Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Persiapan menuju akad #prank berlanjut


__ADS_3

"Mas Varo dimana?" sampai tengah malam Zifa belum juga bisa menghubungi kakaknya itu. Gadis itu dilanda kekhawatiran serta rasa bersalah.


"Kalau sampai mas Varo bunuh diri karena pernikahan palsu kak Rena gimana" pikiran pikiran aneh mulai menggerayangi otak Zifa.


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua dini hari.


Suara deru mesin mobil mulai terdengar masuk ke halaman rumah. Zifa yang gelisah sedari tadi bergegas membuka pintu dan menyambut Varo.


"Mas Varo darimana?" Zifa terlihat sangat khawatir.


"Dari mesjid depan komplek" jawab Varo santai. Wajahnya tampak begitu lelah dan kusut.


"Mas Varo ngapain sampai tengah malam gini di mesjid?" Zifa kembali bertanya.


"Aku butuh menenangkan hati dek. Daripada aku lari ke alkohol mending aku minta pencerahan dari pak ustadz" Varo menjawab santai sambil terus berjalan kearah dapur.


Setelah menghabiskan segelas air putih, pria itu masuk ke kamarnya.


"Kamu gak usah mengkhawatirkan mas Varo, tenang aja, aku udah dewasa kok, aku cukup kuat untuk mengalami semuanya" Varo mengusap pelan rambut adiknya yang tampak sangat cemas itu.


"Be..besok mas Varo hadir di acara itu?" Zifa memberanikan diri bertanya dengan suara pelan bahkan nyaris tak terdengar.


"Kamu temani mas ya" jawaban penuh makna dari Varo menjadi akhir percakapan sebelum Varo menutup pintu kamarnya.

__ADS_1


Zifa terharu melihat kedewasaan dari Varo. Beratnya cobaan demi cobaan membuatnya sangat bijak dan dewasa menghadapi masalah hidup.


"Mas Varo, semoga besok bisa jadi hari bahagia buat mas ya" Zifa bergumam dalam hatinya.


.


.


.


Suasana subuh di kediaman pengantin wanita.


Rumah yang akan dijadikan tempat melakukan akad nikah itu sudah riuh dan tampak sibuk sejak tadi. meskipun matahari belum muncul menggantikan bulan.


"Hai pengantin cantik, gimana udah siap jadi nyonya Aldi?" Rena menggoda Aulia sang sahabat yang sedang dirias oleh MUA nya.


"Ah Rena, aku deg deg an, bisa gak ya aku jadi seorang istri" Aulia menggenggam tangan Rena untuk menyalurkan rasa gugupnya.


"Bismillah, pasti bisa" Rena memberikan semangat buat Aulia.


"Di sebelah aku terus ya, jangan jauh jauh" Aulia mengingatkan Rena.


"Iya, siap bos" Rena menanggapi dengan canda agar sang pengantin tak terlalu gugup.

__ADS_1


"Ya Allah, aku pernah dalam posisi ini, jangan sampai apa yang ku rasakan dulu terjadi pada sahabatku" Rena terbawa perasaan. Masa lalunya dengan gaun pengantin dan akad yang gagal membuatnya kembali takut. Meskipun tak lagi trauma, namun bayangan bayangan itu terus tertanam dan mengusik ketenangan hati Rena.


Aulia memahami perubahan wajah Rena yang murung. Dia merangkul sang sahabat tanpa berbicara apapun. Biarlah pikiran masing masing yang saling berkomunikasi.


.


.


.


Mas Varo, udah siap belum? akadnya jam sepuluh mas, nanti kita terlambat" Zifa mengingatkan Varo. Pria itu tak keluar dari kamarnya sejak pagi.


KLIK...Pintu dibuka dari dalam.


"Aku gak pergi ya" Varo kembali galau. Dia belum siap sama sekali.


"Astaga mas, dari tadi di kamar ngapain?" Zifa geram sendiri melihat tingkah kekanak kanakan sang kakak.


"Ayo mas, gentle dong. Mas bilang mau mendukung apapun demi kebahagiaan kak Rena, ini saatnya jadi saksi hidup baru kak Rena" dengan kejam Zifa berkata santai. Tak memikirkan perasaan Varo yang rapuh.


"Udah ayo mas, baju udah aku siapin, tinggal dipakai" Zifa menyerahkan baju yang diambil di kamar Varo dan memaksa Varo masuk ke kamar mandi untuk memakai pakaian tersebut. Zifa berjaga di depan pintu untuk memastikan Varo melakukan perintahnya.


"Maaf mas. aku harus tega" gumam Zifa diiringi senyum devil nya.

__ADS_1


__ADS_2