
"Terimakasih" hanya ucapan singkat itu yang bisa diucapkan Varo saat ini. Dia dan Rena sedang duduk berdua di sebuah cafe tak jauh dari komplek pemakaman.
Rena hanya diam tertunduk. Ada banyak kalimat yang ingin ditanyakannya kepada pria itu, terutama sejak pengakuan dari Kiara, tapi entah mengapa lidahnya kelu.
"Besok pasti semuanya akan berubah, aku berharap kamu akan selalu bahagia Re, aku janji setelah ini hanya akan datang saat kamu luka" Varo mengucapkan kalimat yang tak dipahami Rena.
"Ada apa dengan besok?" Rena membatin dalam hatinya. Namun dia tetap diam tak berani memandang lawan bicara. Tiba tiba rasa gugup hebat menyerangnya.
"Apa semua persiapan sudah selesai? apa yang harus aku bantu?" Varo kembali mengajak Rena bicara. Walaupun hatinya tersayat sayat, namun demi kebahagiaan Rena dia berusaha tegar.
"Persiapan apa?" Rena kembali bertanya sendiri dalam hatinya.
"Kak Varo dapat undangan ya?" Rena mulai paham. Rena berpikir Varo membahas tentang pernikahan Aldi dan Aulia.
"Iya dapat, makasih ya, setidaknya aku bisa melihat dirimu untuk terakhir kali sebelum jadi milik orang lain" ucap Varo getir.
Rena mengernyitkan kening keheranan.
"Maksudnya kak?" Rena mencoba mengklarifikasi.
"He, tak apa, sudahlah jangan dibahas, yuk makan, keburu dingin makanannya" Varo tak sanggup untuk membahas lebih lanjut. Ikhlas itu masih sungguh berat buatnya. Butuh seumur hidup untuk terus belajar.
.
.
__ADS_1
.
Varo mengantarkan Rena pulang ke yayasan. Sepanjang jalan keduanya lebih banyak diam. Rena sibuk dengan gugup di hatinya, sementara Varo sibuk menyemangati dirinya sendiri.
"Kak Varo mau mampir?' Rena menawarkan diri.
"Gak Re, masih ada urusan" Varo terus berbicara dengan menatap Rena. Tatapan perpisahan.
"Baik kak, hati hati dijalan" Rena berpamitan dan masuk kedalam rumah.
"Sabar Varo, sabar, dia bukan jodohmu" Varo terus menguatkan hatinya sendiri.
.
.
.
"Kak Varo nya masih ada urusan katanya" Rena menjelaskan.
"Kalian balikan?" Desi langsung memberi pertanyaan yang semakin membuat Rena gugup.
"Enggak kak, dia hari ini tampak aneh, seolah olah akan berpisah jauh" Rena menjawab apa yang dirasakannya.
Desi tersenyum kecut. Dia tahu pasti akibat prank surat undangan yang dikirim ke Varo itu pasti akan menyebabkan pria itu galau luar biasa.
__ADS_1
"Apa mungkin kalian bisa bersatu lagi?" Desi kembali memancing tanggapan Rena.
"Entahlah kak, Rena jalani aja" wanita itu menjawab pasrah.
"Oiya kak, Kiara kemarin kesini" Rena memulai percakapan. Posisinya saat ini sedang duduk santai di samping Desi.
"Oh ya, apa kabar dia sekarang? udah lama sekali aku gak jumpa gadis cantik itu" kak Desi menanggapi.
"Kabar dia baik kak, cuma ada satu informasi yang kemarin dia beritahu kepada ku, info tentang kak Varo" Rena sedikit berbisik, rasa gugup kembali datang kala mengingat Varo.
"Info apa Re?" Desi ikutan tertarik karena gaya bicara Rena yang seolah ini sangat rahasia.
"Pengobatan luka di wajah aku ternyata kak Varo lah yang membiayai. Dia sengaja mengirim Kiara kesini untuk mengobati aku, membayar semuanya dengan mahal dan tetap bertanggung jawab untuk ku sampai sembuh, bahkan dilunasi sampai dua tahun ke depan" Rena menjelaskan semuanya.
Desi terdiam. Dia sebenarnya pun sudah tau tentang rahasia ini.
"Kamu beruntung dek, sebesar itu Varo mencintaimu, dalam diam dia terus menjaga mu Re" Desi terharu.
"Iya kak, apa inj saatnya Rena membuka hati buat kak Varo?" Rena meminta saran.
"Terserah kamu sayang, ikuti kata hatimu, jangan sampai menyesal untuk kedua kalinya" Desi menjawab dengan bijak.
"Soal kuliah kamu gimana? kapan mulai masuk?" Desi mengubah topik pembicaraan.
"Senin kak, besok Rena akan sibuk di acara pernikahan Aul dan Aldi" Rena menjelaskan.
__ADS_1
"Ya udah, sekarang istirahatlah, nanti sore kak Desi antar kerumah calon pengantin, kamu nginap disana kan?" Desi memastikan.
"Iya kak" jawab Rena singkat.