Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Perjanjian cinta


__ADS_3

Zifa terbangun dari tidur panjangnya. Seluruh tubuhnya terasa tak nyaman terlebih di bagian kepala, Zifa merasa kepalanya sangat sakit.


Zifa mengerjapkan mata melihat sekelilingnya. Kamar yang ditempatinya saat ini bukan kamarnya.


"Astaga, apa yang terjadi" Zifa spontan mengecek semua bagian tubuhnya.


Gadis itu menarik nafas lega saat melihat pakaian yang dipakainya masih utuh tak kurang satu apapun. Ponsel dan dompet miliknya juga masih lengkap diatas nakas.


"Om Om genit itu tak menyentuh ku sama sekali, syukurlah, ternyata dia pria baik" Zifa bergumam sendiri.


Zifa meraih ponsel di tangannya dan melihat banyak panggilan masuk dari Varo.


"Mas Varo pasti khawatir banget aku gak pulang semalam.


Zifa memutuskan untuk mengabari Varo dan meminta dijemput.


"Assalamualaikum mas Varo" Zifa memulai percakapan saat panggilan telepon darinya diangkat dalam dering pertama.


"Dek. kamu dimana? kemana aja?" Varo memberondong Zifa dengan pertanyaan.


"Maaf mas, semalam aku lupa ngabarin kalau aku nginap di rumah teman, baterai ponsel ku habis" Zifa mencari alasan.


"Ah Zifa, kamu bikin mas gak bisa tidur semalaman" Varo menarik nafas lega karena mengetahui sang adik baik baik saja.


"Bentar lagi aku balik mas, udah dulu ya, aku mau siap siap" Zifa memutus sambungan telepon.


Sebuah pesan masuk dari Niko buru buru dibaca Zifa.

__ADS_1


"Hei, gadis bandel, gimana keadaan kamu, udah bangun belum, aku on the way kesana, pasti kepala mu sakit kan? aku antarkan obat" pesan manis dari Niko yang membuat hati Zifa berbunga bunga.


Tak lama, pintu kamar hotel tempat Zifa menginap berbunyi, pertanda ada orang yang datang.


"Itu pasti dia" Zifa bergegas membukakan pintu.


"Gimana keadaan mu?" Niko tanpa basa basi bertanya kepada Zifa.


"Udah lebih baik" sahut Zifa.


Niko menempelkan punggung tangannya ke dahi milik Zifa.


"Untung lah tak demam" ujar Niko.


Perbuatan Niko ini semakin membuat Zifa terbawa perasaan, pria yang dikaguminya ini begitu manis memperlakukannya.


"Ya udah, ini sarapan dulu, setelah itu minum obat, aku antar kamu balik" Niko masuk tanpa disuruh dan menyiapkan sarapan untuk Zifa.


"Ma..maaf atas kejadian semalam" Zifa memulai pembicaraan sambil terus mengunyah makanannya.


"Hm" Niko hanya menanggapi dengan dingin.


"Habiskan makananmu dan minum obat ini biar pusing nya cepat hilang" Niko kembali mengingatkan.


"Tapi aku sadar kok, apa yang tadi malam ku ucapkan itu memang benar, aku menyukai dirimu pak Niko" Zifa kembali nekat. Gadis satu ini memang unik. Dia menunjukkan perasaannya dengan begitu terbuka.


"Zifa, jarak umur kita jauh, aku akan disangka sugar daddy oleh orang orang kalau aku berpacaran dengan mu" Niko berusaha menanggapi Zifa dengan kalimat bercanda.

__ADS_1


"Apakah cuma karena itu?" Zifa terus mendesak.


"Maaf ya Zifa, saat ini aku hanya mencintai satu orang, dia yang terlebih dahulu mengisi hatiku" Niko terpaksa mengucapkan kalimat yang mungkin akan membuat Zifa terluka.


"Maukah kau mencobanya dulu? beri aku kesempatan, dua minggu, cukup dua minggu saja untuk kita saling mengenal. Kalau memang tak ada harapan untukku, aku akan menyerah" Zifa mengucapkan kalimat konyol.


Niko mengernyitkan dahinya heran. Kenapa ada gadis barbar seperti ini yang terus memaksanya untuk jatuh cinta.


"Kau tak sedang menjalani adegan film empat belas hari mencari cinta kan?" goda Niko.


"Iya terinspirasi dari itu" Zifa menjawab dengan cuek.


Niko terkekeh geli, berbicara dengan Zifa memang menguji kesabaran sekaligus mampu meningkatkan jiwa muda dalam diri Niko.


"Jadi gimana? apa aku dapat kesempatan untuk saling dekat layaknya orang pacaran?" Zifa kembali mendesak.


"Ok, hubungan tanpa status selama dua minggu" Niko akhirnya memutuskan.


"Yes, aku akan buktikan kalau aku bisa mempesona mu" gumam Zifa dalam hati.


"Mas Varo, aku menyelamatkan hubungan mu dengan kak Rena, kalau aku berhasil mengambil hati kak Niko ini, maka otomatis jalan mas Varo buat dapatkan kak Rena semakin mudah" Zifa kembali bergumam sendiri.


"Hei, kok bengong, selesaikan makannya, kita harus segera check out dari hotel ini" Niko menegur Zifa yang bengong.


"Baiklah pacar, aku siap siap dulu ya" dengan tingkah manja yang konyol Zifa menanggapi Niko.


Gadis itu melanjutkan makannya, sementara Niko mulai merasa ragu.

__ADS_1


"Apa yang kulakukan ini sama saja dengan menduakan Rena, ini tak baik".


"Ah semoga saja ini jalan terbaik, semua sudah ditakdirkan, hanya dua minggu, setelah itu aku akan fokus kembali ke Rena" Niko mengalami perang batin.


__ADS_2