
Mengandung unsur 18+.. Dedek gemes yang belum cukup umur jangan baca ya, skip aja, nanti author dijewer sama ortu kalian 😀
^^^\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=^^^
"Rena aku mencintaimu" kalimat itu begitu tulus dilontarkan Varo.
Rena yang terbuai semakin menikmati setiap sentuhan yang diberikan Varo, gadis itu memejamkan mata menghayati momen demi momen.
Varo terus menyusuri inchi demi inchi tubuh mungil nan pasrah itu. Dengan suara serak pertanda si pemilik suara sudah dalam posisi on hingga ke ubun ubun, Varo berbisik meminta izin kepada Rena yang berada dibawah tindihannya.
"Izinkan aku memilikimu seutuhnya sayang, jadilah istriku selamanya".
Dan satu anggukan dari Rena membuat Varo berhasil menanamkan semua kegalauannya kedalam goa kenikmatan. Penyatuan mereka terjadi, penyatuan yang seharusnya terlarang dilakukan sebelum menikah.
Varo benar benar meluapkan segala cinta dan sayang kepada Rena di malam itu. Terlebih saat dia menyadari sebuah lapisan masa depan milik Rena telah berhasil dirobeknya, misi yang selama ini menjadi tujuan utama akhirnya sudah selesai. Rena sudah dalam genggaman.
Tubuh Varo dan Rena bergetar hebat bersamaan dengan berakhirnya proses berbagi keringat mereka.
Varo terengah-engah dengan posisi berbaring di sebelah Rena. Hampir satu jam mereka melakukan olahraga berdua, separuh tenaga keduanya telah berganti dengan bulir bulir bening bernama keringat.
"Terimakasih sayang" Varo berucap sembari menarik Rena kedalam pelukannya.
__ADS_1
"Terimakasih telah memberikan semuanya kepadaku, aku berjanji akan membahagiakan mu sayang" Varo benar benar tulus kali ini. Tak disadari bulir air mata haru mengalir begitu saja di pipinya.
Varo dilanda rasa bersalah, tak seharusnya dia melakukan semua ini kepada Rena dengan niat yang salah. Rena pasti akan hancur jika mengetahui semua yang direncanakannya selama ini.
Sementara Rena, setelah semua yang baru saja terjadi antara dia dan Varo, merasakan takut dan penyesalan bersamaan.
Semua yang selama ini selalu menjadi kebanggaan dan selalu dijaganya telah musnah. Harga diri sebagai seorang wanita telah jatuh. Gadis itu merasa saat ini tubuhnya kotor dalam gelimang dosa, karena sebagai wanita beragama, Rena sangat paham dengan dosa berzina.
Rena melepaskan pelukan Varo dan menarik selimut yang bergeletakan di lantai. Dia membungkus tubuh seadanya dan berlari kedalam kamar mandi.
Varo mengamati semua yang dilakukan Rena. Ragu antara ingin mengejar dan menenangkan kekasihnya itu atau membiarkannya sendiri dulu.
.
.
.
"Re, buka pintunya sayang" bujuk Varo meminta Rena keluar.
"Rena, aku mohon buka pintunya, atau aku dobrak" Varo kehilangan kesabaran karena tak juga ada respon dari Rena.
__ADS_1
KLIKKK...
Pintu dibuka dari dalam.
Rena muncul dengan baju mandi di tubuhnya serta mata bengkak penuh tangisan. Wajahnya terus menunduk tak berani melihat Varo.
"Re, apakah sakit?, jelaskan apa yang sedang kamu alami?" dengan panik Varo memberondong Rena dengan pertanyaan.
"Hik..hik, aku takut kak, apa yang telah kita lakukan ini dosa" Isak Rena.
Varo mengusap kasar wajahnya. Semua yang Rena ucapkan benar dan dirinya pun saat ini sedang memikirkan hal yang sama.
"Aku janji Re, aku janji akan menebus ini semua secepatnya, kita akan menikah dalam waktu dekat, aku janji Re" ucap Varo menenangkan Rena.
Rena memberanikan diri menatap wajah di hadapannya saat ini. Kedua bola matanya bertemu dengan bola mata coklat milik Varo.
"Jangan menangis lagi ya sayang, aku sangat merasa jahat kalau kau terus menangis" bujuk Varo sembari mengusap sisa air mata di pipi Rena.
"Seorang wanita itu harga dirinya adalah kehormatan, dan aku sudah tak memilikinya kak" Rena kembali meluapkan perasannya.
"Maafkan aku yang telah merusak semuanya Re, beri waktu, paling lambat akhir tahun ini kita akan menikah" janji Varo terlontar begitu saja.
__ADS_1
Rena akhirnya luluh dan kembali memeluk Varo, bahkan satu ciuman hangat kembali dicuri Varo dari bibir gadis itu.