Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Kembali suram, kembali dendam


__ADS_3

Varo dan Rena sedang berada di teras depan rumah milik keluarga Rena.


"Aku pamit ya" Varo mengusap pelan rambut Rena dan bergegas pergi tanpa menoleh ke belakang.


Pemuda itu ingin segera pergi sejauh mungkin dari rumah busuk yang dibencinya itu.


Rena terus memandangi punggung Varo yang perlahan hilang di ujung gang. Senyuman terukir di bibir manisnya. Kesan pertama saat bertemu orangtuanya ternyata tak se mengerikan yang dibayangkan. Varo diterima dengan hangat dalam keluarganya.


"Woiii, ngapain senyum senyum disini, gatal banget sih jadi perempuan, masuk sana loe dipanggil bapak" suara cempreng Nadya mengembalikan Rena ke alam nyata.


"Mampus Lo sekarang, gak ada lagi yang melindungi" ledek Nadya menakuti Rena.


Dengan gontai gadis itu berjalan kedalam rumahnya.


.


.


.


Rena dengan takut masuk menghadap kedua orangtuanya yang sedang menunggu di kursi yang tadi digunakan untuk menyambut Varo.


Bu Wiya yang baru saja kembali dari urusan diluar juga telah ikut bergabung. Sebelumnya wanita itu telah mendapat cerita yang lengkap dari Nadya si anak kandung kesayangan.


"Duduklah" perintah pak Agung mengintimidasi.


Baru saja Rena mendaratkan tubuhnya di kursi satu bentakan didapatnya.


"Siapa suruh duduk disitu, duduk di lantai" kali ini bentakan berasal dari bu Wiya.


Rena terperanjat, dan segera melaksanakan perintah.

__ADS_1


"Kemana saja kau selama ini, dan apa yang telah kau lakukan dengan laki laki itu?" Bu Wiya terus mencecar Rena.


Pak Agung kali ini hanya diam dengan tangan bersedekap.


"Re.. Rena diculik Bu. Kak Varo membantu Rena melarikan diri ke desa" Rena mengulang penjelasan yang tadi sudah disampaikan Varo.


"Hahaha, gadis sial seperti mu ada yang mau menculik, cuihhh bodoh sekali para penjahat itu" ejek Bu Wiya.


Nadya yang berada di samping ibunya ikut tertawa mengejek sang kakak.


"Rena, selama kamu pergi kami kehilangan banyak uang, jadi itu kami anggap hutang" kali ini pak Agung bicara.


"Tapi tenang saja nak, selagi pemuda kaya tadi bisa kau dekati, bapak tidak akan memarahimu. Bapak akan selalu menyayangimu walaupun cuma pura pura, hahahaha" tawa ejekan menggema di ruangan itu. Tiga orang tak berperasaan sedang mengintimidasi seorang gadis kurus kecil yang tak berdaya.


.


.


.


Rena telah kembali ke kehidupannya yang suram. Bangun lebih pagi saat seisi rumah yang lain masih lelap tidur. Sapu dan pel lantai kembali menjadi teman akrab yang menemani paginya.


Namun kali ini hatinya terasa lebih ringan. Ada seseorang yang akan selalu menjadi tempatnya berbagi keluh kesah. Varo telah menjadi penyemangat terbesar kehidupan Rena.


.


.


.


Selesai dengan urusan bersih bersih rumah dan membuat sarapan untuk keluarganya, Rena bersiap mandi untuk berangkat kuliah. Ada banyak sekali pelajaran yang terlewatkan selama dia di desa kemarin.

__ADS_1


Rena beruntung pagi ini tak banyak drama dari orang orang dirumah. Meskipun masih bersikap cuek, tapi masih lebih baik daripada dibentak dan dipukul.


"Pak, Bu, Rena pamit mau ke kampus dulu" dengan sopan gadis itu meminta izin orangtuanya.


"Jangan lupa, hutang mu kepada kami banyak, cepat dapatkan uang yang banyak dari laki laki kaya kemarin. Kalau perlu sodorkan tubuhmu yang tak seberapa itu kepadanya" dengan kasar Bu Wiya kembali mengejek Rena.


"Deg" Rena terbawa perasaan kali ini. Kata kata wanita itu sangat sensitif bagi Rena. Tak dapat ditahan, beberapa tetes air mata lolos dari pelupuknya.


"Permisi, assalamualaikum" Rena setengah berlari keluar dari rumahnya.


Bukan sekali dua kali Rena dicaci maki oleh dua orang yang dianggapnya orangtua. Biasanya Rena tak terlalu ambil pusing, tak pernah dibawa masuk kedalam hatinya, namun kali ini, Rena merasa ucapan sang ibu sangat menusuk.


"Menyodorkan tubuh asal mendapatkan uang, apa serendah itu yang aku lakukan selama ini" batin Rena.


"Drttttt.....drttttt" ponsel Rena bergetar pertanda ada panggilan masuk dari Varo.


Karena ponsel itu diberikan oleh Varo kepadanya kemarin sebelum pulang ke rumah. Hanya Varo yang bisa menghubunginya, belum ada siapapun yang mengetahui nomor hape itu.


"Pagi Re" suara lembut Varo menyapa.


"Pagi kak" Rena menjawab sapaan Varo. Hatinya yang tadi sedih berubah bahagia mendengar suara sang kekasih.


"Maaf ya aku tidak bisa mengantarmu ke kampus hari ini, ada banyak urusan menumpuk selama kita pergi kemarin" ujar Varo menjelaskan.


"Iya kak, aku paham, aku juga sudah hampir sampai kampus, hari ini mau menghadap rektor, semoga mereka mau terima alasanku, dua minggu lebih tak mengikuti kuliah tanpa alasan pasti mereka sangat menunggu penjelasan" Rena menceritakan kepada Varo ketakutannya.


Varo yang baru saja mendengar keluh kesah Rena, bukannya bersimpati tapi justru menemukan ide baru untuk kembali memulai penderitaan untuk Rena. Bibirnya menyunggingkan senyum devil.


"Semangat ya, nanti kabari aku hukuman apa yang kau terima" nada suara Varo berubah datar, tak selembut di awal.


"Iya kak, nanti telepon lagi ya, aku mau naik angkot dulu" Rena bergegas mengejar angkot yang lewat di depannya, dia tak menyadari perubahan sikap Varo.

__ADS_1


"Hubungi rektor kampus, hukum anak pembunuh itu" Varo mengirim pesan kepada Adam, asisten kepercayaannya.


Varo yang masih berada di apartemennya menatap jauh keluar jendela. Ponsel dalam genggamannya terus diremas seolah ingin mengalirkan emosi yang membalut hatinya pagi ini.


__ADS_2