
Tengah malam Rena terbangun. Butuh waktu beberapa menit sampai akhirnya otaknya loading sempurna dan menyadari kalo iya sedang berada di apartemen Varo.
Rena bermimpi tentang ular ular yang mengerubunginya saat tidur. Hal ini membuatnya takut dan tak bisa tidur lagi.
Varo yang sudah terlelap di sofa dekat pojok kamar tak menyadari saat Rena berjalan mendekat kearahnya.
Rena duduk di lantai dibawah sofa, dia masih merasa trauma tidur diatas ranjang dengan memakai selimut, takut tiba tiba nanti dibawah selimutnya ada ular kecil yang sedang merayap.
Rena menyandarkan kepalanya ke kaki Varo, dengan posisi selonjoran, Rena kembali terlelap. Gadis itu lebih merasa aman jika tidur di sebelah orang yang bisa menjaganya.
Kedua insan itu benar benar terlelap karena kelelahan dengan aktivitas mereka seharian. Hingga beberapa menit setelahnya, Varo merasakan kakinya kebas tertimpa sesuatu.
Pria itu membuka mata dan menemukan Rena tengah terlelap berbantal sebelah kakinya, dan sebelah kakinya lagi dipegangi.
"Astaga Rena" Varo terkejut. Posisi Rena seperti itu sungguh tak nyaman, Varo merasakan iba di hatinya.
Dengan gerakan perlahan, Varo menarik kakinya dan melepaskan diri dari tubuh Rena. Sekarang dia melangkah kearah Rena yang masih tertidur pulas.
"Kamu pasti masih ketakutan ya sayang, tapi gak ngaku" ujar Varo sambil mengelus pipi gadis itu. Bibirnya menyunggingkan senyum penuh kehangatan.
Varo mengangkat tubuh Rena kedalam pangkuannya, dan memindahkan gadis itu kembali ke ranjang.
"Ringan banget sih dia, kurang makan pasti nih" ejek Varo dalam hati.
Rena menggeliat dan semakin menyusupkan tubuhnya kedalam pelukan Varo yang ada di sampingnya.
Varo merasakan desiran di dadanya kala Rena terus menggeliat mencari kehangatannya.
"Jangan salahkan aku ya" bisik Varo di telinga Rena.
Segera saja pria itu menggeser tubuh Rena ke tengah, hingga ia dapat ikut berbaring satu ranjang dengan Rena.
Varo mengambil selimut di kakinya untuk menutupi tubuh Rena yang menggoda. Terutama bagian dada Rena yang terbuka setengah.
.
__ADS_1
.
.
Jam 10 pagi di apartemen Varo.
Rena mengerjapkan mata menyesuaikan dengan pancaran cahaya terang di depannya.
Tubuhnya terasa berat karena ada sebuah lengan besar yang memeluknya. Rena tau itu tangan siapa, tapi dia bingung kenapa dia bisa satu ranjang dengan Varo.
"Kak bangun" Rena menggoyang goyangkan tubuh Varo hendak meminta penjelasan.
"Pagi sayang" Varo menyapa dengan suara serak khas bangun tidur.
"Kak Varo ingkar janji" Rena langsung melayangkan protes.
"Janji apa?" Varo mengucek ngucek matanya yang masih sangat ngantuk. Mereka baru mulai tidur pukul 4 pagi, itupun masih terbangun karena drama pindah ranjang, hingga Varo benar benar baru bisa tidur setelah subuh.
"Kak Varo tidurin aku lagi" pemilihan bahasa Rena sangat kacau kali ini.
"Kak Varo" Rena berteriak.
"Ssttt...Jangan teriak teriak, nanti tetangga sebelah terganggu" Varo membekap mulut Rena.
"Iya tapi jelaskan dulu" Rena masih emosi.
"Siapa yang pindah ke sofa semalam? siapa yang tidur diatas kaki aku?" sindir Varo.
"Em iya bener aku tidurnya pindah ke situ dekat kak Varo, karena takut ada ular" jawab Rena dengan suara pelan. Dia mulai sadar sepertinya sebentar lagi situasi akan berbalik arah.
"Nah pintar, ingat kan sekarang?" jawab Varo santai, dia membalikkan tubuhnya hendak kembali tidur.
"Tapi kak, itu kan disana" Rena menunjuk kearah sofa.
"Kenapa jadinya kita ada disini" Rena menunjuk ranjang tempatnya saat ini.
__ADS_1
"Ya ampun sayangku cintaku belum kelar juga ya penjelasan ini, baiklah, huft" Varo merubah posisinya menjadi setengah bersandar.
"Jadi, kaki aku kesemutan karena ditimpa kepala kamu, aku bangun, aku pindahin kamu ke ranjang ini" Varo menjelaskan.
Rena mengangguk angguk mengerti.
"Udah ya aku ngantuk, nanya lagi aku gigit ya" ucap Varo jutek. Pria itu kembali membalikkan tubuhnya dan menarik selimut hingga batas leher.
"Tapi terus kenapa kak Varo ikutan tidur disini? peluk peluk pula" Rena masih belum terima sepenuhnya penjelasan dari Varo.
"Arghhhh, ya Tuhan kenapa sih istri ku sebawel ini" Varo menggerutu.
"Kamu tarik aku, maksa aku tetap di samping kamu, gak mau lepasin aku" ucap Varo geram.
"Gak mungkin, mana ada aku seperti itu" Rena mengelak.
"Gak percaya? nih buktinya" Varo menyerahkan rekaman CCTV kamarnya.
Di kamar Varo memang terpasang CCTV, biasanya setelah sampai di kamar dia akan mematikannya, tapi semalam dia lupa. Tapi ada untungnya juga CCTV itu lupa dimatikan. Rena jadi tak dapat menuduh Varo macam macam.
Rena melongo dengan wajah bengong melihat rekaman di layar ponsel Varo. Di layar itu, tampak dirinya lah yang agresif menarik narik Varo dan tak melepaskan.
"Ehmm" Varo memberi kode kalau dia masih menunggu.
"Jadi gimana nona cantik?" tanya Varo dengan memasang wajah galak.
"Eh iya, maaf ya kak, ya udah kak Varo tidur lagi. aku mau siap siap" Rena berkelit.
Sebelum Rena berdiri dari ranjang Varo sudah terlebih dahulu menarik gadis itu hingga jatuh terjerembab menimpa tubuh Varo.
"Aku tadi udah kasih peringatan, sekali lagi aku diganggu kamu ku gigit, dan sekarang terimalah" Varo membalikkan posisi hingga sekarang dia menindih Rena.
Varo menghujani Rena dengan ciuman panas bertubi tubi. Tak hanya pipi dan bibir, bagian tubuh Rena yang lain pun tak dapat dihindari dari jamahan Varo.
Tapi hanya ciuman, cukup ciuman, saat Varo meminta lebih dalam Rena memasang wajah puppy eyes nya, dia memohon kepada Varo untuk tak melakukan. Rasa sayang pria itu membuatnya tak dapat menolak permintaan Rena. Permainan mereka akhirnya dilanjutkan dengan kembali berciuman mesra.
__ADS_1