Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Mama dengan amarah


__ADS_3

"Assalamualaikum" Varo masuk kedalam rumah.


Suasana sudah sangat sepi, ya mungkin semua penghuni sudah tidur, karena jam di tangan Varo sudah menunjukkan waktu dini hari.


Varo memutuskan untuk sementara kembali ke kamarnya yang dulu, dia akan menginap malam ini, semoga saja besok pagi iya bisa berjumpa dan bicara dari hati ke hati dengan mamanya.


.


.


.


Pagi menjelang, matahari mulai menampakkan pesonanya.


Rena bersenandung kecil memulai hari pertamanya sebagai gadis penjaga warung. Hari ini dia telah bersiap dengan pakaian sopan cenderung kedodoran dan tertutup.


Iya, meskipun belum berhijab, Rena berupaya sebisa mungkin menjauhkan diri dari pandangan nakal laki laki.


Dia paham sekali saat ini akan melayani berbagai macam tingkah laku pelanggan yang kebanyakan laki laki.


Rena berharap pelanggannya akan nyaman dan betah di warungnya karena pelayanan yang sopan dan hidangan yang enak. Bukan karena memamerkan lekuk tubuh.


"Bismillah, ridhoi usaha hamba ya Allah" Rena memulai membuka warungnya.


"Semangat ya sayang untuk hari pertamanya" pesan dari Varo mampu membuat Rena tersenyum merona.


"Semangat juga buat kak Varo" Rena membalas pesan dari kekasihnya itu.

__ADS_1


Pesan Rena langsung dibaca oleh Varo, pesan itu mampu membuat Varo tersenyum dan membuatnya bersemangat pagi ini.


Varo telah rapi, setelah membersihkan diri dan berganti pakaian dia bersiap turun ke lantai bawah menemui mamanya. "Jam sarapan, pasti mama lagi di meja makan" batin Varo.


"Pagi ma" Varo menyapa wanita kesayangannya itu dengan hangat. Saat ini dia berdiri dibelakang punggung sang ibu.


Bu Wiya tak menoleh, dia mengabaikan Varo. Sebenarnya dia telah mengetahui kalau Varo pulang kerumah. Satpam yang tadi malam bertugas telah memberi kabar kepadanya.


"Mama apa kabar? mama sehat kan?" Varo kembali memulai percakapan meskipun masih tak direspon.


"Mama sarapan pakai apa?" Varo menarik kursi duduk mendekat di sebelah mamanya.


"Pulang juga kau anak nakal, masih ingat jalan ke rumah ini" Bu Lidya menyindir putra satu satunya ini.


"Maafin Varo ma, pasti saat ini mama lagi marah banget sama Varo".


Lidya terus diam sembari menikmati sarapannya. Dia menunjukkan muka datar dan tak melihat putranya sama sekali. Hatinya sungguh sangat marah atas perbuatan Varo yang menentangnya.


"Ma, Varo mohon maafkan Varo, maafkan juga Rena, dia tak pantas mendapat semua kebencian kita ma" Varo memberanikan diri mengutarakan isi hatinya selama ini.


Brakkkkkk....


Wanita paruh baya yang anggun dan selalu tampak lembut itu meradang.


"Kalau kau pulang hanya untuk menyanjung anak pembunuh itu, sebaiknya pergi, mama tidak akan memaafkan dia dan keluarganya" bentak Bu Lidya.


Varo terkesiap, ternyata sang ibu tak jua berubah pendirian. Kebencian masih menguasainya.

__ADS_1


"Mama jaga kesehatan ya, untuk sementara Varo di apartemen, kalau mama sudah lebih tenang Varo kesini lagi" pemuda itu melangkah keluar rumah dengan hati luka.


Perjuangan didepan mata belum usai, bahkan tak nampak ujungnya.


.


.


.


"Siang mba, ada menu apa saja?, saya mau makan disini" sebuah suara menyapa Rena yang sedang repot diserbu pelanggan di hari pertamanya.


"Kak Varo" Rena menarik nafas lega akhirnya Varo muncul.


"Bantuin, hectic" rengek Rena.


"Siap mba Rena" segera Varo menggulung lengan kemejanya sampai siku, mengendurkan krah bajunya dan bersiap mengambil alih dapur kecil milik Rena.


Varo memang datang tepat waktu, tepat disaat jam makan siang dia mengunjungi warung milik Rena. Niat awalnya hanya mau memantau hari pertama Rena berwirausaha, tak disangka dia kebagian tugas juga.


Varo tersenyum sendiri saat sedang memasak mie instan pesanan para pelanggan.


"Rusak reputasi gue kalau ada yang tau ini" gumam Varo sambil cengir cengir.


Seorang chef yang terbiasa memasak di dapur mewah dengan peralatan serba mahal dan canggih, saat ini tengah memasak di sebuah dapur sederhana.


Pelanggan yang menikmati masakan buatan Varo biasanya adalah orang orang pilihan yang bersedia membayar sangat mahal untuk sepiring hidangan, tetapi sekarang, Varo memasak untuk para kuli bangunan dengan level rendah dan harga sangat murah.

__ADS_1


Namun Varo tampak sangat menikmati, pengalaman baru baginya, bersama Renata membuat hidupnya kaya warna. Varo merasakan hidupnya begitu bersemangat dan penuh sensasi. Sejenak Varo melupakan masalah yang melilitnya.


__ADS_2