
Hari berganti. Varo menanti kedatangan sang pujaan hati. Wanitanya itu berjanji akan datang lagi pagi ini.
"Saudara Varo, ada seseorang yang menjamin penangguhan penahanan anda, mulai hari ini anda bebas bersyarat" informasi yang baru saja disebutkan oleh petugas penjaga itu membuat Varo senang luar biasa.
"Mari ikuti saya, ada beberapa berkas yang harus anda tanda tangani" Petugas itu mengarahkan Varo ke sebuah tempat.
Dengan cepat Varo mengikuti langkah petugas itu, Varo dibawa ke kantor dokumentasi.
"Hai calon kakak ipar" Varo menemukan Niko beserta Zifa di ruangan yang baru saja dimasukinya.
"Kalian?" Varo terlihat tak senang. Dia berpikir Rena lah yang sedang menunggunya. Kedekatan antara Niko dan Zifa yang tampak tak biasa pun menjadi salah satu alasan wajah Varo yang tadinya ceria berubah masam.
"Mas Varo, mas Niko bersedia menjamin dirimu, dan kami sedang mengumpulkan sebuah petunjuk yang bisa membuat keadaan berbalik. Sebentar lagi kita akan membuat Alya membayar semua perbuatannya" Zifa segera menjelaskan maksud kedatangannya dan Niko.
"Lu yang jamin gue?" Varo masih saja tak ramah kepada Niko. Rasa cemburu nya saat Niko menggoda Rena masih menguasai dan membayangi pikirannya.
"Ia, gue bersedia menjamin lu, tapi semua tidak gratis" dengan santai Niko menjawab pertanyaan Varo.
"Apa maksud lu" suasana tegang kembali tercipta. Zifa salah tingkah sendiri melihat kedua pria yang bagaikan Tom and Jerry itu.
"Gue minta bayaran, gue mau lu restui hubungan gue dengan adik lu Zifa, gue serius sama dia dan dalam waktu dekat ini akan melamarnya" dengan tegas Niko mengutarakan rencananya.
"Astaga, lu kelainan ya, dasar pedofil" Varo masih saja menghina Niko dengan mengatainya sebagai penjahat kelamin.
"Lu mau bebas gak?, atau lu mau tetap disini dan istri yang sangat mencintai lu terus bersedih di rumah?" Niko panas akan ejekan Varo dan memberikan ancaman.
__ADS_1
"Woy, udah dong ah, kalian udah pada tua tua tapi kayak anak kecil. Mas Varo jangan gitu dong, jangan selalu memusuhi mas Niko, dia pacar aku sekarang, dan kami saling mencintai" Zifa menengahi perdebatan keduanya.
"Kak Rena gelisah terus setiap malam sejak mas disini, aku kasihan, apa mas gak mau bebas?, ayo minta maaf sama pacar aku" Zifa berubah galak dan memarahi Varo.
Sebuah senyuman terkembang di bibir Varo saat mengingat nama Rena.
"Aku rindu memelukmu sayang" gumam Varo dalam hati.
"Terserah kalian sajalah, sekarang buat proses ini secepatnya selesai, aku mau berjumpa istriku" aura kesombongan Varo memancar. Dia tau posisinya sebagai seorang kakak dari Zifa begitu penting buat Niko. Dia akan menggunakan keistimewaan ini untuk sedikit menekan Niko. Senyum devilnya terpancar cerah.
Setelah menyelesaikan urusan administrasi yang cukup memakan waktu lama, Varo bergegas pulang kerumah dengan menaiki mobil Niko.
"Cepatlah jalannya, mobil mewah tapi kayak keong" Varo kembali mengejek dan memancing emosi Niko.
.
.
.
Varo bergegas turun dari mobil saat baru saja Niko mematikan mesinnya. Rasa rindu kepada istrinya benar benar meluap dan tak dapat ditahan lagi.
Niko dan Zifa membiarkan Varo dengan tingkah bucinnya itu. Mereka memilih untuk tak masuk rumah dan kembali melanjutkan jalan jalan berdua.
Langkah Varo terhenti saat menemukan Rena didalam kamar sedang menunaikan ibadah sholat. Saat ini wanita itu sedang berdoa diselingi tangis terisak. Beberapa kali nama Varo disebut dalam doanya, yang intinya Rena mendoakan kebahagiaan untuk suaminya. Hati Varo tersentuh. Istrinya benar benar mencintai nya tulus.
__ADS_1
Saat Rena baru saja melepas mukenanya, sebuah pelukan dari belakang mengagetkannya.
Rena spontan berbalik badan dan membelalakkan mata tak percaya. Varo sang suami tengah tersenyum manis kepada nya, begitu dekat jarak mereka saat ini, bahkan Rena dapat merasakan hembusan nafas Varo.
"Kak..kak Varo" Rena mengedipkan mata tak percaya, dia takut hanya bermimpi saat ini.
"Iya sayang, ini aku, suamimu" Varo kembali memeluk Rena, ceruk leher istrinya itu menjadi sasaran bersandarnya kepala Varo.
"Apa yang terjadi? kenapa kak Varo ada disini?, jangan bilang kalau kamu kabur dari tahanan" Rena panik membayangkan hal buruk yang terlintas di benaknya.
"Tidak sayang, aku tidak kabur, aku mendapatkan penangguhan penahanan, sekarang aku disini bersamamu" Varo menenangkan Rena yang tampak ingin menangis karena panik.
Rena tak sanggup menahan airmata bahagia yang jatuh saat mendengar kabar dari Varo ini. Selama beberapa hari dia terus berdoa agar suaminya mendapatkan kebebasan dan akhirnya sekarang tercapai.
"Hei sayang, jangan menangis" Varo mengecup kedua mata Rena. Hasratnya begitu menggebu melihat wajah polos istrinya itu. Tanpa hijab di kepalanya, Rena tampak begitu menawan, cantik alami tanpa polesan.
Varo meraup kedua wajah Rena dengan telapak tangannya yang besar. Ciuman panas bertubi tubi dihadiahkan buat istri terbaiknya itu.
"Terimakasih sayang, terimakasih terus bertahan bersamaku" Varo membisikkan kalimat yang membuat Rena terharu.
"Bismillah" dengan luapan hasrat yang menggebu, Varo melepaskan semua yang menggumpal di dalam tubuhnya selama bertahun tahun. Rindu kepada istrinya ini tak dapat lagi ditoleransi.
Dengan sebuah anggukan kepala dari Rena, membuat kejantanan Varo berdiri tegak menjulang. Rena sudah meyakinkan diri dengan ikhlas. Selama beberapa hari berpisah dengan Varo, dia sadar bahwa itu adalah peringatan dari Allah karena dia telah mengabaikan hak suaminya.
Semua masalah yang membelit kedua insan itu dilupakan sejenak. Mereka menyatukan diri sebagai sepasang kekasih halal dan menikmati indahnya berhubungan dengan dasar cinta dan kasih sayang yang tulus.
__ADS_1