
Pagi hari menyambut semangat baru di hati Varo.
Setelah menyelesaikan rutinitasnya di pagi hari, Varo bersiap pergi menemui Rena di yayasan. Mereka telah janjian untuk pergi bersama hari ini, bukan buat berduaan sebagai pasangan kekasih, melainkan untuk menyelidiki masa lalu Rena, sang anak hilang.
"Mas Varo udah ganteng aja pagi pagi" Zifa yang sedang menikmati sarapan di meja makan menyapa.
Gadis itu heran karena terasa ada yang berbeda dengan Varo. Biasanya Zifa hanya menikmati sarapannya sendirian, Varo baru akan keluar dari kamarnya setelah Zifa berangkat kuliah.
"Aku mau ke makam mama dulu pagi ini, setelah itu mau ke tempat Rena, mau temani dia nyari sesuatu" ucap Varo.
"Nanti ke makam tante aku titipkan salam ya mas" Zifa tampak sedikit sedih.
"Iya, tenang aja, pasti nanti aku salamin" Varo menjawab dengan tegar.
"Dek, hari ini mas pinjam dulu mobil kamu ya, mau mutar mutar soalnya, mas Varo janji, kalau nanti udah punya kerjaan, gaji pertama mas Varo buat traktir kamu" Varo membujuk Zifa.
"Hahaha, bisa aja mas Varo nyindirnya. Itu kan mobil mas Varo yang dikasih ke aku, kalau mau pakai pakai ajalah" Zifa menjawab.
"Justru karena mas udah kasih ke kamu, eh sekarang mau dipinjam lagi, roda terbalik ya dek, mas sekarang udah gak punya apa apa, pengangguran pula, sungguh menyedihkan" ucapan Varo dibuat seolah bercanda padahal ada kegetiran didalamnya.
__ADS_1
"Sabar ya mas, aku yakin setelah ini mas pasti bisa bangkit lagi" Zifa mencoba menyemangati Varo.
"Iya, makasih ya" Varo mengacak acak rambut adiknya itu.
"Tapi ngomong ngomong, semalam kamu kemana? dijemput cowok kata si mba" pertanyaan Varo menyelidik.
"Eh itu, anu,emm" Zifa salah tingkah. Dia khawatir kalau Varo mengetahui dengan siapa dia pergi.
"Pergi sama teman, diajak makan makan aja" Zifa berbohong.
"Haha, santai aja lagi. kalaupun pergi sama pacar kamu juga gak apa apa kok, yang penting kenalin dulu sama mas" Varo memperingatkan.
.
.
.
Varo telah sampai di pemakaman sang mama. Dengan khusyuk pria itu berdoa dan menaburkan bunga.
__ADS_1
"Ma, doakan Varo ya, hidup Varo dimulai dari nol saat ini, minggu depan Varo akan bekerja di perusahaan kecil dengan jabatan rendah, Varo harus menerima ini semua ma, semoga doa doa mama selalu mengiringi Varo ya" pria itu bermonolog sendiri, seolah sang mama ada di hadapannya saat ini.
Varo memang telah mendaftar untuk bekerja di sebuah perusahaan yang baru merintis. Perusahaan kecil yang tak sebanding dengan miliknya dulu, dan karena kredibilitas Varo yang dicatat buruk saat dulu masih memegang perusahaan sang ayah, sulit baginya untuk mendapatkan kepercayaan lebih. Varo hanya mendapatkan tempat sebagai staf biasa, tentunya juga dengan gaji yang tak banyak, namun semua itu tetap disyukuri oleh pria itu. Dia ikhlas menjalani semua cobaan yang sedang menimpa tanpa mengeluh sedikitpun.
Selesai dari urusan di pemakaman, Varo melajukan mobilnya menuju ke yayasan rumah Rena.
"Pagi Re, udah siap?" Varo turun dari mobil dan menyapa Rena yang telah berdiri di depan gerbang menunggunya.
"Udah kak, berangkat langsung aja ya" Rena tampak tak sabar.
"Kamu udah sarapan?" didalam mobil Varo menanyakan kondisi Rena.
"Belum, tapi nanti aja, aku belum lapar" Rena terlalu bersemangat hingga mengabaikan sarapannya.
Varo paham, Rena tak bisa dipaksa, namun ia memiliki trik lain agar Rena mau sarapan terlebih dahulu.
"Re, perut aku sakit banget, lapar karena belum makan, boleh gak kita mampir sebentar buat sarapan?" Varo memulai aksinya.
"Oh ya ampun, kak Varo belum sarapan?, ya udah ayo kita mampir dulu, kan masih masa penyembuhan, jangan telat makan kak" Rena terlihat begitu perhatian.
__ADS_1
Senyum Varo terkembang lebar, Rena masih begitu peduli kepadanya.