Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Kemarahan Niko dan Alya


__ADS_3

Rena kembali naik ke lantai atas tempat ruangan ICU dimana ibunya berada. Rena mendengus saat melihat Niko masih saja ada disana. Rena tak terlalu suka berdekatan dengan pria yang saat ini berstatus pacarnya itu.


"Udah selesai urusan mu?" Niko bertanya dengan tak ramah.


"Udah" Rena menjawab singkat.


"Ok. sekarang jelaskan kepadaku, kamu dari mana?" Niko kembali ke mode arogan hyper protektifnya.


"Aku ada urusan, kenapa sih pak? aku gak harus melaporkan apa yang ku lakukan setiap waktu kan?" Rena mulai jengah.


"Kau adalah calon istriku, aku harus tau kemana saja kau pergi, mulai sekarang kemanapun harus denganku" Niko menunjukkan tabiat aslinya.


"Ingat Re, jangan ambil resiko, nasib adik adik di yayasan semua ada di tanganmu" Niko kembali mengingatkan ancamannya.


Rena hanya diam, rasanya ingin sekali melawan semua perlakuan Niko, tapi saat diingatkan kembali tentang resiko yang akan dihadapinya, nyali Rena menciut.


"Pernikahan kita akan dipercepat, persiapkan dirimu, satu minggu lagi kita akan resmikan" Niko mencengkram lengan Rena sejenak sebelum akhirnya pergi meninggalkan wanita obsesinya itu.


Rena terduduk di sofa ruang tunggu rumah sakit itu. Ada kemarahan yang terpendam dan tak dapat diungkapkannya. Niko begitu membelenggu kebebasannya.


.


.

__ADS_1


.


Sementara itu, Varo yang sedang menemani Zifa makan malam di rumahnya dikejutkan oleh kedatangan Alya.


"Hai Varo" Alya masuk bersama Zifa yang baru saja membukakan pintu.


"Hai" Varo menunjukkan sikap dingin.


"Ngapain malam malam kesini?" Varo melontarkan pertanyaan yang terdengar tak ramah.


"Kebetulan lewat sini tadi, ini aku bawain kue kesukaan kamu" Alya menyodorkan sebuah kotak kue besar ke hadapan Varo.


"Makasih Al" Varo masih bersikap dingin.


"Wah penawaran menggoda ini, aku gabung ya" Alya tanpa basa basi menyambut tawaran Zifa.


Makan malam mereka bertiga berjalan dengan suasana canggung, beberapa kali Alya melempar percakapan dengan harapan mendapat tanggapan dari Varo, namun ternyata gayung tak bersambut. Varo dingin sedingin es.


.


.


.

__ADS_1


"Varo aku mau bicara serius sama kamu" Alya memulai percakapan saat mereka telah selesai makan.


"Bicaralah" Varo merespon dengan santai.


"Varo, sebenarnya hubungan kita dulu belum selesai. Kamu meninggalkan ku begitu saja tanpa alasan, aku salah apa?, kamu belum pernah menjelaskan apapun bahkan ucapan maaf saja tak terlontar dari mulutmu" Alya mengeluarkan semua yang dipendamnya.


Varo tersentak. Apa yang diucapkan Alya benar, Varo memilih Rena dan meninggalkan Alya begitu saja. Rasanya memang tak adil buat gadis itu.


"Aku hanya menahan sakit sendiri saat mendengar kabar kau akan menikah dengan Rena, tapi sekarang saat kau kembali dan masih sendiri, aku berharap kita bisa seperti dulu lagi" Alya berbicara dengan terisak.


Varo terenyuh. Dia memang tak pernah bisa tahan melihat wanita menangis.


"Maaf Al, ini memang semua kesalahanku" Varo mengakui kesalahannya.


"Varo, bilang kepadaku kalau masih ada sedikit harapan untukku, karena selama ini aku tak pernah berhubungan dengan orang lain, aku setia menunggumu" Alya setengah memohon.


"Maaf Al, aku tak bisa memberikan mu harapan palsu, di hatiku cuma ada Rena. Aku takut akan lebih menyakitimu kalau dipaksa seperti ini" Varo menegaskan kemauan hatinya.


Alya terdiam, telah berbagai trik dicobanya untuk merayu hati Varo, tapi tetap dia tak tergoyahkan.


"Lihat saja Varo, kau pasti akan kumiliki dan bersedia menjadi ayah dari bayi ini" Alya bergumam sambil mengusap perutnya.


"Baiklah Varo, aku kecewa atas semua ini, aku harap kamu bahagia" Alya bangkit dan meninggalkan Varo penuh kekecewaan.

__ADS_1


__ADS_2