
Rena dan Kiara telah berada didalam kamar hotel yang mereka sewa. Pikiran Rena terus terganggu dengan semua pengakuan Varo. Ternyata Varo mendekatinya karena dendam.
"Kiara, aku mau cerita" Rena tak tahan menanggung semua pertanyaan di kepalanya sendirian.
"Apa Re, cerita aja" Kiara yang sedang membersihkan sisa makeup di wajahnya merespon.
"Kalau ada laki laki yang dekati kamu tapi niatnya karena dendam, terus dia minta maaf, kamu maafin gak?" Rena bertanya dengan polos.
Kiara tersenyum. Sebelum menjawab pertanyaan Rena, dia mengaktifkan rekaman video.
"Tergantung Re, apa kenangan buruk yang diberikan lebih banyak dibanding kenangan baik, apa dia tulus meminta maaf, apa dia sudah benar benar berubah" Kiara menjawab dengan puitis.
"Kamu masih cinta gak sama orang itu?" Kiara balik bertanya.
"Gak tau, dulu kupikir aku membencinya, tapi semakin kesini aku malah menjadi ragu" Rena menjawab dengan bingung. Rena sama sekali tak menyadari kalau ekspresinya saat ini tengah direkam oleh Kiara dari balik meja riasnya.
Percakapan mereka terputus karena Kiara menerima panggilan telepon dari rekan kerjanya. Sementara Kiara sibuk Rena memilih beristirahat, tubuhnya lelah.
Rena tak tau setelah Kiara selesai menelpon koleganya, Varo menghubunginya dan berterima kasih kepada Kiara atas bantuannya selama ini.
.
.
.
Hari berganti. Varo yang sedang tertidur di ruang tunggu rumah sakit terbangun karena ada seseorang yang membangunkannya.
Varo mengerjapkan mata. Dia tak percaya Rena datang sepagi ini menemuinya.
"Rena, kamu kesini?" Varo gugup.
"Iya kak, tadi Kiara yang antar. Dia berangkat pagi pagi, aku bingung seharian di hotel ngapain, aku kesini mau nengok bu Lidya, gimana keadaan beliau?" Rena tampak tulus bertanya.
__ADS_1
Varo semakin kagum dengan kemuliaan hati Rena. Tadinya Varo berpikir kalau Rena tak akan lagi menemuinya karena pengakuannya kemarin.
"Re, mama masih kritis, bahkan semakin memburuk" suara Varo terdengar sangat sedih.
"Sabar ya kak, semoga semuanya baik baik saja" Rena memberi semangat.
"Re, apa kamu tak membenci ku?" Varo tak tahan ingin bertanya.
"Masih kak, aku kesini karena Bu Lidya. Waktu di yayasan ibu sangat baik kepada ku, aku merasa mendapat kasih sayang yang selalu ku impikan" Rena menjelaskan.
Varo menelan salivanya. Pengakuan Rena yang menyatakan masih membencinya membuat nyali Varo ciut. Rena bersikap cuek kepadanya, mungkin tak ada lagi rasa cinta di hati Rena untuknya.
"Makasih Rena, aku tau tak pantas mendapat maaf dari mu, dengan kehadiran mu disini aja udah sangat membuat ku bahagia" gumam Varo lemah.
Rena yang saat ini sedang berdiri di depan jendela kaca melihat kearah dimana Bu Lidya masih terbaring dengan banyak alat medis di tubuhnya.
"Jam besuk nya masih satu jam lagi, apa mau menunggu?" Varo berjalan mendekati Rena dan ikut menatap kearah ranjang sang mama.
"Biar gantian aja, kak Varo belum pulang kan dari semalam, pergilah, biar aku yang tungguin" Rena mengeluarkan idenya.
"Kenapa? gak capek? semalaman begadang kan?" Rena bertanya dengan mimik wajah polos. Hal ini membuat Varo kembali teringat akan Rena yang dulu. Rena yang manis dan polos.
Senyum Varo tak dapat disembunyikan. Iya menemukan kembali Rena nya yang hilang.
.
.
.
"Re, apa kamu benar bukan anak kandung pak Agung?" Varo kembali bertanya tentang masa lalu Rena.
Saat ini mereka tengah duduk berdua dengan jarak berjauhan di ruang tunggu, menunggu jam besuk dibuka.
__ADS_1
"Iya benar" jawab Rena pendek.
"Apa kamu ingat siapa orang tua kandung mu?" Varo semakin penasaran.
"Gak ingat, saat itu bapak membawa ku kerumahnya pada umur dua tahun" Rena menjelaskan.
"Maafkan aku Re, saat ini aku sedang menyelidiki siapa orang tua kandung mu sebenarnya, karena aku yakin pak Agung itu punya andil besar dibalik terpisahnya dirimu dengan orang tua kandung mu" terang Varo.
"Apa kak Varo sangat membenci bapak?" Rena memastikan.
"Iya, sangat membencinya" ekspresi wajah Varo berubah.
Rena terdiam memperhatikan perubahan wajah Varo.
Varo sadar Rena sedang memandanginya.
"Kenapa Re?" tanya Varo.
"Apa masih belum cukup dendam itu terbalaskan?" suara Rena tertahan.
"Aku menyayangi keluarga itu meskipun mereka bukan orangtua kandungku. Setidaknya mereka memberiku rumah tempat bernaung, aku tak terlunta lunta dijalan" Rena mulai terisak.
"Apa kesalahan mereka yang sudah keluarga kalian berikan kepadaku belum juga sanggup menghapus dendam itu?.
"Aku sudah hancur kak, aku udah jadi sampah, kumohon maafkan keluarga ku" Rena membela keluarganya.
"Re, bukankah keluarga itu sering menyiksa mu?, membuat mu mencari uang saat masih kecil, menjual mu untuk dijadikan istri ketiga kepada bandot tua?.
Setelah aku mengetahui ini semua, aku tak mau tinggal diam, aku akan membalas sakit hati ini untukmu Rena" Varo menjelaskan.Rena menggelengkan kepalanya.
"Apa bedanya dengan mu, kalau ditanya siapa orang yang paling membuat ku sakit, orang itu adalah dirimu kak Varo. Sakit yang ku rasakan karena siksaan bapak tak ada apa apanya dibanding sakit yang kamu berikan. Tapi aku mencoba memaafkan" tegas Rena.
DEG...
__ADS_1
Jantung Varo bagai tertusuk pisau mendengar ucapan Rena.