Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Genggam tanganku


__ADS_3

Rena telah mengantarkan Kiara sampai ke lobby. Dokter cantik itu harus segera ke bandara sebelum pesawat meninggalkannya.


Sementara itu, Varo baru saja dipanggil oleh petugas kamar jenazah. Ada beberapa dokumen yang harus ditandatangani sebelum menyiapkan penerbangan khusus untuk membawa terbang jenazah keluar negeri.


Rena kembali keruangan dimana tadi dirinya bertemu Varo. Ruangan itu kosong, itu artinya Varo belum kembali dari mengurus administrasi.


Rena melihat diatas sofa sebuah dompet tergeletak. Rena menggelengkan kepalanya. Pria itu memang ceroboh. Dia tak bisa mengurus dirinya sendiri, selama ini terbiasa didampingi oleh seorang asisten di sampingnya, Varo terbiasa terima bersih.


"Permisi madam, apakah ini milik anda?" seorang petugas kebersihan mendekat dan menyapa Rena.


"Ini ponsel kak Varo?" Rena membatin.


"Oh ya ini milik saya" Rena segera menyadari kalau kemungkinan ponsel Varo juga berceceran.


"Oh sudah saya duga, karena saat dibuka foto wajah anda ada dilayar ponsel ini" sang petugas kebersihan menyerahkan ponsel tersebut.


Rena menerima ponsel itu dan mengucapkan terima kasih kepada wanita itu.


Rena memencet sebuah tombol untuk melihat tampilan layar, dan benar saja, wajah dirinya yang sedang berada di tengah tengah boneka saat mereka belanja bersama di swalayan menjadi wallpaper di ponsel itu.


"Kak Varo mengambil foto diam diam lagi" gumam Rena.


Tak lama sebuah suara langkah kaki mendekat. Rena segera menyimpan benda benda yang ada di tangannya.


"Rena, Kiara udah berangkat?" Varo menyapa dan duduk di sebelah Rena.


"Udah barusan" jawab Rena pendek.


"Gimana kak?" Rena menanyakan perkembangan persiapan membawa jenazah Bu Lidya.


"Masih menunggu lagi, pihak maskapai akan segera menghubungi pihak rumah sakit, barulah setelah itu jenazah mama bisa dibawa" jelas Varo.

__ADS_1


Rena mengangguk, dia tak berani bertanya lebih banyak karena wajah Varo terlihat sangat kusut banyak pikiran.


Varo bersandar di kursi, tak jauh dari samping Rena. Varo memijat pelipisnya untuk menghilangkan sakit di kepalanya.


"Kak, aku permisi sebentar ya, mau beli makan, dari tadi belum makan apa apa kan kak Varo?" tanya Rena.


Varo spontan mencekal pergelangan tangan Rena.


"Disini aja Re, jangan pergi" Varo memohon.


"Tapi kan belum makan?" Rena tak nyaman berdekatan dengan Varo karena itulah dia mencari jalan untuk menghindar.


"Aku gak lapar, please disini aja temani aku" tambah Varo lagi. Matanya memancarkan aura penuh permohonan.


Rena tak tega melihatnya, wanita itu luluh. Dia duduk di sebelah Varo dengan tangan yang masih saling menggenggam.


Varo mengembalikan posisi kepalanya bersandar ke sofa, tapi tangannya tetap menggenggam jari jemari Rena.


Rena terdiam, saat ini sangat terlihat sekali Varo yang rapuh dan lemah.


"Kak, hapenya dimana?" Rena memancing obrolan.


"Entahlah gak tau, mungkin di mobil" jawab Varo cuek.


"Loh kok bisa gak ingat, nanti kalau ada yang mau menghubungi urusan penting gimana?" tanya Rena.


"Buat aku orang yang paling penting adalah mama dan kamu, mama sudah pergi tak akan mungkin bisa menelepon ku lagi, dan kamu juga gak pernah telepon aku, jadi ponsel itu gak ada gunanya" jawab Varo cuek. Matanya masih terus terpejam.


Rena menoleh sekilas.


"Dia sadar gak sih dengan omongannya?" Rena bergumam.

__ADS_1


Varo masih sering keceplosan menggoda Rena dengan ucapan ucapan menyentuhnya, padahal dia telah berjanji tak akan menggoda Rena lagi, mereka hanya bersahabat saat ini.


.


.


.


Suara langkah kaki mendekat memecah keheningan di ruangan yang hanya ada Rena dan Varo didalamnya.


"Pak Adam?" Rena terkejut karena orang yang muncul tiba tiba ini adalah orang yang dulu menjadi manajer di cafe tempatnya bekerja.


"Hai Rena" Adam sedikit kaget karena Varo sedang bersama Rena, dan lebih kaget lagi saat melihat kedua tangan mereka yang saling menggenggam.


Rena salah tingkah seolah sedang terpergok selingkuh.


"Kak Varo, bangun" Rena menarik tangannya yang masih terus digenggam Varo.


Varo yang tertidur lelap segera bangun karena suara Rena yang cukup keras. Mata pria itu mengerjap dan menemukan Adam sang sahabat sedang berdiri di depannya.


"Oh hai" Varo ikut salah tingkah.


"Gue ikut berdukacita bos" Adam mencoba menetralisir keadaan. Dia tak ingin merusak suasana hati Varo.


"Thanks bro" Varo bangkit dan memeluk Adam.


"Sorry gue baru balik dari luar kota, kenapa berita sebesar ini gak ada yang ngasih tau ke gue?" ucap Adam marah.


"Gue lupa kalau ada lu di kota ini, gue pikir gue sendirian dari kemarin" ucap santai.


Adam menepuk jidatnya mendengar omongan Varo. Tega teganya mantan bosnya itu melupakannya.

__ADS_1


__ADS_2