
Varo pulang ke rumah yayasan saat hari sudah gelap. Tepatnya tengah malam. Segera pria itu membersihkan diri dan menemui sang istri yang menunggunya sedari tadi.
"Ini pesanannya tuan putri" Varo menyerahkan sekotak martabak keju permintaan istrinya tadi. Sebelum pulang Rena meminta Varo untuk membelikannya sebungkus martabak yang baru buka cabang di dekat rumah yayasan. Konon kuliner satu ini sedang viral dan banyak orang yang antri untuk mencicipinya.
Begitu juga dengan Varo. Hampir satu jam ia mengantri untuk mendapatkan pesanan istrinya yang tengah hamil.
"Hik gak enak" Rena membuat ekspresi wajah tak suka dengan makanan yang ada di hadapannya.
"Lebih enak bikinan kak Varo" Rena merapikan kembali makanan yang bahkan terlihat masih utuh itu.
"Aku bikin sekarang?" Varo menghampiri istrinya dan merasa kasihan karena harapan sang istri tak sesuai.
"Kamu gak capek sayang?" Rena bersemangat mendengar penawaran dari suaminya.
"Gak akan capek kalau itu demi kamu dan anak kita" Varo mengusap lembut perut istrinya.
Wajah Rena bersemu merah mendapat perlakuan begitu manis dari suaminya.
"Tapi aku udah gak mau lagi makan martabak, aku ngantuk mau tidur" Rena mengganti keinginannya.
"Hufttt, akhirnya aku merasakan apa yang dirasakan para suami saat istrinya hamil" Varo bergumam sendiri mendengar permintaan istrinya yang berubah ubah. Senyuman tipis muncul dibalik wajah tampannya diselingi dengan garukan di kepalanya yang tak gatal.
__ADS_1
.
.
.
Malam berlalu berganti pagi.
Varo menggeliatkan tubuhnya yang lelah. Rasanya baru beberapa jam saja dia tertidur dan pagi datang terlalu cepat. Untung saja hari ini hari Minggu, Varo bisa sedikit bersantai.
Dalam keadaan masih mengantuk Varo mencari cari keberadaan istrinya.
"Masih jam lima pagi, Rena kemana sepagi ini?" Varo mulai gelisah.
"Sayang kamu membuatku khawatir" Varo bisa bernafas lega setelah menemukan sang istri yang sedang bermain dengan Alif di kamarnya.
Varo memeluk Rena dari belakang, sementara Rena memeluk Alif dalam gendongannya.
"Kak, mulai hari ini Alif tidur bareng kita ya, aku gak bisa tidur kalau gak peluk Alif" Rena merengek manja.
"Kan ada aku, kamu bisa peluk aku kalau susah tidur" Varo tak ingin posisi kenyamanannya terganggu oleh Alif.
__ADS_1
Rena melayangkan tatapan menakutkan kearah Varo pertanda tak setuju.
"Hufttt, iya terserah kamu aja" Varo paham arti tatapan itu dan segera mengalah.
.
.
.
Setelah selesai mengurus Alif, Rena kembali meminta suatu permintaan berat untuk Varo. Perdebatan kecil kembali terjadi, kali ini Varo tak mau begitu saja mengalah, dia tetap pada keputusannya untuk melarang Rena pergi.
Permintaan Rena kali ini adalah menemui sang mantan suami yang kemarin menghubunginya. Rena menceritakan semua kepada Varo. Mulai dari panggilan telepon yang diterimanya hingga kondisi Nathan yang membuatnya iba. Rena berniat membesuk pria itu.
"Tolong mengerti keadaannya sayang, kau sedang hamil dan butuh istirahat yang cukup, jangan keluyuran ke tempat yang tak penting untuk menemui orang yang juga tak penting" nada suara Varo meninggi, emosinya memuncak karena Rena terus memikirkan sang mantan suami.
"Jangan bahas ini lagi, aku melarang mu untuk pergi, tolong dengarkan itu. aku tak ingin ada perdebatan" Varo memperingatkan Rena dan pergi keluar rumah untuk menenangkan pikirannya. Emosi nya saat ini tak stabil, Varo takut akan menyakiti istrinya kalau terus ada dirumah.
Sementara itu, Rena yang kembali merasakan amarah Varo menangis dalam diam. Rasanya sangat sakit saat sang suami yang begitu dicintai membentaknya dengan kasar, terlebih lagi hormon kehamilan semakin mendramatisir keadaan.
"Arghhhh, sialan Nathan itu, kenapa dia terus mengusik pikiran istriku" Varo benar benar emosi.
__ADS_1
Mobil yang dikendarai Varo melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit yang disebutkan Rena. Varo yang akan turun langsung menghadapi mantan suami istrinya itu. Sudah cukup rasanya Varo diam, kali ini demi kedamaian hati istrinya, Varo akan menyelesaikan masalah ini.