
Varo terus memperhatikan Rena yang berada didalam ruangan unit gawat darurat tempat Bu Wiya sedang dilakukan tindakan.
Hanya satu orang yang boleh masuk sebagai pendamping, karena itulah Varo hanya bisa memantau dari luar ruangan yang dibatasi dinding kaca.
"Tulus sekali hatimu Re, apa kamu lupa apa yang telah mereka berikan selama ini kepadamu" Varo bergumam sendiri.
Rena berjalan melangkah keluar ruangan UGD, kondisi Bu Wiya sudah bisa dikendalikan dan saat ini wanita itu tertidur pulas karena pengaruh obat.
"Re, ini ganti dulu bajunya" Varo menyodorkan sebuah kantong berisi pakaian yang kebetulan ada di mobilnya.
Varo memang sangat memperhatikan kebersihan tubuhnya dan tentu juga wanitanya. Luka berbau menyengat di tubuh Bu Wiya tadi bisa saja mengandung virus dan kuman berbahaya, karena itulah Varo sigap mengganti pakaiannya dan pakaian Rena.
"Eh kak Varo bawa pakaian ganti?" Rena tampak bingung, Varo telah berganti pakaian.
"Kebetulan kemarin ada beberapa baju yang disimpan di mobil" jawab Varo menjelaskan.
"Ya udah, aku ke toilet sebentar ya" Rena membawa kantong itu bersamanya menuju toilet yang tak jauh dari tempat mereka.
Tak menunggu lama, Rena balik ke hadapan Varo dengan penampilan mengesankan. Kaos milik Varo yang dipakai Rena itu tampak kedodoran namun berkesan sexy. Sejenak Varo terkesima.
"Kak Varo kenapa dilihatin gitu?" Rena tampak tak nyaman.
"Kamu cantik, semakin cantik" Varo spontan menjawab.
__ADS_1
Wajah Rena bersemu merah.
"Terus sekarang gimana kak kelanjutan rencana kita?" Rena duduk di sebelah Varo dan mengalihkan pembicaraan.
"Kita kembali ke rumah tadi ya, sementara ibu kita titipkan ke petugas yang jaga disini" Varo mengutarakan idenya.
"Apa baik seperti itu kak?, kalau beliau membutuhkan sesuatu gimana?, kasihan beliau sendirian" Rena ragu.
Varo mengusap kepala Rena yang tertutup hijab itu dengan gemas.
"Hati kamu terbuat dari apa sih Re?, apa gak ada dendam dan benci sedikitpun untuk mereka?" Varo tak percaya dengan sikap Rena yang tak wajar.
"Aku marah, aku juga kadang tak terima dengan apa yang telah dilakukan kepadaku selama ini, tapi apa kita tega meninggalkannya sendirian dalam kondisi seperti itu?" Rena menjawab dengan lugas.
Pria itu menelan salivanya mendengar ucapan Rena. Lagi lagi Rena menyelipkan kalimat sindiran kepadanya.
"Eh maaf kak, aku gak bermaksud buat" Rena tersadar dengan ucapannya, dia memilih tak melanjutkan kalimatnya.
"Iya, tak apa kok" Varo tersenyum kecut.
"Drttttt....drtttt...."
Ponsel Varo kembali berdering. Panggilan masuk dari Alya muncul lagi di layar.
__ADS_1
Varo mengangkat panggilan itu didepan Rena tanpa beban apapun, dia tak menyembunyikan satu hal pun dari Rena.
"Hai sayang, lagi dimana?" Alya menyapa dari seberang telepon.
"Lagi di rumah sakit, lagi menemani Rena, kamu ingat Rena kan?" Varo blak blakan.
Tiba tiba sambungan telepon diputus sepihak oleh Alya. Tampaknya gadis itu marah, tali biarlah, Varo tak ambil pusing.
"Siapa kak, kok sebut sebut nama aku?" naluri keingintahuan Rena muncul.
"Masih ingat Alya?" Varo menjeda kalimatnya.
"Mantan tunangan kak Varo?" Rena bertanya dengan polos.
"Mantan pacar saja, karena aku belum pernah tunangan dengannya" jawab Varo meluruskan.
"Owh, kak Varo balikan lagi sama dia?" nada suara Rena terdengar tak suka.
"Gak, tiba tiba dia menghubungi aku kemarin, ngajak ketemuan" Varo menjelaskan.
"Owh, ya udah, temui aja dulu kak, aku sendirian disini, rencana ke rumah Bu Wiya kapan kapan aja, atau aku sendiri juga bisa" Rena spontan bereaksi layaknya orang yang sedang dilanda cemburu.
"Gak lah, nanti aja, saat ini aku fokus buat masalah mantan calon istriku, karena hanya dia yang selalu kupikirkan" jawab Varo cuek.
__ADS_1
Rena mengernyitkan dahi, "mantan calon istri yang selalu dipikirkan?, maksudnya aku?" Rena bergumam sendiri.