Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Rencana awal


__ADS_3

Rena, Niko dan Zifa sedang berkumpul di rumah Varo untuk mendiskusikan langkah apa yang akan mereka lakukan untuk menyelamatkan Varo dari fitnah Alya.


Ketiganya sepakat untuk membayar seorang pengacara handal di kota itu. Untuk sementara hanya ini solusi yang dapat mereka temukan. Niko dengan kekuatan koneksi yang dimilikinya segera menghubungi orang suruhannya untuk secepatnya mendapatkan jadwal pengacara terkenal yang super sibuk itu.


"Kak Rena, ayo makan dulu, dari tadi belum makan lo" Zifa mengingatkan Rena dan menyodorkan sepiring nasi lengkap dengan lauk untuk disantap Rena.


"Aku gak selera dek, kepikiran kak Varo terus" Rena tampak murung.


"Mas Varo sangat beruntung memiliki istri seperti dirimu kak Rena. Begitu tulus dan sayang banget sama mas Varo" Zifa terharu melihat sikap Rena yang selalu memikirkan Varo.


Rena tersenyum simpul menanggapi pujian Zifa. Selama hatinya yakin kalau Varo tak berbuat seperti apa yang dituduhkan Alya, maka selama itulah Rena akan bertahan dan terus memperjuangkan kebebasan Varo.


.


.


.

__ADS_1


Hari berlalu. Pagi pagi sekali Rena telah menyiapkan masakan spesial yang akan diantarkan untuk suaminya di penjara.


"Semoga kak Varo suka masakan yang aku buat" Rena bergumam sendiri.


Setelah selesai dengan urusan makanannya, Rena bersiap untuk mandi dan ingin segera datang membesuk sang suami di penjara.


"Kak Rena udah siap jam segini?" Zifa takjub dengan apa yang dilakukan Rena sepagi ini.


"Aku gak bisa tidur, kak Varo mungkin juga disana gak bisa tidur, pasti sangat gak nyaman" Rena berkata dengan haru. Terbayang nasib sang suami di dalam penjara sempit sedang bersedih.


"Kalau mas Varo lihat istri nya begini, pasti dia bertambah sedih" Zifa berusaha menyentuh hati Rena dengan membawa Varo dalam setiap kalimat nya.


Rena terdiam mendengar ucapan Zifa. Adik iparnya itu benar, dia harus kuat demi Varo, dia harus sehat, agar dia bisa berjuang bersama suaminya mengungkapkan kebenaran.


"Masih ada waktu dua jam lagi buat istirahat, nanti aku bangunin kak Rena" Zifa memaksa kakak kesayangannya itu untuk masuk kembali kedalam kamar dan berisitirahat.


Sementara itu di lain tempat.

__ADS_1


Varo benar benar gelisah memikirkan keadaannya saat ini.


Bukan dirinya yang dikhawatirkan, tapi kondisi Rena lah yang sampai saat ini mengganggu pikirannya.


Varo takut Rena akan meninggalkannya lagi, atau mungkin Rena saat ini larut dalam kesedihan akibat ulahnya.


"Maafkan aku Re, lagi lagi aku membuat mu tak bahagia" Varo bergumam sendiri.


Sel penjara yang sempit dan dingin membuatnya semakin merindukan sang istri. Pikiran Varo menerawang jauh ke masa lalu. Saat dulu ia pertama kali bertemu Rena. Saat ia masih bersama Alya. Saat ia masih menjadi pria kaya idola para wanita.


"Sekarang aku hanyalah pria gagal, hanya pekerja bawahan, tak memiliki masa depan, bahkan sebentar lagi akan menjadi narapidana" Varo mengutuk dirinya sendiri.


"Tidak, aku tak akan kalah begitu saja karena fitnah ini, aku akan perjuangkan nama baikku, semua harus ku hadapi, demi Rena istriku, aku belum memberinya kebahagiaan" semangat menggebu Varo bangkit.


"CCTV, ya rekaman CCTV rumah Alya. Di malam itu aku menjemput Alya dari pub. Itu bisa menjadi salah satu bukti dasar bahwa aku tak menginap di rumahnya.


Alya berkata saat itu aku menodainya, seharusnya jam aku keluar masuk kamarnya terpampang jelas di rekaman CCTV itu. Aku harus segera memberitahukan ini kepada petugas" sebuah petunjuk baru saja melintas di pikiran Varo. Dan ini akan dapat dijadikan acuan penyelidikan awal atas kesaksian palsu Alya.

__ADS_1


__ADS_2