
Suasana pagi hari di yayasan xxx.
"Kak Desi, Rena mau konsultasi" saat ini wanita itu sedang menemui dokter desi di ruangan pribadinya.
"Eh Rena, kamu kenapa? sini masuk" Desi sumringah menyambut Rena.
"Apa kak Desi sibuk? Rena ganggu gak?" Rena menanya dengan segan.
"Tidak sayang, aku cuma lagi baca baca aja, hari ini libur praktek" jawab Desi lembut.
"Rena bermimpi lagi tentang orang itu kak, Rena takut, bisakah Rena meminta tambahan resep obat?" ucap Rena dengan tatapan sayu.
"Siapa? seseorang dari masa lalu yang telah menyakitimu?" Desi memastikan.
"Iya kak, beberapa hari terakhir ingatan tentang dia muncul lagi, Rena takut tak bisa mengendalikan diri seperti dulu" curhat Rena.
Desi menatap Rena iba. Gadis yang saat ini duduk di hadapannya terus menunduk.
"Hai cantik, angkat kepalamu, nanti mahkota mu jatuh" ucap Desi puitis.
__ADS_1
"Rena, kamu jangan terus terjebak dalam masa lalu. Cobalah untuk menghadapi semuanya. Jika memang suatu saat orang itu muncul di hadapan kamu, tenanglah, tarik nafas dan berpikir jernih" nasihat dokter Desi.
"Rena udah berjuang keluar dari ketergantungan obat penenang, masa mau mengkonsumsi lagi, jangan ya sayang, semangat lah, tidak akan ada ujian berat yang diberikan kepadamu diluar batas kemampuanmu. Allah memilih mu untuk mengalami semuanya, karena kamu wanita yang kuat" Desi terus berupaya menyemangati Rena yang kembali down.
Pasca kejadian bertubi tubi yang dialami Rena, gadis itu sempat hidup dengan bantuan obat penenang. Karena mengalami anxiety atau kepanikan tak terkendali.
Dan saat ini Rena meminta obat itu kembali, Desi sangat khawatir, dokter yang baik itu akan berusaha sebisa mungkin memulihkan mental Rena tanpa obat obatan.
Sementara dibalik pintu ruangan Desi yang tak tertutup sempurna, Bu Lidya mendengar semuanya. Awalnya wanita paruh baya itu tak sengaja lewat, karena rasa penasaran yang tinggi, Bu Lidya menghentikan langkahnya dan mendengarkan curahan hati Rena.
.
.
.
"Ayo buruan, kamu lama ih" Varo menegur Zifa yang lelet.
"Iya iya, ini juga udah cepat" Zifa setengah berlari menyusuri langkah kaki Varo yang panjang. Mereka berjalan menuju teras depan tempat mobil Varo diparkir.
__ADS_1
Varo melajukan mobilnya menuju ke yayasan xxx. Alamatnya telah diketahui melalui google map yang diseting Varo. Butuh waktu lebih kurang satu jam setengah untuk sampai di tempat tujuan, jika jalanan tak macet.
Sepanjang perjalanan Varo lebih banyak diam, sepanjang jalan yang dilaluinya selalu ada saja kenangan tentang Rena. Bahkan saat berhenti di lampu merah, melihat anak anak pengamen yang mencari receh di jalanan kembali membuat Varo teringat Rena.
Teringat saat dulu Rena berkata kalau masa kecilnya sangat sulit, harus mencari uang di jalanan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Andai saja Varo bisa berpikir jernih saat itu, dari semua yang diceritakan Rena seharusnya dia menyadari ada yang tak beres. Dan saat pertama kali berjumpa Rena di perpustakaan pipi Rena lebam bekas tamparan, semua itu sudah merupakan bukti nyata kalau Rena bukanlah sasaran dendam Varo.
"Rena itu pantas disayangi kak, dia sudah banyak menderita" kata kata Aulia saat itu di pintu gerbang kampus juga terngiang ngiang di pikiran Varo.
"Begitu banyak bukti yang ditunjukkan, tapi mata dan hatiku buta" gumam Varo. Pikiran tentang Rena terus menggerogoti Varo. Gadis itu memenuhi semua memori Varo.
"Anda sudah sampai" suara seorang wanita operator aplikasi pencari alamat menghentikan lamunan Varo.
Varo dan Zifa sampai di depan gerbang yayasan xxx, Varo memarkirkan mobilnya dan melangkah masuk kedalam yayasan.
**JRENG.....JRENG..... JRENG....
ZOOM IN ZOOM OUT (ala ala sinetron)
__ADS_1
Bersambung**....