Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Sarapan bersama-jaga jarak


__ADS_3

Pagi hari akhirnya datang.


Sepanjang malam dokter Desi berjaga jaga memantau keadaan Rena. Dokter baik hati itu terpaksa kembali menginap di yayasan. Dia takut sesuatu diluar kendali terjadi kepada Rena.


Untunglah dia memiliki suami dan anak anak yang baik hati juga. Mereka mengerti pekerjaan Desi yang mengharuskan dia standby sewaktu waktu untuk menangani pasiennya.


Setelah melaksanakan kewajiban rutin subuh sebagai umat muslim, Rena memilih menghirup udara segar di teras depan yayasan.


Suasana masih sangat sejuk dan gelap. Matahari belum muncul. Beberapa menit Rena diluar, matanya menangkap sesuatu yang tak biasa.


Sebuah mobil sedan mewah terparkir di halaman rumahnya. Dia mengenali mobil itu. Mobil yang dulu sering dipakai Varo untuk mengantar jemput nya saat mereka hidup bersama.


"Dia gak pulang?" Rena bertanya tanya dalam hati.


Rasa takut dan panik Rena kepada Varo meskipun masih ada, namun tak separah dulu, dia lebih bisa mengendalikan emosinya menjadi stabil.


Rena berjalan perlahan lahan mendekati mobil itu. Mesin mobil itu mati dan kaca mobilnya terbuka lebar. Dibalik mobil itu Rena bisa melihat Varo yang tidur dengan posisi tak nyaman.


Pria itu sibuk menggaruk garuk tubuhnya karena serbuan nyamuk. Mata Varo masih tertutup, dia tampak sangat lelah.


Rena diam berdiri di tempatnya, dia tak ingin membuat Varo bangun dan mengetahui keberadaannya.

__ADS_1


Rena bergegas kembali ke dalam rumah. Sesampainya di dalam, dia bertemu dengan kak Desi yang sedang menyiapkan sarapan.


"Eh dek darimana? kok udah ngilang pagi pagi" Desi menyapa.


"Em,,,itu kak, emm" Rena bingung mengucapkan.


"Ada apa dek?" Desi mendekati Rena.


"Orang itu, dari semalam kayaknya dia gak pulang, dia,,,dia tidur di mobilnya, didepan" Rena menyampaikan dengan terbata bata.


"Hah masa sih, astaga, sekuat itu dia memperjuangkan cinta" Desi menggoda Rena dengan ucapannya.


"Rena masuk dulu kak" Rena memilih masuk kedalam kamar untuk menghilangkan debar jantungnya.


"Terserah kakak aja" jawab gadis itu dan berlalu masuk ke kamarnya.


Desi hanya bisa tersenyum melihat wajah Rena yang merah malu malu. Belum pernah dia melihat Rena seperti ini. Desi yakin ikatan cinta antara Rena dan Varo masih sangat kuat. Dia akan membantu pasangan itu menemukan jalannya.


.


.

__ADS_1


.


Rena baru keluar dari kamarnya. Setelah selesai mandi dan lebih segar, mood nya pun menjadi lebih baik.


Rena berjalan kearah ruang makan, langkahnya terhenti melihat siapa yang sedang duduk dan mengobrol bersama adik adik asuhnya.


"Dek, Varo ijin sarapan disini ya, kasihan dari semalam belum makan" Desi mendramatisir keadaan Varo.


Rena berjalan menunduk dan duduk di ujung meja yang jauh dari Varo. Meja makan itu memang luas, karena biasa digunakan untuk makan bersama hampir semua penghuni yayasan yang lebih dari tiga puluh orang.


Varo melirik sekilas kearah Rena yang tampak lebih segar.


"Gak apa Re, satu ruangan sama kamu aja aku udah bahagia" batin Varo.


Sarapan kali ini berjalan dalam diam, terutama untuk Rena dan Varo. Rena terus menunduk tak mau melihat kearah laki laki yang telah melukainya itu.


Desi menyelesaikan makannya dengan cepat, begitu juga dengan anak anak yang lain. Seolah olah mereka kompak untuk meninggalkan Rena berdua saja dengan Varo.


Rena yang makan terus menunduk tak menyadari tak ada orang lain di sekitarnya, kecuali Varo yang kini duduk persis di seberang mejanya dan sedang memandanginya.


Rena melihat senyum itu lagi saat mengangkat kepalanya. Senyuman lembut yang dulu pernah membuatnya terlena.

__ADS_1


Rena bergegas menghentikan makannya dan berniat pergi dari tempat itu secepatnya.


__ADS_2