Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Pas foto buku nikah


__ADS_3

Rena menatap lembar demi lembar surat surat penting miliknya yang selama ini tersimpan rapi dalam kotak penyimpanannya.


Niat awalnya untuk mengambil pasport yang diminta Kiara, tetapi Rena malah terjebak dalam ingatan masa lalu.


Rena masih ingat betul alasan utamanya membuat paspor beberapa tahun yang lalu. Saat itu Varo menjanjikan berbulan madu keluar negeri setelah acara pernikahan mereka.


Namun ternyata impian indah itu hanya sekedar janji manis, tak pernah terjadi. Jangankan bulan madu, pernikahan nya pun tak pernah terwujud.


Rena tersenyum getir melihat paspor miliknya itu masih polos belum ada cap apapun didalamnya. Hampir tiga tahun lebih paspor itu masih tetap kosong.


Rena menepis pikiran yang mulai membuat nya sedih, dia kembali membuka isi kotak yang lain. Matanya tertuju ke sebuah plastik kecil berisi pas foto miliknya dan Varo. Pas foto berlatar biru yang digunakan sebagai syarat pendaftaran pernikahan.


DEG...


Jantung Rena berdetak lebih kencang saat melihat wajah didalam pas foto itu. Wajah Varo, orang yang dulu sangat dicintainya. Di foto itu Varo tampak tersenyum, dulu Rena berpikir itu adalah senyuman tulus penuh cinta kepadanya, tapi nyatanya itu adalah senyuman penuh kepura puraan.


"Hai Re, lagi ngapain?, mana paspornya? aku nungguin dari tadi malah kamu gak keluar keluar kamar" Kiara nyerocos membuat Rena kembali ke dunia nyata.


"Eh, siapa nih?" Kiara memergoki Rena yang masih memegang foto Varo.


Rena tergagap, dia berusaha mengambil kembali foto Varo yang direbut Kiara.


"Cakep bener" Kiara menggoda Rena.

__ADS_1


"Cekrekkk" Kiara mengambil foto pasfoto Varo itu lewat ponselnya.


"Ngapain kamu foto?" Rena menegur Kiara yang mengambil foto Varo tanpa izin.


"Mau aku koleksi, foto orang cakep" jawab Kiara usil. Gadis itu berlari keluar menghindari lemparan bantal dari Rena yang sedang kesal.


Drtttt..... drtttt....


Ponsel Varo berbunyi pertanda ada pesan masuk.


DEG....


Tak terkira rasa yang muncul dihati Varo saat membaca pesan yang dikirim oleh Kiara.


Varo memandang foto itu, dia kembali teringat momen dimana dirinya dan Rena mempersiapkan berkas pernikahan mereka berdua. Sungguh indah kala itu, Varo masih bisa mengingat senyum malu malu Rena saat Varo memanggilnya dengan sebutan istriku. Rasa rindu memenuhi ruang hati Varo.


.


.


.


"Mas Varo, gimana kabar tante?" Zifa saat ini menghubungi sang kakak sepupu kesayangannya.

__ADS_1


"Masih koma dek, tapi semalam udah bisa gerak jarinya" Varo menjelaskan.


"Maaf ya mas, aku masih belum bisa kesana, jadwal kuliah aku padat" Zifa menyampaikan penyesalannya.


"Iya gak apa, lagian kalo kamu kesini aku malah tambah repot" Varo menggoda adiknya itu.


"Ih apaan sih mas Varo, kata katanya gak pernah bikin adem hati, pantasan aja kak Rena gak bisa maafin dari dulu" Zifa keceplosan.


"Oops" Zifa menyadari ucapannya tak sopan. Varo yang terdiam membuat Zifa semakin tak enak hati.


"Maaf mas, aku gak serius Lo, becanda" Zifa berusaha membujuk Varo.


"Iya gak apa" Varo menjawab singkat dari seberang telepon.


"Mas marah ya?" Zifa memastikan.


"Gak, mas Varo gak marah, tapi ini pas ada pelanggan rame, mas matiin dulu ya" Varo memutus sambungan telepon.


"Duh mulut ini emang gak ada remnya, kasihan mas Varo" Zifa mengutuk dirinya sendiri.


"Eh sebenarnya kak Rena sama mas Varo ini kenapa ya? aku belum sempat mencari tahu" kadar ke ingin tahuan Zifa meningkat drastis.


"Aku main ke yayasan ah, sekalian lihat adek adek disana, semoga kak Rena gak ikutan benci aku" Zifa bertekad.

__ADS_1


Segera gadis itu mengambil tas dan kunci mobilnya, dia melaju menuju ke yayasan xxx tempat Rena berada


__ADS_2