
"Ma...maaf Re, biar aku pergi aja, kamu harus lanjutkan makan" Varo segera berdiri dan pergi keluar meninggalkan Rena.
Dia tau Rena tak menginginkannya, dia terlalu memaksa Rena, padahal apa yang dilakukannya tak sama sekali dapat dimaafkan.
"Bodoh gak tau diri" Varo mengutuk dirinya sendiri.
"Kak Varo mau pulang ya?" Rahman anak kecil yang menjadi sahabat Rena di yayasan bertanya.
"Iya dek, kak Varo gak diinginkan disini" keluh Varo.
"Oh gitu, ok hati hati kak" Rahman cuek dan kembali masuk kedalam.
"Eh kenapa responnya gitu" Varo merasa ada yang aneh dengan Rahman.
"Kak Rena suruh nanyain, kayaknya khawatir" jawab Rahman enteng.
Hati Varo kembali berbunga bunga. Rena ternyata diam diam masih menaruh perhatian kepadanya.
"Dek bilang kak Rena, kak Varo gak jadi pulang, kak Varo masih mau berjuang lagi" pria itu kegirangan.
.
.
.
Siang menyambut keceriaan dirumah yayasan.
Varo memanjakan anak anak dengan berbagai macam mainan dan makanan yang banyak. Anak anak bersuka ria mendapatkan rezeki berlimpah yang jarang mereka rasakan.
"Dek, kasih ini ke kak Rena ya" Varo menyerahkan satu cup mocca latte yang tadi dipesannya di tempat langganan Rena dulu.
Varo masih mengingat semua kesukaan Rena.
"Baik kak", bocah kecil itu berjalan menuju kamar Rena.
__ADS_1
Rena memang memilih berdiam diri di kamarnya karena tak nyaman dengan kehadiran Varo.
"Kak Rena, ini buat kakak" bocah kecil itu memberikan minuman kepada Rena saat wanita itu membuka pintu kamarnya.
"Makasih adek, siapa yang traktir ini?" mata Rena berbinar bahagia melihat minuman favoritnya di depan mata.
"Itu dari kak Varo" jawab bocah kecil itu polos.
Raut wajah Rena berubah. Dia mengembalikan minuman itu dan berkata, "tolong balikin ke orang itu ya dek, bilang kak Rena gak mau terima".
Dan bocah itu kembali menuruti dengan bingung. Dia berjalan ke ruang tamu tempat Varo sedang bermain dan mengembalikan minuman.
"Kata kak Rena ini gak diterima" bocah itu menjelaskan kepada Varo.
"Huft.." Varo menghela nafas.
Varo mengambil sekotak donat dengan berbagai varian topping hasil olahan cafe miliknya. Dulu Rena juga sangat menyukai ini.
Bocah yang lain mendapat giliran kali ini. Dia disuruh Varo mengantarkan kepada Rena.
"Kak Rena gak mau terima" bocah itu juga gagal menjalankan misi.
Varo tersenyum, dia menyukai Rena yang keras kepala ini.
Pemuda gagah itu berdiri dari tempatnya dan membawa sekotak donat dan segelas minuman kesukaan milik Rena itu.
"Tok...tokk" Varo mengetuk pintu kamar Rena.
Segera saja pintu itu terbuka dengan sambutan galak dari Rena.
"Jangan mau disuruh suruh dek. kak Rena gak mau terima apapun dari...." Rena terdiam karena tak menyangka yang berdiri di hadapannya saat ini adalah Varo langsung.
"Dari siapa, dari aku?" Varo melempar senyum mempesonanya.
Rena membeku. Dia kembali menunduk tak menatap kearah Varo.
__ADS_1
"Benci sama orangnya gak apa, tapi makanan ini gak salah, ini buat kamu, terimalah" Varo membujuk.
Rena diam membatu, bingung mau menjawab.
"Dek sini" seorang bocah yang kebetulan lewat dipanggil Varo.
"Tolong taruh dikamar kakak cantik ini ya" Varo menyerahkan barang yang dibawanya dan berlalu dari hadapan Rena dengan cuek.
.
.
.
Malam hari pun datang.
Rena masih seteguh karang tak mampu diluluhkan oleh Varo.
Makan malam kali ini sangat sepi. Dokter Desi mengabarkan kalau dia tak bisa ikut bergabung karena masih sibuk di rumah sakit. Rena pun tak keluar dari kamarnya. Varo hanya ditemani oleh anak anak.
"Kak Rena udah makan belum?" Varo menggali informasi kepada seorang bocah.
"Belum kak, dari tadi gak keluar" jawab anak itu.
Varo tak menyelesaikan makannya, dia mengambil piring bersih dan mengisinya dengan nasi dan lauk pauk.
Dengan makanan di tangannya, Varo melangkah menuju kamar Rena.
"Apalagi?" Rena meradang. Pria itu tak henti mengganggu.
"Makan, marah marah itu butuh tenaga" goda Varo.
"Cukup, anda pikir lucu semua ini, sejak kedatangan anda ke tempat ini, saya merasa sangat terganggu. Mungkin bagi anda semuanya mudah, bisa diselesaikan dengan kata maaf. Tapi tidak bagi saya, berhentilah, apapun rencana anda untuk kembali menghancurkan saya, itu tidak akan berhasil.
Saya bukan lagi gadis bodoh yang dulu, yang dengan gampang anda permainkan, yang murahan hingga menyerahkan semuanya kepada pria biadab seperti anda" Rena menumpahkan semua kekesalannya.
__ADS_1