
Varo dan Rena akhirnya sampai di sawah milik paman Dede. Setelah melepas kerinduan dan memperkenalkan Rena kepada sang paman, dua insan yang tengah dimabuk asmara itu memilih bermain main di sekitar sawah.
Hamparan sawah yang hijau, dan suara gemericik air sungai yang berada di samping sawah membuat hati mereka begitu damai.
Kesedihan yang sempat menghampiri Rena tadi perlahan menguap dan berganti senyum ceria karena Varo tak henti menggodanya dengan tingkah lucu.
"Re, ayo kita lomba, tangkap ikan di kolam ini" Varo sangat bersemangat begitu melihat banyak ikan ikan kecil berenang di sungai yang dangkal.
"Siapa takut, nanti siap siap kalah ya kak" timpal Rena.
"Nanti kalau aku kalah, aku masakin kamu makanan lezat" janji Varo.
"Asyikkk, aku pasti akan kalahkan kak Varo" Rena bersorak kegirangan.
Rena dan Varo larut dalam permainan mereka. Saling menyipratkan air, bahkan Varo dengan iseng menyiram Rena hingga gadis itu basah kuyup.
Mereka tertawa lepas, melupakan Bu Lidya, mama seorang Varo yang tengah mengamuk dan mengutuk tindakan Varo yang membela Rena.
.
.
.
Rumah mewah keluarga Prasetya.
__ADS_1
"Bodoh kalian semua, menculik satu gadis kampung itu saja kalian tak bisa" jerit Lidya kepada orang orang suruhannya.
"Maaf Bu, mas Varo masuk tanpa kami ketahui, dia dan teman-temannya membuat konsentrasi kami terpecah" ketua dari preman itu berusaha menjelaskan kepada nyonya bos mereka.
"Saya tidak mau tau, segera temukan mereka" perintah sang nyonya besar.
"Baik Bu, siap laksanakan" para preman bertubuh besar itu segera hilang dari pandangan Bu Lidya. Mereka takut akan menjadi sasaran amukan kemarahan si nyonya besar itu.
"Varo, tega kamu berbuat ini kepada mama dan almarhum papamu" Bu Lidya histeris sendirian.
Tangis pilu menggema memenuhi ruangan kamar Bu Lidya.
Kembali ke desa dimana Varo dan Rena sedang menikmati masa indah mereka berdua.
Pesona lain terpancar dari tubuh Rena saat ini. Varo melihat Rena sangat mempesona, naluri kelelakiannya meledak ledak karena melihat Rena yang tanpa polesan make up, benar benar natural dan sangat manis.
"Pacar aku cakep banget" puji Varo spontan.
Rena yang mulai terbiasa dengan kegombalan Varo mulai bisa menguasai diri.
"Aku bukan pacar kak Varo, sejak kapan kita pacaran?" tantang Rena.
"Kan kemarin aku udah bilang kalau aku menyayangi kamu" balas Varo tak mau kalah.
"Pacarnya yang beneran di kota udah diputusin belum?" sindir Rena. Saat ini mereka tengah mengobrol di teras rumah.
__ADS_1
"Emm, soal itu, aku udah coba hubungi dari kemarin tapi gak bisa" Varo menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Jadi aku selingkuhan ya?" tanya Rena datar.
Dia tau saat ini Varo masih memiliki hubungan yang resmi dengan wanita lain, tapi Rena memilih bersikap egois, selagi Varo ada di depan matanya, dia tak akan melepaskannya, Rena mulai tak bisa menguasai diri, dia bertekad akan merebut Varo dari Alya si wanita jutek.
"Aku cuma belum bisa menghubungi Alya, karena dia lagi diluar kota, tapi dalam hatiku saat ini cuma kamulah satu satunya yang aku sayang" bisik Varo. Perlahan pria itu duduk lebih rapat kearah Rena, dan melingkarkan tangannya ke perut ramping milik Rena.
"Percaya padaku, aku mencintaimu" bisik Varo di telinga Rena. Perkembangan hubungan mereka semakin jauh kearah kontak fisik. Rena yang dimabuk cinta menikmati setiap pelukan dan ciuman Varo. Dia membiarkan saat pria itu menyesap lekuk lehernya dari belakang. Rena sudah berubah dari gadis lugu yang pantang bersentuhan fisik dengan laki laki menjadi gadis yang gampang dirayu. Meskipun tanpa status hubungan yang jelas.
Sore sudah berlalu, berganti malam di suasana desa yang damai.
Rena saat ini sedang menikmati makan malam bersama keluarga barunya, paman Dede, Bibi Maryam dan tentu saja sang bad boy Alvaro Prasetya.
Jadi den Varo sama neng Rena kesini mau mengabarkan kalian akan menikah ya?" paman Dede tiba tiba saja melontarkan pertanyaan yang membuat ***** makan Varo lenyap.
"Mana mungkin aku menikah dengan Rena, bakalan jadi apa nanti keluarga ku hidup dengan anak pembunuh papa" batin Varo. Rasa benci dan dendam kembali menyelimuti. Rasa itu muncul tiba tiba dan hilang tiba tiba.
Saat Varo mengingat bagaimana hancurnya sang mama saat papanya meninggal, saat itulah kebencian kembali muncul, namun saat melihat wajah Rena yang begitu teduh, lenyaplah semuanya.
"Den kenapa tiba tiba diam?" Paman Dede yang merasa tak ada respon dari Varo kembali mengulang pertanyaannya.
"Soal pernikahan, kami masih belum membahas sejauh itu paman, tapi yang pasti, untuk saat ini saya menyayangi pacar saya ini" ucap Varo diplomatis.
Paman dan bibi hanya bisa mengangguk lemah mendengar ucapan Varo. Sementara Rena, ada rasa tak nyaman di hatinya. Varo dan dia saat ini tak memiliki hubungan apa apa, tapi sikap dan perhatian pria itu bahkan sudah selayaknya kekasih.
__ADS_1