Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
petualangan berdua


__ADS_3

"Kita makan dulu ya, dari semalam pasti kamu belum makan" ucap Varo saat Rena sudah berhasil ditenangkan.


"A..aku takut pulang kak" Rena malah membahas hal lain yang menjadi pikirannya.


"Tenanglah. jangan memikirkan hal lain dulu" dengan bijak Varo menenangkan Rena, padahal dia sendiri kebingungan.


Varo yakin saat ini sang mama sudah mengetahui kalau Rena berhasil diselamatkan. Dan orang orang suruhan mamanya pasti telah menjaga lokasi lokasi yang sering dikunjunginya, termasuk apartemen pribadinya.


Varo memesan makanan lewat pelayanan Drive thru di sebuah restoran cepat saji. Karena untuk makan di tempat dengan kondisi Rena yang kacau dan kondisi keamanan yang juga belum stabil, Varo tak bisa berspekulasi.


.


.


.


Varo dan Rena menghabiskan makanan mereka didepan sebuah taman yang berada tak jauh dari restoran cepat saji tersebut.


Varo sangat senang melihat Rena makan begitu lahap, karena inilah hal yang dikhawatirkannya sejak semalam. Varo takut Rena kelaparan karena disekap berjam jam oleh para preman suruhan mamanya.


Varo terus menatap cara makan Rena, gadis itu benar benar tak ada sedikitpun jaga image didepan Varo. Hal ini membuat Varo merasa dihargai, bibirnya tak henti mengulum senyum.


Rena yang sadar Varo tengah menatapnya, tiba tiba menghentikan makannya.


"Kak Varo, maaf aku belepotan ya" Rena salah tingkah.

__ADS_1


"Kamu kalau lagi makan, bikin gemes" ucap Varo spontan.


Rena tersipu malu mendengar ucapan Varo, wajahnya kembali bersemu merah.


.


.


.


Acara makan siang selesai. Mereka benar benar tak bisa berlama-lama. Hanya ada sedikit waktu sampai keberadaan mereka terlacak oleh orang orang bayaran itu.


Varo memutuskan untuk membawa Rena jauh ke luar kota. Mereka hanya akan pergi berdua. Tanpa sopir dan tanpa mobil.


Ini sekaligus menjadi cara Varo untuk menguji siapa Rena. Tanpa kekayaan, apakah Rena masih nyaman bersamanya, atau malah sebaliknya.


Rena dan Varo sedang berada didalam travel antar provinsi. Penampilan mereka berdua kali ini terlihat sangat berbeda dan pastinya sulit dikenali.


Varo dan Rena memakai jaket dibalik bajunya, dan menggunakan masker sebagai penutup wajah.


"Kak, kita mau kemana? dan kenapa kita seperti orang yang sedang dalam pelarian?" Rena masih bingung dengan apa yang terjadi.


Yang Rena tau adalah dia diculik oleh preman yang salah sasaran. Mungkin saja preman itu mengira dirinya kaya dan bisa diminta tebusan.


Dan saat ini dia telah terbebas dari penculikan tersebut, dan rasanya tidak mungkin para preman itu masih mengejar dia dan Varo.

__ADS_1


Hanya sesederhana itu pemikiran Rena.


"Kita ke desa xxx, nanti akan aku ceritakan semuanya" jawab Varo.


Sepanjang perjalanan, Varo terus menggenggam tangan Rena, seolah gadis itu akan menghilang jika terlepas dari genggamannya.


Tengah malam menjelang, kedua insan itu masih berada di perjalanan menuju luar kota. Rena yang kelelahan, sudah terlelap dengan nyaman dalam pelukan Varo.


Sementara Varo, pikirannya masih menerawang tak tentu arah. Ada rasa ragu dalam hatinya, "apa tindakan ku ini benar?, apa pantas anak seorang pembunuh ini aku lindungi?" jerit hati Varo.


Namun tatkala iya melihat wajah Rena yang begitu polos, rasa tak tega menyelimuti hati Varo. Rena hanyalah korban pelampiasan amarah dan dendam keluarganya. Andai Rena bisa memilih takdir untuknya, tentulah bukan yang seperti ini yang dia harapkan.


Rena gadis yang baik, dan sudah seharusnya dia mendapatkan kebahagian.


.


.


.


Setelah melewati perjalanan cukup panjang, Varo dan Rena sampai di sebuah desa terpencil di kaki gunung.


Jam di tangan Varo menunjukkan pukul 5 subuh. Suasana masih gelap remang remang. Matahari belum menampakkan dirinya.


"Kak, kita sholat dulu, itu ada mesjid" Rena mengajak Varo untuk mengendorkan syaraf yang tegang dengan beribadah. Persis saat mereka sampai adzan subuh berkumandang.

__ADS_1


Varo menyiram wajah dan tubuhnya dengan air yang segar dari kaki bukit. Sensasi tersendiri baginya, hati dan pikirannya kembali menjadi tenang.


"Bismillah, apa yang aku lakukan, adalah jalan terbaik, maafkan Varo ma" kali ini dengan yakin Varo bergumam.


__ADS_2