Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Mencari kios


__ADS_3

Pagi hari menyambut.


Rena bersiap menyambut pagi dengan semangat. Meskipun tak lagi bisa kuliah, tapi semangatnya tak padam. Rena sudah terlatih kecewa berkali kali. Hari ini dia membangun semangat menguatkan hatinya sendiri.


"Aku pasti bisa menjadi orang sukses, meskipun tanpa gelar sarjana" gumam Rena sendiri.


Drtt...drtttt ponsel berdering.


"Pagi sayang, jadi nyari lokasi hari ini?" Varo menelepon Rena.


"Jadi kak, ini udah siap siap" jawab Rena.


"Ok, sepuluh menit lagi aku sampai" Varo menjelaskan.


"Kak Varo mau temani aku ya, wah senangnya, aku pikir kak Varo masuk kerja" Rena kegirangan.


"Iya aku temani, aku mau terlibat dalam semua urusan kamu" Varo menjelaskan.


Rena tersenyum sendiri dibalik ponselnya karena mendapat perhatian begitu besar dari kekasihnya itu.


"Ok kak, aku keluar sekarang" Rena memutus sambungan telepon.


Di depan kamar Rena berpapasan dengan bapak, ibu dan adiknya yang sedang sarapan. Mereka tak menawari sama sekali Rena untuk bergabung.


"Sudah mau berangkat ya, mana uang belanja? semalam kamu pulang malam ibu udah ketiduran" tanpa basa basi sang ibu meminta uang Rena.


Mereka tak peduli apa pekerjaan Rena, bagaimana keadaan Rena, mereka benar benar tak peduli. Yang penting setoran Rena lancar.


"Ini Bu" Rena menyerahkan sejumlah uang untuk belanja keluarganya pagi ini.


"Ya sudah sana, cari uang yang banyak" tanpa menawarkan sarapan untuk Rena, Bu Wiya menerima uang dan melanjutkan sarapannya.

__ADS_1


Rena melangkah menuju keluar. Bersiap berkeluh kesah dengan belahan jiwanya.


"Ayo masuk" Varo menghentikan mobilnya persis didepan Rena yang berdiri di pinggir jalan.


"Kita mau kemana dulu?" Varo bertanya arah tujuan mereka.


"Aku mau cari kios kecil untuk jualan gorengan kak, kalo bisa dekat dekat sini aja" Jelas Rena.


"Ayo kita mulai, kemarin aku lihat di dekat sana ada" Varo menunjuk ke lokasi yang ditujunya.


Ternyata mencari kios untuk berjualan tak semudah yang dipikirkan Rena. Sudah beberapa lokasi ditinjaunya akan tetapi selalu saja ada masalah. Kendala harga yang terlalu tinggi, kondisi bangunan yang buruk dan lain sebagainya.


Varo bersikeras menawarkan bantuan uang kepada Rena, namun gadis itu terus menolak, dia mau memulai usaha dengan hasil kerja kerasnya sendiri.


Mau tak mau Varo mengalah, dia mulai mengandalkan jurus rahasianya. Mengatur semuanya seolah olah kebetulan agar Rena terus dalam kendalinya.


Diam diam Varo mengutus orang orang kepercayaannya menyewa satu kios yang layak di daerah sekitar apartemen.


Kios itu sudah dibayar dengan harga mahal, dan nanti rencananya Varo akan menggiring Rena untuk menyewa. Harga rendah yang disebutkan oleh si pemilik kios yang sudah bekerjasama dengan Varo tentu akan membuat Rena sangat tertarik. Ide yang licik.


"Boleh kak, ayo lihat kesana dulu" Rena bersemangat.


"Maaf ya kak, aku menyita banyak banget waktu kak Varo hari ini, sangat merepotkan" ujar Rena tak enak hati.


"Tak apa, nanti aku minta bayaran" jawab Varo becanda sambil mengusap lembut rambut Rena.


"Siap, nanti kalo udah dapat kepastian jualan, aku bayar ya" Rena menganggap serius permintaan Varo.


"Emang tau apa yang mau kuminta?" tanya Varo lagi. Mobil terus melaju mengiringi percakapan kedua insan itu.


"Apa kak?" Rena kebingungan.

__ADS_1


"Cup" Varo mengecup pipi Rena sekilas sambil terus menyetir.


"Udah lunas" jawab Varo tersenyum.


"Kak Varo, bahaya banget sih nyetir sambil mesum, ntar nabrak" panik Rena.


"Jangan meragukan kemampuan ku sayang, nyetir sambil peluk kamu juga aku bisa" goda Varo lagi.


"Aww" tiba tiba saja pria mesum itu menjerit karena Rena mencubit pinggangnya.


"Awas nanti ku balas ya" Varo berlagak mengancam.


"Hahaha" mereka tertawa bersama.


.


.


.


"Alhamdulillah ya kak, akhirnya nemu tempat yang pas" Rena dan Varo telah selesai melihat lokasi yang akan dijadikan tempat berjualan.


"Iya, capek, pegal" Varo mengeluh mencari perhatian Rena.


"Astaga, maaf ya kak" Rena yang polos menjadi tak enak hati.


"Ntar pijit aku ya" pinta Varo.


"Iya nanti panggil tukang pijit aja, aku temani" tolak Rena halus.


"Gak mau, maunya dipijit kamu" goda Varo.

__ADS_1


"Gak mau, nikah dulu" jawab Rena lagi.


Varo gemas dengan kekasihnya yang sudah mulai berani membantah, dia mencubit hidung Rena.


__ADS_2