
Varo sudah berada di depan ruangan ICU tempat sang ibu terbaring lemah dengan banyak alat bantu hidup di tubuhnya.
Karena kondisi yang belum stabil, Varo hanya bisa menatap wanita yang dikasihinya itu melalui kaca pembatas ruangan. Varo tak bisa memeluk atau menggenggam tangan wanita itu.
Rasa bersalah menghantui Varo. Berbulan bulan iya mengabaikan kondisi mamanya. Dia terlena dalam kebahagiaan bersama Rena. Dia melupakan permintaan mamanya untuk menghancurkan Rena. Hingga kini mamanya terbaring lemah tak berdaya.
Cerita dari Dila sang asisten juga semakin membuat hati Varo perih.
Dila menceritakan kalau mamanya sudah beberapa hari mogok makan dan mengurung diri di kamar. Hingga terakhir Dila memaksa untuk membuka pintu kamar karena tak kunjung ada jawaban saat iya bertanya. Dan mamanya ditemukan dalam kondisi tergeletak dengan kondisi lemas di lantai.
Varo tak berani membayangkan perasaan seperti apa yang dirasakan sang mama hingga dia bisa nekat melakukan hal paling bahaya seperti saat ini.
"Maafkan Varo ma, Varo mengabaikan mama" pria itu merasakan penyesalan teramat dalam.
"Mas Varo, nyonya sangat marah saat mendengar anda akan menikah dalam waktu dekat" Dila menyampaikan info yang diketahuinya mengenai penyebab awal tumbangnya Bu Lidya. Saat ini Varo dan Dila berada di kantin rumah sakit.
"Nyonya sempat mengucapkan akan bunuh diri jika sampai pernikahan itu terjadi" tambah Dila lagi.
Varo hanya diam mendengarkan penjelasan dari Dila. Hatinya bimbang untuk melangkah maju maupun mundur.
"Drttt....drttt" ponsel Varo berbunyi pertanda ada panggilan masuk.
"Rena sayang" foto Rena terpajang di layar ponselnya yang berkedip kedip.
Varo gelisah. Dia sedang tak ingin mengobrol dengan Rena saat ini.
Ponsel yang berdering cukup lama akhirnya kembali diam. Namun tak lama, sebuah pesan masuk berbunyi.
__ADS_1
Rena mengirimkan sebuah foto memberitahukan kalau dirinya sedang berada di rumah orangtuanya. Rena datang untuk menyampaikan kabar tanggal pernikahan mereka.
Foto Rena yang sedang tersenyum bersama kedua orangtuanya sukses membuat hati Varo panas.
"Bisa bisanya kalian berbahagia diatas penderitaan keluargaku" batin Varo protes.
Dia memilih mengabaikan pesan Rena. Tak membalas bahkan menghapus foto yang tadi dikirim oleh gadis itu.
Hingga malam Varo masih bertahan di rumah sakit. Berkali kali panggilan telepon dari Rena diabaikannya. Hingga akhirnya pria galau itu mematikan ponselnya untuk sedikit menenangkan diri.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pagi menyambut hati yang resah.
Rena sangat gelisah hingga tak tidur semalaman karena Varo yang tidak balik ke apartemen hingga hari berganti. Berkali kali mencoba dihubungi lewat ponsel pun tak ada jawaban, malah tak bisa lagi dihubungi.
"Mungkin ponselnya kehabisan baterai ya, atau mungkin sangat sibuk, pasti sebentar lagi pesanku dibalas" lagi lagi Rena menghibur dirinya sendiri.
Tiba tiba saat Rena masih dalam ketidakpastian akan kabar Varo, ponselnya berbunyi menandakan pesan masuk.
"Aku lupa ngabarin, aku keluar kota untuk beberapa hari, ada pekerjaan penting yang tidak bisa ditinggalkan" pesan bernada dingin membuat Rena sedikit mengernyit heran.
Tak ada panggilan sayang dalam pesan itu, terasa begitu dingin dan tak biasa.
"Sibuk banget ya sayang?, ya sudah jaga kesehatan ya" Rena membalas pesan Varo.
Pesan terkirim, dibaca namun tak dibalas. Rena gelisah dengan perubahan mendadak yang tak biasa dari Varo. Namun pikiran positif masih menjaganya. Rena yakin Varo terburu buru membalas pesannya hingga tak sempat berbahasa romantis seperti biasanya.
__ADS_1
.
.
.
Tiga hari sejak awal masuknya Bu Lidya ke rumah sakit. Itu artinya Varo sudah bertahan di tempat itu selama tiga hari. Bu Lidya yang sudah dipindahkan ke kamar VIP masih belum sadarkan diri. Varo terus berada di sampingnya, menggenggam erat tangan penuh kasih yang membesarkannya selama ini.
"Mas Varo, ini saya bawakan pakaian ganti" Dila yang baru saja datang mengagetkan Varo dari lamunan.
Pria itu tampak sangat kacau. Wajah lelahnya tak bisa disembunyikan. Bulu bulu halus di wajahnya mulai ber invasi merusak sedikit ketampanannya.
"Iya makasih ya mba Dila, taruh disitu aja nanti Varo mandi" ucpa pria itu sopan.
"Varo" sang mama yang sudah berhari hari koma tiba tiba sadar. Varo yang baru saja berniat masuk ke kamar mandi mengurungkan niatnya.
"Ma, Alhamdulillah mama sadar" Varo merasakan hatinya sedikit lega.
"Mba Dila tolong panggilkan dokter, panggil segera" perintah Varo panik kepada asisten ibunya itu.
Dila berlari keluar kamar untuk memanggil dokter jaga, sementara Varo terus menggenggam tangan orangtua kesayangannya itu. Dengan selang oksigen yang masih terpasang Varo tak berani untuk memeluk.
"Ma maafkan Varo ma, maafkan Varo" kalimat itu terus diulang ulang Varo sebagai bentuk penyesalannya.
"Tinggalkan dia, tinggalkan gadis itu" sang ibu yang masih tersengal sengal pasca terbangun dari komanya masih saja membahas dendam.
Tak terasa air mata Varo menetes. Pilihan dihadapannya saat ini sungguh berat. Dua orang wanita yang mengisi hatinya harus dipilih. Varo bak terkena kutukan buah simalakama. Apapun jalan yang ditempuh sama sama tak ada yang baik, dua duanya akan membuatnya hancur.
__ADS_1