
Varo mengajak Rena masuk kedalam rumah besarnya.
"Maaf ya sayang, tak ada penyambutan apa apa, karena sama sekali tak bisa kubayangkan kalau hari ini aku akan membawamu kesini sebagai istriku" Varo merasa tak enak hati.
"Iya tak apa kak" Rena memberikan jawaban yang menenangkan hati Varo.
Rena menjelajahj sekitarnya. Rumah Varo begitu megah dan besar. Dulu Rena pernah ke rumah ini, saat mengantarkan almarhumah Bu Lidya pulang dari rumah sakit beberapa tahun lalu.
Siapa yang menyangka takdir kembali membawa Rena ke tempat ini dengan status berbeda, sebagai nyonya rumah, istri dari Alvaro Prasetya.
"Lagi lihatin apa sih, kayaknya serius bener" Varo memeluk tubuh Rena dari belakang, wanita itu tengah melihat foto foto keluarga Varo yang terpajang di dinding ruangan tengah.
"Lagi lihatin keluarga ku, bapak dan ibu mertua ku yang belum sempat berjumpa" Rena menjawab pertanyaan Varo.
"Pasti saat ini mereka ikut bahagia karena akhirnya putra satu satunya ini tak lagi menyandang status sebagai bujang lapuk" Varo menjawab dengan candaan.
"Haha, bahasanya kak Varo lucu" Rena menanggapi candaan garing dari Varo, mereka pun tertawa bersama.
"Oiya, aku belum ngomong ke ibu kalau kita sudah menikah kak, besok temani aku meminta restu beliau ya" Rena teringat akan ibu angkatnya yang masih terbaring lemah di rumah sakit.
"Apakah harus?" Varo seolah malas melihat Rena masih berurusan dengan wanita yang telah menyiksa Rena bertahun tahun itu.
"Kenapa kak, kok gitu wajahnya" Rena yang tadinya duduk di depan Varo berpindah posisi ke samping pria itu, dan memeluk lengannya.
__ADS_1
"Kenapa sih masih mau direpotkan sama dia? udahlah biarkan aja dia, anggap itu hukuman buatnya karena telah menyakiti mu bertahun tahun" Varo tersulut emosi membayangkan apa yang telah terjadi kepada Rena.
"Jangan gitu kak, meskipun beliau bukan siapa siapa, kita wajib membantunya, aku kasihan kak" Rena berusaha menjelaskan kepada Varo.
Melihat wajah Rena yang begitu tulus dan polos, Varo tak sanggup lagi membantah.
"Ah sudahlah, aku gak mau malam ini diganggu masalah orang lain, ini malam pengantin kita, ayo ke kamar" Varo tanpa permisi menggendong tubuh kecil Rena ke kamar pribadinya. Varo sudah tak sabar ingin menikmati indahnya malam pengantin dengan orang yang dia cintai.
Rena hanya mampu tersipu malu akibat ulah Varo, pria yang telah resmi menjadi suaminya saat ini.
.
.
.
"Iya" Rena mengangguk malu melihat ekspresi wajah Varo yang seolah ingin menerkamnya.
"Mau berdua?" Varo mulai menggoda Rena.
Wajah Rena merah bak kepiting rebus karena ucapan Varo.
"Kak cukup" Rena memasang wajah galak agar Varo segera menghentikan aksinya. Varo terkekeh melihat tingkah Rena. Pria itu masuk ke kamar mandi masih dengan terus tertawa.
__ADS_1
Rena mengitari kamar milik Varo yang luasnya tiga kali lipat dari kamar pribadinya di yayasan. Sebuah lemari besar berwarna biru sangat menarik perhatiannya, karena tampak mencolok dari furniture lainnya di sekitar.
"Kak, aku boleh pegang benda benda milik kak Varo?" Rena meminta izin terlebih dahulu kepada Varo yang sedang di kamar mandi.
"Boleh sayang, pegang semua yang kamu mau, gak ada rahasia apapun disini, kalau mau pegang punyaku juga boleh" jawab Varo mesum.
Rena hanya mampu tersipu mendengar jawaban suaminya itu.
Rena mulai membuka lemari yang membuatnya penasaran itu, betapa terkejutnya Rena karena ada banyak tumpukan kado yang dibungkus rapi dengan berbagai macam ukuran dan bentuk didalam sana.
"Banyak sekali, jadi dari siapa ini?" Rena bergumam sendiri.
Sebuah tangan kembali melingkari pinggang ramping Rena. Wangi segar sehabis mandi menggoda penciumannya. Varo ternyata telah selesai dan kembali menemukan Rena yang termangu didepan lemari.
"Ini semua kado untukmu, yang tak pernah ku kirim" bisik Varo di telinga Rena.
Rena menoleh kearah Varo, raut wajahnya menunjukkan tak percaya.
"Jadi setiap aku kemana pun, ada benda yang kurasa cocok untuk mu pasti langsung kubeli, begitu juga tanggal momen penting, aku akan menghibur diri dengan membelikan mu kado, aku yakin suatu saat kamu akan kembali dan membuka semuanya" Varo menjelaskan.
"Hah ya ampun kak" Rena kehabisan kata kata. Wajahnya bersinar terang, sejak kecil dia paling suka membuka kado, jadi ini saatnya menyalurkan hobi.
"Kak, aku boleh mulai sekarang?" Rena sangat bersemangat.
__ADS_1
"Silahkan, aku siap, mau posisi apa?" Varo kembali berpikiran mesum.
"Ih, pikirannya itu terus, kan dulu udah pernah, aku sekarang mau buka ini dulu" Rena menyingkirkan Varo yang hendak memeluknya, wanita itu memulai aktivitas menyenangkan yang ada di depan matanya.