Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Puzzle pertama


__ADS_3

Rena bolak balik menoleh kearah Varo, pria itu saat ini sedang duduk di sebelahnya, didalam mobil yang melaju menuju yayasan kediaman Rena.


"Kenapa Re?" Varo bertanya bingung melihat ekspresi Rena.


"Kak Varo benar baik baik aja?" nada suara Rena terdengar khawatir.


"Selama di dekatmu aku baik baik saja" jawab Varo puitis.


Rena mendelikkan mata menerima godaan Varo.


Tak lama mereka telah sampai didepan yayasan, anak anak menyambut dan membukakan pintu mobil untuk mereka.


"Hore, kak Rena pulang" ucap anak anak ceria.


Ka Desi juga ikut menyambut, berdiri di depan anak anak, dia telah mengetahui semua cerita yang terjadi selama di Australia dari Kiara, dan dia sangat senang melihat perkembangan hubungan Rena dan Varo.


"Hai, aku turut berdukacita ya" dokter Desi memeluk Varo.


"Terimakasih kak" Varo merespon pelukan tulus dari Desi.

__ADS_1


"Ayo kita masuk kedalam" Rena mengajak semuanya masuk.


Saat telah berada didalam, Rena meminta Varo dan kak Desi duduk, Rena tak ingin membuang waktu, urusan asal usul dirinya ini harus secepatnya diselesaikan. Rena ingin menata masa depannya dengan normal tanpa ada lagi yang disembunyikan.


"Kak, maaf Rena mau minta sedikit waktu kakak, ada yang mau Rena bicarakan" Rena memulai kalimatnya.


"Ada apa dek?" Desi merasa apa yang ingin dibicarakan Rena sesuatu yang serius.


"Apa Bu Indah ibu kandung kak Desi?" Rena memulai pertanyaannya dengan lugas.


Desi mengernyitkan keningnya heran. Mengapa Rena menanyakan hal pribadi seperti ini kepadanya dan ada Varo juga diantara mereka. Desi tak nyaman.


"Maaf kak, Rena lancang menanyakan hal ini, tapi semua ini penting kak, ada yang ingin Rena selidiki" ucap Rena menjelaskan.


Airmata Rena kembali bercucuran, teka teki semakin dekat dengan jawaban.


Varo mengambil alih situasi karena melihat kondisi Rena yang tak memungkinkan. Wanita kesayangannya itu menangis sesenggukan.


"Apa kak Desi masih ingat ciri ciri adik kak Desi yang hilang?, tanda tanda spesifik seperti sebuah tanda lahir?" pancing Varo.

__ADS_1


"Saat itu aku masih terlalu kecil. Yang aku ingat dia sangat manis dan lucu" jawab Desi.


"Mungkin kalau aku melihat fotonya dahulu, aku bisa mengenali" tambah Desi lagi.


Rena dan Varo saling lirik, mereka masih membutuhkan petunjuk baru.


"Ada apa sih, aku bingung lo" Desi kembali menanyakan.


"Nanti Rena akan jelaskan ya kak, saat ini belum bisa" Rena kembali berbicara meskipun sisa tangisan masih melekat di wajahnya.


"Baiklah, aku percayakan kepada kalian, meskipun aku bingung" ucap Desi. Wanita bijak itu beranjak pergi meninggalkan Rena dan Varo berduaan.


"Kita harus ke rumah lama tempat orangtua angkat mu berada Re, kita akan cari bukti foto masa kecil mu disana" Varo berbicara kepada Rena. Posisi duduknya telah berpindah lebih mendekat kearah Rena.


"Udah jangan nangis terus, dilihatin anak anak tuh" Varo menggoda Rena yang masih sesenggukan.


"Kamu istirahat dulu ya, aku balik kerumah, besok pagi kita akan lanjutkan pencarian bukti ini" Varo kembali mengajak Rena berbicara.


"Makasih ya kak" Rena menanggapi ucapan Varo dengan suara serak.

__ADS_1


"Janji jangan nangis terus ya, kamu cantik kalau tersenyum" Varo mengusap sisa air di mata Rena dengan jari tangannya.


Rena memberi senyuman tipis sebagai balasan dari perbuatan Varo. Hatinya terasa hangat, perasaan yang dulu selalu dicintai dan disayangi muncul kembali. Varo mampu menghiburnya.


__ADS_2