
Varo tertidur hampir dua jam. Tidur lelapnya terganggu karena dibangunkan oleh Rena.
"Kak Varo dari tadi pihak rumah sakit terus menghubungi, aku khawatir ada yang penting" Rena terlihat agak panik.
Varo segera bangkit dan mengambil ponsel yang dipegang Rena. Dengan nyawa yang belum terkumpul sempurna iya mengangkat panggilan yang kembali masuk di ponselnya itu.
"Baik dok, saya segera kesana" wajah Varo berubah pias. Tampaknya sesuatu yang tak beres sedang terjadi.
"Rena, mama sempat sadar dan memanggil namamu, bolehkah kau menemui beliau sebentar?" Varo berkata dengan ragu.
"Tentu kak, Rena juga ingin berjumpa beliau" Rena meyakinkan.
"Makasih ya, ayo kita segera ke rumah sakit" Varo menyambar kunci mobilnya diatas nakas dan bergegas keluar menuju parkiran, dengan Rena di sampingnya.
Sepanjang perjalanan Varo lebih banyak diam. Pikirannya terus menerawang. Mamanya ingin menemui Rena, apa yang akan beliau sampaikan, akankah hubungannya yang telah membaik ini kembali hancur?, rasa khawatir itu tak dapat ditepis.
"Kak Varo kenapa? kelihatan panik?" Rena bertanya karena baru saja pria itu melakukan rem mendadak, dia nyaris menabrak kendaraan yang ada di depannya akibat tak fokus.
"Maaf Re, aku mengkhawatirkan mama" jawab Varo setengah berbohong.
"Rena, nanti kalau mama mengucapkan kalimat yang menyakiti hatimu, aku mohon jangan dibawa perasaan ya" meskipun ragu Varo mengungkapkan kegelisahannya.
"Oh kak Varo dari tadi mikirin ini?" Rena tersenyum.
__ADS_1
"Tenang saja kak, aku udah terbiasa kok, kalau ada pemilihan rekor MURI untuk pendengar ucapan menyakitkan terbanyak, mungkin aku bisa masuk nominasi" ucap Rena dengan santai.
Varo terdiam mendengar ucapan Rena. Terasa sangat menyindirnya.
Tak lama, Varo dan Rena sampai di pelataran rumah sakit. Setelah memarkirkan mobil, mereka bergegas ke ruangan ICU tempat Bu Lidya dirawat.
.
.
.
Varo menatap dari pintu kaca, Rena sedang memegang tangan mamanya. Tampak kedua wanita itu menangis.
Bu Lidya yang masih menggunakan selang oksigen tampak berbeda, tak ada kebencian untuk Rena, bahkan menciumi tangan Rena.
"Andai dari dulu seperti ini, mungkin aku sudah menjadi pria paling bahagia di dunia" tambah Varo.
Tapi bagaimanapun, saat ini Varo sangat bersyukur, akhirnya Rena dan sang mama bisa saling bermaafan, meskipun kisah cinta diantara mereka tak akan bisa diulang seperti dulu.
.
.
__ADS_1
.
"Re, mama bilang apa?" Varo tak sabar. Rena yang baru saja keluar dari ruangan langsung diberondong pertanyaan.
"Kak Varo diminta masuk" suara Rena terdengar serak, matanya bengkak, sisa tangisan masih tampak jelas di wajah cantiknya.
Varo ragu membiarkan Rena sendiri, tapi mamanya saat ini membutuhkannya, Varo bergegas masuk kedalam.
Sementara Varo didalam Rena memutuskan kembali ke hotel sendirian. Meskipun Rena telah mengetahui semua tujuan Varo menyakitinya dulu, tapi tambahan informasi dari Bu Lidya barusan membuatnya sangat terkejut. Ternyata masih banyak rahasia hidupnya yang terpendam.
.
.
.
"Mama, syukurlah mama udah sadar" Varo menyapa mamanya yang terbaring lemah.
"Nak, kemarilah" suara mamanya terdengar sangat pelan.
"Varo, maafkan mama".
"Mama, jangan terlalu dipaksakan, mama baru saja sadar dari koma" Varo khawatir.
__ADS_1
"Varo, keluarga Rena sebenarnya adalah Desi, tolong cari tau secepatnya dan kembalikan Rena ke keluarga aslinya. Rena adalah korban keegoisan dan dendam mama, tolong tebus rasa bersalah mama, jaga Rena, kembalikan kebahagiaannya" nafas sang mama tersengal sengal.
"Dokter, tolong dokter" Varo histeris, garis nafas di monitor alat pernafasan sang mama tampak tak stabil, sebelum dokter datang Bu Lidya kejang dan akhirnya kembali kritis.