Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Jamu penambah


__ADS_3

Hari berlalu, Varo dan Rena menjalani kehidupan seperti biasa. Meskipun mereka hidup bersama dalam satu atap, tapi tak ada kontak fisik, Varo benar benar menepati janjinya. Rena akan dijaganya sampai hari pernikahan.


Pagi ini Varo sudah menyiapkan semua berkas berkas yang diperlukan untuk pendaftaran pernikahan.


Pria itu memilih turun tangan sendiri untuk mengurus semuanya. Beberapa kali Adam sang asisten menawarkan diri, namun Varo bersikeras ingin menyiapkan semuanya sendiri, termasuk mengikuti aturan mengantri di kantor kelurahan.


Ini hal penting dalam hidupnya. Hal pertama dan sangat penting, yaitu pernikahan. Varo juga bertekad ini merupakan pernikahan satu satunya. Dia akan hidup langgeng bersama Rena sampai akhir hayat.


"Antrian no 19" panggilan dari microphone kantor pendaftaran. Varo berdiri dan melangkah menuju sumber suara. Rena mengikuti di belakangnya.


"Pernikahan itu adalah sesuatu yang sakral. Jangan pernah dipermainkan. Jangan pernah menyalahi tujuan awal pernikahan, kalian harus berbagi suka dan duka seumur hidup." Kalimat nasehat pernikahan itu terus terngiang-ngiang di otak Varo.


Hampir dua jam urusan berkas berkas pernikahan selesai. Varo menggandeng Rena masuk kedalam mobil. Baru saja Rena duduk didalam mobil Varo langsung memeluknya.


"Kak, kenapa?" Rena bingung dengan sikap Varo. Mata pria itu nampak berkaca kaca sedari tadi.


"Aku memulai hubungan ini dengan kesalahan, tapi aku janji akan menjaga pernikahan ini, aku mencintaimu" Varo masih memeluk Rena dengan suara yang bergetar.


Rena yang polos, menganggap ucapan Varo adalah karena dulu Varo menjadikannya selingkuhan. Dia tak mengetahui sebusuk apa dulu rencana Varo untuk hidupnya.


"Kak Varo, yang penting sekarang, kita akan menata masa depan kita, aku janji mau jadi Istri yang baik buat kamu, terimakasih ya sudah memilih aku menjadi istri" Rena menjawab dengan begitu manis.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Rena dan Varo sedang bersantai menikmati sore mereka di balkon apartemen.


Semenjak ada Rena yang tinggal bersamanya, Varo memang lebih sering menghabiskan waktu di rumah.

__ADS_1


Dia yang biasanya pulang ke apartemen hanya untuk tidur sekarang hampir sama sekali tak melakukannya lagi.


Contohnya sore ini, masih terlalu cerah namun mereka sudah bersantai menikmati angin. Varo terbawa gaya hidup Rena yang tak suka keluyuran.


"Kak, kalau Aulia dan Aldy main kesini boleh gak? tadi mereka telepon, katanya mau mampir sini" Rena menanyakan pendapat Varo dengan takut.


"Ya boleh dong, aku malah senang, jadi kamu gak bosan, ada yang menemani kamu selama aku kerja" jawab Varo sambil menyeruput teh hangatnya.


"Wah kak Varo emang yang terbaik, makasih ya kak" Rena mengecup pipi pria yang menjadi kekasihnya itu.


"Rena tolong jangan mulai, atau aku tak akan terkendali" Varo memperingatkan sambil mengusap usap pipinya yang dikecup Rena.


"Hahaha, dasar mesum, digodain dikit aja langsung kumat" ledek Rena sambil berlari masuk kedalam rumah.


Sepuluh Oktober, itulah tanggal pernikahan yang sudah dipilih Varo dan Rena. Itu artinya dua bulan saja waktu mereka untuk mempersiapkan pernikahan impian mereka.


Menjelang hari pernikahan, Rena disibukkan dengan segala macam keriwuhan. Mulai dari pilih memilih undangan, souvenir, gedung tempat resepsi dan gaun pengantin.


Varo juga sudah akrab dengan sahabat calon istrinya itu. Tak jarang Varo menjamu mereka dengan makanan lezat hasil karyanya yang seorang chef ahli memasak.


.


.


.


Pagi ini Varo menemani Rena ke butik untuk fitting terakhir baju pengantinnya. Saat Rena memakai gaun putih sederhana namun elegan itu di tubuhnya, Varo terkesima tak berkedip. Rena begitu mempesona. Auranya begitu terpancar dengan gaun yang indah itu.

__ADS_1


"Kamu cantik sekali sayang" puji Varo saat mendekati Rena.


Wajah Rena bersemu merah mendengar pujian Varo di depan para pegawai butik. Mereka berbisik bisik iri melihat kemesraan Varo kepada Rena.


.


.


.


Sepulangnya dari butik hari sudah sore. Rena dan Varo membungkus beberapa makanan termasuk sate kambing pesanan Alya. Hari ini teman teman Rena akan makan malam bersama di apartemen Varo.


"Kak, itu ada mbok jamu, kita minum dulu ya, badan aku pegal pegal" ajak Rena sambil menunjuk kios jamu tradisional yang berada tak jauh dari tempat mereka memesan sate.


"Ayo, aku juga mau jamu pegal" ucap Varo mengiyakan.


Rena memesan dua jamu pegal linu kepada ibu ibu penjual jamu tersebut. Selama menunggu jamu pesanan mereka selesai dibuatkan, Varo dan Rena tak henti bercanda. Mereka terlihat bak pasangan pengantin baru. Membuat si penjual jamu salah paham.


"Mba nya dan mas nya pasangan baru ya?" si ibu bertanya dengan sopan sambil terus mengaduk jamu yang dibuatnya.


"Iya Bu" Varo menjawab iseng. Dia tak menyangka ucapannya ini akan mengakibatkan sesuatu yang akan terjadi sebentar lagi pada dirinya dan Rena.


Tak disangka, si ibu penjual jamu menambahkan ramuan penambah libido kedalam gelas milik Rena dan Varo. Si ibu benar benar menyangka pasangan itu memesan jamu pegal karena kehabisan stamina menjadi pengantin baru.


Saat Rena dan Varo telah menghabiskan semua isi gelas dan hendak membayar, si ibu tersenyum penuh arti.


"Semangat yo nak, dijamin efeknya sampai pagi. Semoga cepat dapat momongan" celoteh si ibu penjual jamu itu.

__ADS_1


"Siap Bu" sahut Varo yang menyangka itu cuma bercanda dan tak serius.


Pasangan itupun berlalu dari tempat itu. dengan beberapa bungkusan sate di tangan mereka.


__ADS_2