Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Penderitaan Rena


__ADS_3

"Aih kamu jangan membahas tentang pribadi Rena, nanti dia kumat" Bu Indah langsung menegur sahabatnya itu.


"Ke..kenapa?" Bu Lidya tak mengerti.


"Nanti kita ngobrol, itu Rena udah kembali, jangan sampai dia dengar" Bu Indah mengakhiri obrolan mereka.


"Rena, masakan ini sungguh lezat, kamu hebat ya" puji Bu Lidya tulus.


"Terimakasih Bu, hanya masakan rumah biasa" Rena menjawab sambil membersihkan meja makan.


"Permisi ya Bu, Rena mau kasih susu buat Alif, udah waktunya minum susu" Rena pamit dari hadapan kedua wanita paruh baya itu.


"Alif siapa?" banyak sekali pertanyaan yang menggantung di pikiran Bu Lidya saat ini.


"Anaknya Rena" jawab Bu Indah.


"Duarr" Bu Lidya shock tak percaya.


.


.

__ADS_1


.


"Aku ingin tau cerita hidup Rena, tolong ceritakan" Bu Lidya terus mendesak Bu Indah. Keduanya saat ini tengah duduk bersantai di kamar milik Bu Indah pemilik yayasan itu.


Kamar ini adalah tempat yang paling aman untuk membicarakan hal penting, karena tidak ada orang yang berani masuk mendadak tanpa ijin dari pemiliknya.


"Rena itu pasien rumah sakit jiwa tempat anakku kerja. Dia korban kekerasan rumah tangga tingkat berat".


Bu Lidya menahan nafas mendengar berita menegangkan itu.


"Saat polisi menemukannya, kondisi Rena sekarat, hampir semua tubuhnya penuh luka, dan yang paling parah, dia sedang hamil besar, perutnya ditendang oleh suaminya, hingga menyebabkan pendarahan dan bayinya meninggal.


Rena mengalami trauma berat dan membutuhkan bantuan psikiater. Dia akan mengalami kesulitan bernafas saat mengingat masa lalunya.


Bahkan pernah beberapa bulan lalu gadis itu pingsan tak sadarkan diri karena melihat laki laki kejam yang menjadi sumber penderitaannya itu muncul di TV dan menyebut namanya.


"A..apa keluarganya tak ada? kenapa dia harus tinggal disini?" Bu Lidya terus mengumpulkan informasi.


"Sampai hari ini keluarganya tak pernah kami ketahui. Rena tak mau membahas. Kamipun tak berhak memaksanya. Apa yang dialami gadis itu sungguh luar biasa berat. Aku tak sanggup membayangkan seandainya itu terjadi pada Desi anakku" Bu Indah menutup pembicaraan.


Bu Lidya tak menyadari air matanya berlinangan. Tak pernah terpikirkan olehnya kalau seburuk itu nasib Rena setelah ditinggal Varo.

__ADS_1


"Alif itu anaknya siapa?" Bu Lidya kembali bertanya.


"Rena depresi berat karena melihat dengan mata kepalanya sendiri bayi merah tak berdosa meninggal di pangkuannya. Segala cara ditempuh untuk membuatnya pulih namun sia sia. Rena bagaikan mayat hidup, terus diam dengan pandangan kosong.


Hingga akhirnya suara tangisan Alif yang berada di sebelah kamar perawatannya mengembalikan Rena ke dunia nyata. Rena melihat Alif dan memeluknya. Anak itu kehilangan ibunya dalam persalinan.


Akhirnya tim dokter memutuskan Rena untuk merawat Alif, selain ikatan batin yang terjalin antara keduanya, kehadiran Alif pun mampu membuat Rena kuat menghadapi beratnya cobaan hidup" Bu Indah menjelaskan.


"Ya Allah, aku sangat berdosa" batin Bu Lidya tak bisa menahan rasa bersalahnya.


"A...apa Rena pernah menyebut nama seseorang yang pernah menyakitinya?" Bu Lidya masih berusaha berbicara dalam isaknya.


"Tidak, tidak pernah. Rena tak pernah mau membahas apapun lagi tentang masa lalunya. Entahlah apa yang dialami Rena sekarang, dia sangat tertutup dan banyak diam" tambah Bu Indah.


"Kamu sangat perasa ya, mendengar kisah Rena kamu bisa sesedih ini" Bu Indah mengungkapkan keheranannya.


"Aku gak sanggup membayangkan" Isak Bu Lidya.


"Iya, dia wanita paling kuat yang pernah ada, siapapun laki laki itu, pasti saat ini hidupnya tak akan bahagia, dia pasti sama menderitanya dengan Rena" kutuk Bu Indah.


Deg, wajah Bu Lidya pucat pasi. Dia takut Varo mendapat karma atas apa yang dialami Rena.

__ADS_1


__ADS_2