
"Kak Desi, pak Nathan itu datang lagi, dia mengirim orang untuk memaksa Rena kak" pagi ini Rena ditemani Desi di ruangan perawatan.
Gadis itu akhirnya dipindahkan dari ruangan UGD ke ruangan perawatan sampai nanti ada keputusan kapan kaki Rena akan dioperasi.
"Nathan itu mantan suami kamu yang...?" Desi tak berani melanjutkan ucapannya.
"Iya kak, buat apa dia cariin aku lagi" Rena gelisah.
"Tenanglah dek, nanti kita urus. Apa kamu mau kita melaporkan ke kantor polisi?
"Kenapa orang orang dari masa lalu Rena muncul lagi kak, apa dosa Rena hingga tak pernah lepas dari penderitaan" suara Rena terdengar begitu sendu.
"Tenanglah dek, jangan sampai kondisi mu drop karena mikirin ini semua" Desi kembali menasihati.
"Tringggg" rekaman terkirim.
Desi merekam semua pembicaraannya dengan Rena. Mengirimkan kepada Varo.
"Hai kamu, kalau mau bertanggung jawab, sebaiknya mulai dari membereskan orang yang disebut Rena ini, dia adalah mantan suami yang masih mengganggu" Rena menulis pesan kepada Varo.
Varo membaca dan mendengarkan pesan yang dikirim Desi. Saat ini dia tengah menunggu rekan bisnisnya untuk meeting membahas pekerjaan.
"Bagaimana keadaan Rena kak?" Varo membalas pesan.
__ADS_1
"Bolehkah aku datang menjenguk?" Varo kembali mengirim pesan.
"Coba saja datang, jika Rena mengusir maka pergilah, udah terlatih kan ditolak dan diusir?" Desi membuat emoticon mengejek.
Varo tersenyum tipis saat membaca pesan dari dokter baik hati itu.
"Semakin aku ditolak dan diusir, semakin kuat keinginan ku untuk memperjuangkan mu lagi Rena" Varo bermonolog sendiri.
Varo melupakan sementara lamunan tentang Rena karena rekan bisnis yang ditunggunya sudah datang. Mode serius mulai dipasang dan aura pebisnis tangguhnya kembali terpancar.
.
.
.
Rena sedang membaca buku untuk menghilangkan kejenuhan nya. Dia sendirian di ruangan karena dokter Desi sedang mengurus pasiennya yang lain.
Rena tak mau merepotkan adik adiknya di yayasan, karena itulah dia tak memperbolehkan mereka untuk datang ke rumah sakit menjaga Rena.
"Assalamualaikum" suara khas milik Varo menyapa dari arah pintu.
"Waalaikumsalam" Rena menjawab salam namun tak melihat kearah sumber suara. Dengan mendengar suaranya saja Rena sudah tau siapa yang mengunjunginya.
__ADS_1
"Boleh masuk?" Varo bertanya dengan sopan.
"Silahkan" Rena menjawab singkat.
"Bagaimana keadaan mu Re?" Varo berusaha terus mengajak Rena bicara. Agar gadis itu terbiasa dan jarak yang dibentang diantara mereka selama ini dapat dihilangkan.
"Seperti yang anda lihat, saya masih hidup" jawab Rena jutek. Dia terus membaca buku tanpa menoleh sedikitpun kepada Varo.
Varo menelan salivanya. Rena menakutkan.
Perhatian Varo teralihkan karena pesan masuk di ponselnya. Pesan dari Adam sang asisten yang memberitahukan perkembangan meeting yang baru ditinggalkannya tadi.
Varo fokus mengetik perintah untuk Adam lewat ponselnya, sehingga suasana menjadi sunyi senyap tak ada yang bersuara.
Rena mulai melirik kearah Varo yang sedang serius. Lama sekali dia memperhatikan wajah itu. Ada rindu yang tersimpan didalam hatinya. Tapi apalah daya, kekuatan benci lebih menguasainya.
Rena memfokuskan pandangannya kearah dahi dan sudut bibir Varo yang lebam. Rena mengingat luka itu. Saat preman suruhan mantan suaminya terlibat baku hantam dengan Varo. Luka itu pasti karena pukulan mereka.
"Kenapa Re? ada yang mau dibantu" Varo mengagetkan Rena.
Gadis itu salah tingkah karena ketahuan telah memperhatikan Varo diam diam.
Senyuman di bibir Varo tak dapat ditahan. Sikap Rena yang malu malu dan menunduk saat ketahuan memperhatikannya membuat secercah harapan muncul. Rena masih menyimpan sedikit maaf untuknya.
__ADS_1
Terlebih lagi saat ini Rena tak mengusirnya, ini sudah lebih dari cukup bagi Varo.