
"Tok..tok" pintu kamar Rena diketok dari luar.
"Kak Rena, ada tamu" seorang anak di yayasan mengetuk pintu kamar Rena.
Rena yang sedang memandang benda benda masa lalunya itu terpaksa bangkit dan menghapus sisa air di matanya.
"Selamat malam pak Niko" Rena menemui tamu yang ingin bertemu dengannya dan itu ternyata adalah pak Niko, sang duda yang tergila gila kepadanya.
"Malam Re, lagi ngapain?" Niko membalas sapaan Rena. Niko tau Rena habis menangis, itu tampak jelas dari matanya yang sembab.
"Lagi packing pak, rencana besok lusa aku diajak dokter Kiara ke Australia" terang Rena.
"Ah iya, aku mendengar kabar itu dari dokter Desi, karena itulah aku datang menemui mu" Niko membuka pembicaraan.
"Mau berapa lama kamu disana?" Niko bertanya.
"Belum tau pak, paling lama dua mingguan" Rena menjawab.
"Ah, yayasan ini pasti akan sepi tanpa dirimu" Niko mulai menggoda Rena.
Rena tak berekspresi apapun menanggapi ucapan Niko. Hatinya tak tersentuh. Sikapnya dingin.
"Apa sudah lengkap semua persiapannya? kalau ada yang mau Rena beli aku siap mengantar" Niko kembali mencoba menarik simpati Rena.
"Alhamdulillah sudah pak" Rena menjawab pendek.
"Oh begitu, baiklah aku kesini tadi karena mau antar jajanan buat anak anak, terus sekalian jumpa kamu".
"Aku pamit ya" Niko menyerah untuk malam ini. Rena tetap belum bisa diluluhkan. Hampir setiap hari dia mendapat reaksi dingin seperti ini dari Rena, tapi entah mengapa inilah yang membuatnya penasaran dan terus mengejar Renata.
__ADS_1
"Hati hati dijalan pak, dan terimakasih untuk pemberiannya kepada adek adek Rena" wanita itu mengantar Niko hingga gerbang yayasan.
.
.
.
Hari berlalu.
Rena dan Kiara sudah berada dalam perjalanan menuju bandara internasional. Pesawat yang mereka tumpangi akan berangkat dalam waktu kurang lebih satu jam lagi.
"Hai Varo, coffee shop mu buka jam berapa?" Kiara iseng mengirim pesan kepada Varo disela waktu luangnya di ruang tunggu.
"Mulai jam sepuluh pagi waktu disini, ngapain lu nanya?" Varo segera membalas. Pria itu bingung dengan pertanyaan Kiara. Jelas jelas mereka beda negara, apa urusannya Kiara menanyakan jam buka coffee shop nya.
Varo memilih mengabaikan pesan dari Kiara karena dia sedang membersihkan tubuh sang mama.
Varo adalah anak yang sangat berbakti. Meskipun mempunyai maid yang bisa diandalkan untuk mengurus mamanya, namun selagi dia mempunyai waktu, dia sendiri yang akan turun tangan mengurusnya.
"Mr Varo, hari ini tak ke coffee shop?" madam Grace menanyakan kepada Varo.
"Sebentar lagi madam, saya udah lama gak urus mama, kebetulan hari ini lebih santai" jawab Varo.
Madam Grace mengerti dan berpamitan mengurus hal lain di belakang rumah. Memberikan waktu berdua untuk ibu dan anak itu.
.
.
__ADS_1
.
Selesai dengan urusan mengurus mamanya, Varo bersiap membuka coffee shop nya. Semua peralatan yang dibutuhkan sudah ditaruh diatas sepeda, karena hari ini Varo memutuskan berangkat dengan menggunakan sepeda.
Varo menikmati indahnya alam yang dilaluinya sepanjang perjalanan. Dulu dia pernah berjanji membawa Rena kesini untuk berbulan madu. Varo ingin memperlihatkan betapa indahnya tempat dia tumbuh saat masih kecil.
Sampai saat ini janji itu masih dipegangnya, harapan besar untuk membawa Rena bersama masih kuat didalam hatinya.
.
.
.
Pesawat yang ditumpangi Kiara dan Rena telah landing dengan selamat di negara Australia.
Rena memandang haru suasana di sekitarnya. Bagi Rena ini pertama kalinya dia keluar negeri, dan setelah semua drama dalam hidupnya, Rena tak pernah pergi sejauh ini, jangankan keluar negeri, keluar kota saja dia tak pernah.
"Ayo Re, itu taxi kita udah nungguin" suara Kiara membuyarkan lamunan Rena.
Mereka menaiki taxi yang membawa mereka ke hotel tempat menginap selama berada di negara itu, sekaligus tempat Kiara melaksanakan acara seminar.
"Re, kita istirahat sebentar ya, nanti agak sore aku mau ajak kamu jalan jalan di sekitar kota ini, ada tempat nongkrong yang enak banget, kamu pasti suka" Kiara membuka percakapan selama didalam taxi.
"Makasih ya Kiara kamu mau ajak aku kesini, gak pernah nyangka akhirnya aku bisa sampai ke negara ini" ucap Rena takjub.
"Ah santai aja Re, kalau butuh apa apa bilang aja sama aku" jawab Kiara.
"Pemasok dana ku ngasih duit banyak, cukup buat traktir kami selama disini" gumam Kiara dal hatinya sendiri.
__ADS_1