
Selepas dari mesjid, Varo dan Rena tampak lebih segar. Tenyata benar, air wudhu dapat mengendorkan saraf saraf yang tegang. Ini dibuktikan sendiri oleh kedua insan itu. Kekhawatiran yang mereka rasakan sepanjang malam, saat ini jauh berkurang. Apapun yang akan terjadi, mereka siap menghadapi.
"Kita mau kemana kak?" tanya Rena kepada Varo.
"Hmmm, kesana (sambil menunjuk ke arah kanan), eh kesana (tiba tiba menunjuk kearah kiri)" Varo tampak kebingungan.
Rena menyipitkan matanya, tak paham hendak kemana dibawa oleh Varo.
"Jadi kak Varo gak tau kita mau kemana?" Rena kembali bertanya.
"Aku lupa rumahnya paman Dede kearah mana" Varo nyengir mengakui kesalahannya.
"Aku tanya orang sebentar ya Re" Varo berinisiatif menyapa para penduduk desa yang lalu lalang, ada yang ber- sepeda, ada yang berjalan kaki.
Suasana desa tersebut masih sangat asri dan hijau.
"Permisi mang, boleh saya bertanya?" Sapa Varo kepada salah seorang yang ditemuinya.
""Silahkan den, mau tanya apa?" penduduk desa menyambut dengan hangat.
"Apa mamang tau dimana rumah pak Dede?" lanjut Varo.
"Oh, pak Dede tinggal di sebelah sana, rumah bercat hijau, sebelah musholla" tunjuk warga tersebut.
Setelah mengucapkan terimakasih dengan sopan, Rena dan Varo bergegas menuju ke rumah yang tadi ditunjukkan.
.
.
.
"Assalamualaikum" Varo mengetuk pintu rumah bercat hijau seperti yang diarahkan tadi. Rumah yang setengah terbuka itu tampak sepi.
"Waalaikumsalam" terdengar sahutan dari dalam selang beberapa detik dari salam pertama.
__ADS_1
"Den Varo" seorang wanita berumur lebih 60 tahun langsung berteriak saat keluar dari balik pintu.
"Bibi apa kabar?" Varo langsung mencium tangan wanita itu.
"Ya ampun, bibi tak menyangka den Varo bisa sampai di desa ini".
"Si neng yang cantik ini siapa?" wanita yang dipanggil bibi oleh Varo itu ikut menyapa Rena.
"Ini pacar Varo bi, namanya Rena" jawab Varo santai.
Pipi Rena bersemu merah mendengar Varo menyebutkan dirinya sebagai pacar.
"Re, ini bi Maryam, istrinya paman Dede yang tadi aku ceritakan" Varo menjelaskan kepada Rena.
"Selamat pagi bi" Rena menyapa sang bibi dan mencium tangan wanita itu.
"Manis sekali kamu nak, beruntung den Varo mendapatkan mu" puji bi Maryam kepada Rena.
Rena hanya mampu tersenyum menanggapi ucapan bi Maryam.
"Paman Dede mana bi?" tanya Varo.
"Ayo masuk, minum dulu teh hangat khas kampung ini, dijamin ketagihan" ajak Bi Maryam.
Varo dan Rena melangkah masuk kedalam mengikuti bi Maryam.
.
.
.
Setelah mengobrol saling bertanya keadaan masing-masing, termasuk keadaan keluarga Varo, pemuda itu pamit untuk menemui sang paman di sawah.
Rena yang baru saja membersihkan diri diajak Varo untuk berjalan jalan menikmati suasana desa.
__ADS_1
.
.
.
"Kak Varo, aku masih menunggu penjelasan, kenapa aku dibawa kesini?" Rena menuntut penjelasan.
Saat ini mereka sedang berjalan kaki menyusuri pinggiran sungai menuju sawah.
"Sebenarnya aku bawa kamu kesini untuk menjauhkan kamu dari para penjahat itu. Karena menurut info yang ku dapatkan, mereka masih terus mengejarmu dan saat ini bekerja sama dengan orangtuamu" kalimat bohong diucapkan Varo.
Tadinya pria itu sudah berniat menceritakan dengan jujur semua yang dirahasiakannya. Namun sedikit rasa dendam dan benci masih menguasai Varo.
Jika memang Rena tak bisa dibiarkan menanggung penderitaan karena ulah orangtuanya, kenapa tidak sekalian saja Rena diadu domba untuk membenci sang ayah. Orang yang juga sangat dibenci Varo.
"Jujur sama aku, selama ini orangtuamu tidak memperlakukanmu dengan baik kan?"
"Mereka tidak pernah menyayangimu, mereka hanya memanfaatkan mu" Varo mencuci otak Rena dengan masif.
Rena tiba tiba terdiam. Apa yang diucapkan Varo memang benar terjadi selama ini. Tapi Rena tak menyangka, sebegitu tak sayangnya orangtua yang membesarkannya itu, hingga tega menculik dan ingin menghabisi nyawanya.
"Re, saat ini tidak ada satu orangpun yang bisa kamu percaya, mereka semua hanya ingin memanfaatkan mu" tak henti pria itu meracuni otak Rena.
"Hanya aku Re, hanya aku orang yang bisa kamu andalkan saat ini, aku janji akan melindungi dirimu, tak akan membiarkan siapapun menyakiti mu lagi, percaya padaku, aku sangat menyayangimu Rena" Varo kembali meyakinkan Rena.
Gadis labil yang haus akan kasih sayang itu kini oleng, terombang ambing dalam pikirannya sendiri. Rasa sayang yang ditunjukkan Varo kepadanya mampu melepaskan semua dahaganya akan kasih sayang selama ini.
Varo berhasil meyakinkan Rena kalau cinta yang diberikan kepadanya benar benar tulus. Varo berhasil membuat jiwa Rena yang selama ini tenang menjadi jiwa pemberontak.
Rena sudah berada dalam genggaman Varo.
"Jadi untuk saat sekarang, kita diam dulu di kampung ini, hingga situasi benar benar aman dan mereka tak lagi mencarimu" ucapan Varo mendominasi Rena.
Rena masih terdiam di posisinya. Rasa sakit akibat kebencian keluarganya, membuat bulir bulir bening airmata mengalir deras di pipinya
__ADS_1
Varo menarik Rena kedalam pelukannya, kali ini tak ada perlawanan. Rena semakin nyaman dan terbiasa membenamkan wajahnya ke dada bidang milik Varo.
Bahkan saat Varo membelai wajahnya, menghapus air mata dan mencium kedua pipinya dengan lembut, Rena pasrah, dia telah benar benar jatuh kedalam jebakan cinta Varo.