
Setelah menyelesaikan urusan administrasi rumah sakit, Rena diperbolehkan pulang dengan syarat tak boleh melakukan aktivitas berlebihan, karena bagaimanapun juga resiko kehamilan yang dihadapi Rena lebih tinggi dibanding ibu hamil lainnya.
Varo begitu over menjaga Rena kali ini. Dia tak membiarkan Rena berjalan menuju parkiran, Varo menyiapkan sebuah kursi roda agar Rena tak banyak melakukan gerakan.
Mobil yang dikemudikan Varo pun begitu lambat. Seolah olah sedikit saja guncangan akan mengganggu baby kesayangannya yang ada di rahim Rena.
"Kak kencang dikit jalannya, kasihan Alif" Rena geram sendiri dengan kelakuan Varo.
"Iya bumil kesayangan" Varo menciumi tangan Rena yang sedari tadi digenggamnya, rasa bahagia Varo membuncah tak terkira.
"Makasih ya sayang, gak ada yang lebih membuatku bahagia selain ini" Varo terus menghujani Rena dengan pujian cinta.
"Tuhan sangat baik sama kita ya kak, kita dikasih sesuatu yang bahkan sama sekali gak berani buat diminta" Rena terharu.
"Karena kamu selama ini juga begitu baik kepada semua orang, ini balasannya" Varo menjelaskan.
"Aku janji akan menjaga bayi kita dengan baik kali ini, aku gak akan mengulangi kesalahan yang dulu" Varo bertekad. Sekali lagi dia menciumi punggung tangan Rena sebelum akhirnya melajukan mobil lebih cepat menuju yayasan.
Sesampainya di yayasan, Bu Indah beserta anak anak yang sedang menunggu diluar terkejut dan panik melihat Rena pulang dengan menggunakan kursi roda.
Awalnya Rena bersikeras untuk berjalan sendiri namun sifat Varo yang tak bisa dibantah membuat Rena mengalah. Varo meminta Rena untuk tak banyak bergerak, pilihannya hanya naik kursi roda atau digendong Varo. Tentu saja Rena memilih pilihan pertama, karena akan sangat canggung di depan anak anak yayasan jika Varo menggendongnya.
__ADS_1
"Ya Tuhan, apa yang terjadi nak?" Bu Indah panik dan bertanya kepada Rena dan Varo.
"Ibu, sebentar lagi akan punya cucu kembali" Varo begitu bersemangat memberitahu kepada mertuanya apa yang terjadi.
"Ah sungguh keajaiban, terimakasih ya Allah" Bu Indah bersorak gembira mendengar kabar baik yang baru saja disampaikan menantunya.
.
.
.
"Bos cek rekening, gue udah transfer" sebuah pesan masuk dari Adam dibaca Varo. Saat ini pria itu tengah berduaan didalam kamar dengan sang istri.
"Apa maksudmu?" Varo yang penasaran segera menghubungi sang mantan asisten sekaligus sahabatnya itu.
"Lihatlah, cafe yang kau biarkan terbengkalai disini kembali kujalankan" Adam memamerkan situasi terkini di cafe V&R milik Varo yang ada di Australia lewat sambungan video.
Varo mengernyitkan dahi tak percaya. "Kau melakukan ini semua?".
"Aku dibantu madam Grace dan juga..." sebuah senyuman malu malu muncul di wajah Adam.
__ADS_1
"Hai Varo" sesosok wajah yang sangat dikenal Varo muncul dibalik layar ponsel.
"Kiara" Varo benar benar terkejut dengan apa yang dilihatnya.
"Aku selama enam bulan ini akan magang di rumah sakit negara ini, Adam sangat banyak membantu ku" Kiara yang lugu menceritakan kisahnya.
"Hmm aku paham"
"Berhati hatilah Kiara, pria itu tak mungkin mau membantu kalau tak ada yang diinginkannya" Varo mulai memprovokasi.
Varo memang telah mengetahui kalau dari dulu Adam menyimpan rasa istimewa buat kiara, dan dia ikut senang mengetahui kemajuan yang diraih sahabatnya itu.
"Sialan kau bos" Adam mengumpat perkataan Varo yang membuatnya malu dihadapan Kiara.
"Hahaha" Varo tertawa lepas melihat wajah Adam yang berhasil dipermalukannya.
Setelah mengucapkan terimakasih dan memberi beberapa perintah untuk terus mempertahankan kualitas, Varo memutus sambungan teleponnya dan kembali ke kamar menemui sang istri yang terlelap tidur.
Varo mengelus perut datar sang istri dan berbisik "terimakasih nak, kehadiran mu membuat rezeki ayah mengalir deras".
Varo juga langsung merayap ke bagian wajah sang istri.
__ADS_1
"Terimakasih sayang, kau membuatku jadi suami paling bahagia di bumi" sebuah kecupan di pipi dihadiahkan Varo.