
Dokter masuk kedalam ruangan untuk memeriksa Rena. Varo menarik nafas lega karena sesuai penjelasan dokter kondisi Rena stabil dan akan segera siuman.
Selepas kepergian dokter, tinggallah Varo dan Rena saja dalam ruangan itu. Pria itu terus menatap wajah pucat milik Rena.
Sebuah rencana terlintas dalam pikirannya. Varo bergegas menghubungi sahabatnya kiara, seorang dokter bedah plastik terkenal dari negara seberang.
Varo berbicara lewat telepon dengan serius, Tampaknya ada satu perjanjian yang sedang dibuat oleh Varo.
Tak lama, jari Rena mulai bergerak pertanda kesadarannya mulai pulih. Varo panik dan bergegas memanggil dokter. Sementara dia sendiri tak berani masuk, hanya mengintip dari belakang pintu masuk.
.
.
.
Dokter telah selesai memeriksa Rena, saat ini gadis itu telah sepenuhnya kembali sadar. Varo masih berada di tempatnya. Menjaga Rena diluar ruangan tak berani masuk. Kejadian Rena pingsan kemarin masih membekas, Varo tak sanggup membayangkan seandainya ini kembali terjadi.
Tampak dari ujung lorong Niko kembali datang. Pria itu berjalan santai mendekat kearah Varo.
"Hallo bro. kok diluar?" tanya Niko.
"Rena udah sadar, gue pamit" Varo bergegas pergi setelah kedatangan Niko.
Niko sedikit bingung. Dia yang tak mengetahui siapa Varo sebenarnya, merasa aneh dengan kelakuan Varo. Niko hanya berpikir Varo seorang teman Rena yang pergi terburu buru karena ada urusan.
"Hallo Rena, Alhamdulillah kamu sudah sadar" Niko menyapa Rena yang sedang termenung sendirian.
__ADS_1
Rena memberi senyuman tipis kepada Niko, setelah itu dia kembali membuang pandangannya keluar jendela.
Niko tampak terus berusaha menghibur Rena. Mereka terlibat percakapan dan sesekali Rena tersenyum mendengar ucapan Niko. Tanpa mereka sadari sepasang mata melihat keakraban mereka dengan pilu. Varo masih disana, mengawasi dan melihat interaksi Rena dengan Niko. Kadar kepercayaan dirinya kembali merosot jatuh.
.
.
.
Varo kembali ke ruangan sang ibu.
"Dek dokter dah visit?" Varo bertanya kepada Zifa yang sedang memainkan ponselnya.
"Udah mas" Zifa tampak ragu. Terlihat dari wajahnya.
"Kata dokter, tante stroke, pembuluh darah di otak tante pecah. Kemungkinan akan dirawat dalam waktu lama" Zifa menjelaskan.
Varo mengusap kasar wajahnya. Kondisi mamanya jauh dari perkiraan. Lebih parah dari prediksi awalnya.
"Mas, aku izin ke rumah sebentar, ambil laptop sama buku kuliah aku, nanti aku belajar online disini lagi" ucap Zifa.
"Pinjam kunci mobil dong, aku kan kesini naik ambulance, jadi gak bawa mobil, ini aja pakai sandal jepit saking paniknya" Zifa kembali berceloteh.
Varo mengambil kunci mobilnya dan melempar kearah Zifa.
Gadis itu pamit dan berlalu dari ruangan perawatan sang tante.
__ADS_1
Zifa menunggu lift yang akan membawanya ke parkiran di lantai basement.
Saat memasuki lift, gadis itu terpaku karena melihat sosok tampan didalamnya.
"Whua,,cakep banget nih om om" Zifa bergumam dalam hatinya.
Pria dalam lift itu adalah Niko. Dia baru saja dari kamar Rena. Karena ada urusan lain, dia meninggalkan Rena yang sedang tertidur. Tentu saja menitipkan Rena kepada suster yang berjaga dan berjanji secepatnya datang lagi.
"Hei dek, mau masuk atau gak?" Niko mengagetkan Zifa.
Zifa tergagap dan dengan canggung masuk kedalam lift.
Zifa terus memandangi Niko dari atas ke bawah dengan tatapan terpesona. Karena mereka hanya berdua didalam lift, membuat Niko tak nyaman dengan kelakuan anak abege ini.
Niko balas menatap Zifa. Penampilan Zifa yang aneh membuatnya menahan tawa. Zifa memakai daster kedodoran dengan warna terang bermotif boneka, menggunakan sandal jepit dengan boneka mainan besar yang bergoyang goyang saat dia melangkah.
"Aneh sekali, dasar bocah" ejek Niko dalam hati.
"Lantai berapa turunnya?" Niko menyapa.
"Basement om" Zifa menjawab dengan polos. Tatapan matanya masih terus tertuju kepada Niko. Seolah olah ingin menerkam pria itu.
"Buset dah, gue dipanggil om sama ni bocah, se tua itu kah gue" Niko menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Lift terus bergerak turun.
"Tinggg" pintu lift terbuka. Niko melangkah keluar duluan meninggalkan Zifa yang masih terpesona, hingga akhirnya lift kembali tertutup dan gadis itu terseret kembali naik ke lantai atas.
__ADS_1
"Waduh, gara gara tuh om on, gue buang buang waktu naik turun lift" gumam Zifa malu.