
"Tapi kak, masih ada satu masalah lagi" Rena yang tadinya telah yakin kembali meragu.
"Ada apa sayang?" Varo bertanya dengan nada begitu lembut.
"Asal usul ku belum diketahui, bagaimana aku bisa dinikahi, siapa wali ku?" nada suara Rena terdengar cemas.
Varo terdiam, apa yang diucapkan Rena benar.
"Rena, Varo maaf kak Desi mengganggu" sebuah suara muncul dari arah pintu yang mereka belakangi.
"Kak Desi" Rena segera berdiri dan menyambut wanita itu.
"Ada yang mau aku bicarakan" Kak Desi dalam mode serius.
Rena mengajak Desi duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Di tempat itu hanya ada mereka bertiga. Sementara yang lainnya sibuk wara wiri mempersiapkan semua keperluan pernikahan mendadak yang diinisiatif oleh Varo.
"Ada apa kak? sepertinya sangat serius?" Rena tak sabar menunggu info apa yang hendak disampaikan Desi.
"Kamu lihat foto foto ini" Desi mengeluarkan beberapa lembaran foto dari dalam tasnya.
__ADS_1
Di foto tersebut, ada seorang anak kecil berumur kira kira satu hingga dua tahun.
"Dia siapa kak? kenapa aku merasa begitu mengenal anak ini?" Rena sangat penasaran.
"Ini aku, ini adikku" Desi mulai mengungkapkan apa yang selama ini seharusnya diketahui Rena. Dimulai dengan menunjuk satu foto.
"Ini adikku yang hilang diculik orang saat dia berumur dua tahun. Namanya Alina" Desi terus menjelaskan. Wajahnya terlihat sangat tegang. Varo yang berada diantara kedua wanita itu hanya diam sebagai penonton. Dia tak ingin memasuki ranah kedua adik kakak itu.
"Dia diculik oleh seseorang bernama Agung Suwito" Desi menekankan info terakhir ini.
"Jleb..." Rena seketika membeku. Otaknya belum bisa mencerna dengan baik apa maksud semua ucapan Desi.
"Ja... jadi,, maksudnya gi...gimana?" Rena gelagapan.
"Kamu adikku Rena, semuanya telah dibuktikan, dari foto dan hasil tes rambut kamu yang kuambil diam diam" pertahanan Desi mulai runtuh. Suaranya bergetar ingin menangis.
Rena yang mendengar pengakuan Desi hanya bisa diam mematung, tak mampu bereaksi apa apa.
"Aku keluarga mu satu satunya saat ini sayang, aku akan pastikan semua yang pernah hilang darimu akan kembali, kau akan dapatkan semuanya" Desi berkata sambil memeluk Rena.
__ADS_1
Keduanya saling menangis terharu dan berpelukan erat untuk mengungkapkan rindu yang dari dulu terpendam. Rena sangat bahagia akhirnya ia mempunyai keluarga, sesuatu yang sangat diimpikannya dari dulu.
Mata Varo ikut berkaca kaca melihat bersatunya kedua saudara yang telah terpisah selama bertahun tahun itu.
"Jadi kamu gak usah khawatir, nama yang akan disebut Varo nanti sebagai orangtua mu adalah nama papa kita. Pernikahan kalian akan sah" Desi mengurai pelukannya dan meyakinkan Rena.
Rena menoleh kearah Varo dan mendapati pria itu tersenyum dengan mata yang merah.
"Apa kak Varo udah tau juga tentang semua ini?" Rena memberikan pertanyaan langsung kepada Varo. Karena melihat reaksi Varo yang tak terkejut, Rena yakin Varo terlibat.
"Justru karena dialah aku bisa menemukan semua bukti bukti ini. Varo yang menyewa orang untuk menyelidiki semua tentang asal usul mu. Dan satu lagi, selain biaya pengobatan mu, Varo juga adalah dalang dari beasiswa tiba tiba yang diberikan oleh kampus mu, dia membayar semuanya" Desi membuka rahasia Varo.
"Glekkk" Varo menelan salivanya. Pria itu gugup. Manuver dari calon kakak ipar yang membongkar rahasianya sukses membuat dirinya mati gaya.
Rena menatap tak percaya kearah Varo yang berdiri bersandar dinding dan menunduk memainkan sepatunya.
"Varo apa yang mau diungkapkan, selesaikan segera, jangan sampai saat ijab kabul yang sakral terlaksana, masih ada rahasia diantara kalian" Desi memberi perintah sebelum pergi meninggalkan ruangan. Meninggalkan kedua calon pengantin itu berdua saja.
Varo mengangkat wajahnya dan berkata, "baik kak".
__ADS_1
Perlahan Varo berjalan mendekati Rena, memegang tangannya dan berkata, "mohon maafkan kelancangan ku sayang, semua yang aku lakukan ini, hanya demi melihat mu bahagia, tak ada maksud lain".
Sebulir air bening mengalir di pipi Rena. Begitu terharu dirinya karena ternyata selama ini, Varo tak pernah meninggalkannya, Varo selalu memantaunya.