
"Hai, kenalkan saya Varo, sedari tadi berada disini bersama rena" sindir Varo yang merasa diacuhkan.
"Gue Aldy, pengagum Rena" pemuda itu mengintimidasi Varo. Aura persaingan mulai ditebarkan di ruangan itu.
"Haha Aldy kamu ini masih saja seperti dulu, senang bercanda" Rena menengahi ketegangan diantara dua orang pemuda tampan itu.
"Kak Varo, Aldy ini salah satu sahabat aku yang paling baik, selalu ada saat aku dalam kesulitan" Rena merasa harus menjelaskan kepada Varo. Ada rasa takut Varo akan salah paham mengenai kedekatannya dengan Aldy.
Varo tersenyum tipis menanggapi Rena, hatinya masih belum tenang.
"Loe kenapa sih Varo, bodo amat dengan dia, gak perlu dipedulikan" umpat hati Varo.
"Loe gak boleh terbawa perasaan, loe gak boleh cemburu, ingat tujuan loe Varo" lagi lagi setengah hati pria itu berontak.
"Arghhhh, lama lama gue bisa gila" Varo mengusap kasar wajahnya sendiri, menghilangkan suara suara yang memenuhi otaknya.
"Kak Varo kenapa?" Aulia yang memperhatikan pria itu sedari tadi bertanya dengan tatapan aneh.
"Eh, tak apa apa, aku permisi keluar sebentar" Varo bergegas meninggalkan ruangan itu.
.
.
.
Varo melajukan mobil menuju restoran miliknya. Dia butuh menyalurkan emosi ke suatu kegiatan yang disenanginya.
Memasak, ya mengolah makanan menjadi sesuatu yang lezat selalu berhasil membuat moodnya kembali.
Varo saat ini masih tak tahu apa yang dialaminya, rasa yang dimiliki terhadap Rena sangat mengganggunya. Otaknya terus menyangkal kalau sebenarnya dia telah jatuh terbawa perasaan yang dalam kepada gadis itu.
Hampir setengah jam Varo berada di dapur VIP khusus miliknya. Tak sembarang chef bisa masuk kedalamnya. Hanya orang orang pilihan Varo yang boleh menyentuh benda benda yang ada di ruangan tersebut.
Tentu saja benda benda dapur mahal dengan harga selangit yang menghuni ruangan itu.
"Yes, selesai" Varo tersenyum puas melihat hasil makanan yang telah diolahnya.
Varo menata semua makanan yang dibuatnya dengan rapi didalam box kemasan. Varo berniat makan malam bersama Rena di rumah sakit. Tentunya makanan sebanyak ini tak akan bisa dihabiskan berdua. Satu rumah sakit akan kebagian hasil karya Varo.
Tak sampai satu jam, Varo sudah kembali sampai dirumah sakit. Sebelum masuk Varo mengintip terlebih dahulu kedalam ruangan Rena. Akhir akhir ini pria itu memiliki kebiasaan baru, yaitu suka mengintip.
__ADS_1
Varo melihat Rena sedang tertidur lelap di ranjangnya, sementara di sampingnya Aulia sedang membaca buku sambil menjaga Rena.
"Assalamualaikum" Varo mengucapkan salam dengan suara pelan agar tak membangunkan Rena.
"Waalaikumsalam" Aulia menoleh kearah sumber suara dan mendapati Varo disana.
"Silahkan kak" ajak Aulia menyambut Varo.
"Rena baru aja tidur kak, dokter memberi campuran obat kedalam infusnya, Rena bilang ke dokter tadi malam tak bisa tidur karena nyeri di kepalanya" tutur Aulia.
"Tadi saat aku datang, Rena bilang tak terlalu sakit, hanya luka kecil" jawab Varo tak percaya.
"Rena selalu gitu kak, apapun ditahan sendiri, selalu saja menyembunyikan perasaannya" terang Aulia.
"Kepalanya terbentur trotoar, gimana bisa dia baik baik saja" tambah Aulia lagi.
"Ya Tuhan" lagi lagi Varo kehilangan kata kata. Rena memang sekuat baja dan sekokoh batu karang.
"Bawa apa kak Varo?" Aulia mencium aroma lezat dari sebuah paper bag besar yang tadi dibawa sendiri oleh Varo.
"Aku bawa makanan untuk Rena, untuk kamu juga sekalian" jawab Varo.
"Duh perhatian banget sih kak, kak Varo ada hubungan apa sama Rena?" selidik Aulia.
"Pokoknya satu aja pesan ku, Rena itu pantas untuk disayang kak, jangan bikin dia sedih" Aulia berkata kepada Varo dengan serius.
"Kamu udah lama berteman dengannya?" tanya Varo lagi kepada Aulia.
"Dari kecil udah sahabatan sama dia kak, sama Aldy juga" jelas Aulia.
"Aldy itu teman Rena juga?" Varo kembali teringat pria yang tadi pagi datang dan disambut hangat oleh Renata.
"Iya kak Aldy, aku dan Rena udah bersahabat lama, bedanya Aldy punya rasa yang beda untuk Rena. Dia mencintai Rena dan berkali-kali mengungkapkan perasaan kepada Rena" jelas Aulia blak blakan.
Duarrrr....
Rasa cemburu dihati Varo semakin menggunung.
"Jadi sekarang status mereka apa?" tanya Varo tak sabar.
"Gak tau kak, yang aku tau Aldy melanjutkan kuliahnya di luar negeri. Kami sempat gak komunikasi selama dua tahun terakhir ini. Sekarang Aldy kembali lagi dan sepertinya rasa cinta untuk Rena masih disimpan Aldy" jelas Aulia.
__ADS_1
Kalimat penjelasan dari Aulia ini sukses membuat Alvaro panas dingin. Rasa kesalnya memuncak.
.
.
.
Varo tengah sibuk dengan laptop dan beberapa file yang dibawanya ke ruangan perawatan Rena.
Aulia telah berpamitan pulang karena ada keperluan keluarga. Wajar gadis itu dicari oleh orangtuanya, karena dia baru saja pulang dari rumah sang Oma di luar kota, bukannya pulang kerumah malah langsung ke rumah sakit menjaga Rena.
Varo duduk di kursi di samping ranjang Rena. Ruangan perawatan Rena ini adalah ruang rawat kelas bangsal. Ada lima orang didalam satu ruangan. Jadi para penunggu pasien hanya bisa duduk di samping ranjang, tak banyak ruang untuk privasi.
Rena menggeliat pertanda sudah terbangun dari tidurnya. Saat menoleh ke arah samping, dia terhenyak karena menemukan Varo yang sedang memandanginya.
"Kak Varo masih disini?" tanya Rena tak percaya.
"Iya, tadi datang lagi saat kamu tidur" jawab Varo.
"Ada yang sakit gak?, mau minum atau mau makan? biar aku bantu" Varo tampak sangat tulus hendak membantu.
"Haus kak" Rena bangkit hendak mengambil minum.
"Udah kamu diam aja, biar aku bantuin minum" Varo mencegah Rena bergerak.
"Terimakasih kak, maaf merepotkan" ucap Rena setelah menyelesaikan minumnya.
Varo tak menjawab, hanya mampu memberikan senyum dan tatapan lembut kepada Rena.
"Rena mau makan gak? aku bawa makanan spesial buat kamu" Varo teringat makanan yang dibawanya.
"Benarkah, hmmm pasti lezat masakan dari chef Varo" goda Rena.
"Tentu saja, ini dibuat spesial buat orang yang spesial" ceplos Varo.
Wajah Rena bersemu merah mendengarnya. Hubungan seperti apa ini? Rena dan Varo sama sama tak tau.
Rena begitu lahap memakan makanan lezat hasil tangan seorang chef handal. Tak sampai sepuluh menit, setengah dari bermacam-macam makanan yang dibawa Varo sudah berpindah tempat ke lambungnya.
"Kamu ya Re, badan kecil makannya banyak" goda Varo kepada Rena yang kekenyangan.
__ADS_1
"Enak banget kak, jarang jarang aku makan beginian" jujur Rena.
"Hahaha" mereka tertawa bersama. Tentu saja bukan tawa lepas, karena di ruangan itu banyak orang sakit.