
Rena melangkah pergi meninggalkan Varo. Ada rasa kesal di hatinya. Rena merasa Varo memperlakukannya tak berharga, selalu melakukan kontak fisik. Yang lebih membuat Rena marah adalah, sikap Varo selalu memberikan harapan kepadanya. Padahal Rena tahu itu tak akan mungkin terjadi.
"Rena, maaf" akhirnya Varo kembali mengucapkan kata yang dibencinya itu. Sebuah kata yang berarti dia kembali menyakiti Rena.
"Kita pulang saja kak, aku gak mau melanjutkan lagi" Rena sadar emosinya tak stabil. Dia takut akan melakukan hal yang tak terkendali.
Varo menurut, tak ingin berdebat karena dia memang salah telah melanggar konsekuensi. Selama perjalanan Varo dan Rena diam, suasana hening mencekam membuat Varo salah tingkah.
Sesampainya di depan yayasan Rena segera masuk kedalam tanpa mempedulikan Varo.
Sore hari pun datang.
Suasana hati Rena telah lebih baik.
"Kak Rena ayo makan, kak Varo masak banyak buat kita semua" seorang bocah melapor kepada Rena.
"Astaga, dia masih disini, kasihan pasti dia masih berpikir aku marah" Rena membatin sendiri.
"Kak Varo ada dimana sekarang?" Rena bertanya.
"Lagi main bola di depan sama teman teman" bocah kecil itu menunjuk kearah pintu luar yayasan.
__ADS_1
Rena memutuskan untuk menyusul ke depan, dia ingin meminta maaf kepada Varo. Rena sadar sikapnya tadi memang terlalu kekanak kanakan.
Sesampainya Rena diluar, pemandangan lucu membuatnya tertawa geli. Wajah Varo sedang dicoret coret oleh sekumpulan anak anak yang berhasil mengalahkannya bermain bola. Setiap kali mereka berhasil mencetak gol, wajah Varo akan menjadi sasaran mereka.
Rena tertawa lebar melihat kondisi Varo yang dikerjai oleh anak anak itu.
"Eh hai Rena" Varo menyadari ada seseorang di belakangnya yang sedang tertawa.
"Kakak ngapain, kok wajahnya dilukis gitu?" tanya Rena menggoda Varo.
"Hik, adik adik kamu nih keroyok aku, tolong" Varo menimpali candaan Rena. Hatinya lega melihat Rena tertawa lepas. Tak sia sia usahanya bertahan di yayasan hingga sore hari, terbayar sudah dengan sikap Rena sore ini.
Rena menyambar tisu basah di lemari kecil di sampingnya.
"Ayo kita tanding lagi, kali ini kak Rena tim kak Varo vs kita" seorang bocah menantang Varo dan Rena.
"Ayo siapa takut" Rena mengeluarkan kalimat yang sukses membuat Varo melongo.
Akhirnya kedua insan itu larut dalam permainan seru bersama anak anak di yayasan.
"Nih minum dulu" Varo menyodorkan segelas air mineral dingin kepada Rena yang duduk mengatur nafasnya yang tersengal sengal.
__ADS_1
"Kak, maafkan Rena ya, tadi siang marah marah" Rena memulai pembicaraan.
Varo menatap Rena sekilas, senyuman terkembang di wajahnya.
"Kok kamu yang minta maaf, kan aku yang salah" Varo menimpali ucapan Rena.
"Aku tadi siang lepas kendali Re, bagaimanapun juga, dirimu masih ada disini" Varo menunjuk hatinya.
"Udah kak, pelan pelan kita hapus masa lalu ya, sekarang kita sahabat kan?" Rena berkata seolah tanpa beban.
Varo tak kuasa menyetujui ucapan Rena. Tubuhnya mematung, setengah hatinya menolak ajakan persahabatan dari Rena.
"Ayo kak, udah gelap, masuk yuk, kita makan malam bareng adek adek" Rena mengajak Varo.
"Habis makan aku mau ke rumah sakit, nginap disana buat jagain ibu" Rena menyampaikan niatnya kepada Varo.
"Aku temani ya" Varo menawarkan diri.
"Besok kak Varo kan mulai kerja, sebaiknya fokus dulu aja ya, aku bisa sendiri kok" Rena menolak dengan halus.
"Ya udah, aku antar kamu sampai rumah sakit ya" Varo mengalah.
__ADS_1
"Ok kak, yuk makan" Rena dan Varo berjalan beriringan. Mereka kembali berdamai.