
"Saya suami Renata" Varo saat ini sedang memperkenalkan diri kepada orang yang berada di hadapannya. Orang itu adalah Nathan. Varo tak menemukan kesulitan untuk menemukan kamar perawatan pria itu.
Kesan pertama kali saat Varo menemui mantan suami istrinya itu adalah rasa amarah bercampur kasihan. Pria berumur paruh baya itu tampak jauh lebih tua dari umurnya, badannya kurus dan pucat.
"Mau apa kau kesini?" Nathan menjawab salam perkenalan Varo dengan tatapan tegas meski kondisinya lemah.
"Menyelesaikan yang belum selesai antara kau dan Rena".
"Apa yang kau inginkan darinya? aku disini untuk menggantikannya" Varo tak berbasa basi menjelaskan maksudnya.
Nathan, pria kaya yang kejam itu hanya diam menatap tajam kearah Varo. Tak ada ucapan apapun yang keluar dari bibirnya.
"Tolong berikan ini kepadanya" Nathan akhirnya menyambung kembali ucapannya. Sebuah amplop berwarna coklat diambil dari nakas yang berada tak jauh dari posisinya berdiri.
Varo menerima pemberian dari rivalnya itu, raut wajahnya menyiratkan kebingungan.
"Saya ingin pergi dengan tenang, ini semua adalah hak Rena, tolong berikan kepadanya" suara pria tua itu terdengar lemah.
Brukkkk...
__ADS_1
Nathan tiba tiba ambruk dari posisinya. Varo tak sempat mencegah tubuh ringkih itu jatuh membentur lantai. Varo semakin panik tatkala mendapati darah segar mengalir dari hidung pria itu.
.
.
.
Varo gelisah menunggu dari balik pintu ruang tindakan tempat Nathan sedang ditangani. Ia tak menyangka kehadirannya kali ini semakin membuat rumit keadaan. Berbagai macam pikiran buruk menghantuinya. Bisa saja dia dituduh mencelakakan pria itu, ah entahlah semua terasa mengejutkan buat Varo.
Dalam keheningan suasana ruang tunggu, sebuah suara langkah kaki berlarian mengusik Varo. Suara seseorang semakin datang mendekat kearahnya.
"Bagaimana kondisi kakak saya?" pengacara Hitler mengeluarkan kalimat yang membuat Varo shock.
"Siapa yang anda maksud?" Varo tegas bertanya.
"Nathan, orang yang didalam saat ini, dia adalah kakak saya" pengacara Hitler menjelaskan dengan lugas.
"Oh Tuhanku, apa maksud semua ini" Varo mengusap kasar wajahnya. Rasanya tak percaya kalau orang yang membantunya menyelesaikan masalah selama ini ternyata adalah adik dari rivalnya.
__ADS_1
"Drttttt...drttttt" ponsel Varo berdering nyaring. Panggilan masuk dari sang istri membuatnya semakin panik.
"Rena pasti gelisah menunggu ku, tadi aku keluar dari rumah setelah bersitegang dengannya" Varo bermonolog sendiri.
"Halo sayang" Varo mengangkat panggilan Rena.
"Kak Varo dimana? kok gak pulang dari tadi?" suara Rena terdengar begitu sendu.
"Maaf sayang, aku lupa mengabari" Varo benar benar merasa bersalah.
"Kak Varo masih marah?" Rena membujuk suaminya.
"Tidak sayang, aku tak akan bisa marah kepadamu, maafkan aku tadi sedikit khilaf bertindak kasar kepadamu" sekarang gantian Varo yang membujuk Rena.
"Aku pulang sekarang ya" Varo mengambil keputusan demi membuat sang istri tenang.
"Iya, aku tunggu ya kak" Rena lega suaminya kembali bersikap manis.
Varo segera menemui pengacara Hitler untuk berpamitan sementara. Varo berjanji akan kembali lagi menemui keduanya, dan membahas semua yang pengacara Hitler rahasiakan selama ini darinya.
__ADS_1
Amplop coklat yang tadi diberikan Nathan sebelum pingsan digenggam Varo. Dia akan membukanya nanti saat bersama Rena.